Menyampaikan Pesan dari Seluruh Tribun yang Tak Pernah Mati: Semua ini Untukmu Persebaya

Ilustrasi Tribun yang Tak Pernah Mati (www.pinterest.com)

Ada satu hal yang selalu menjadi penghalang terbesar dalam sebuah perjuangan, yakni ketakutan. la selalu datang secara diam-diam, membungkam suara, melumpuhkan tekad, dan mematikan api dalam dada. Ketakutan akan “kekalahan” mampu melumpuhkan segalanya terutama dalam dunia sepak bola itu sendiri.

Sepak Bola Bagi Kami Bukan Sekadar Ketakutan

Mencintai dan memahami dunia sepak bola berarti sudah siap untuk tak sekadar menggandurungi kemenangan, jumlah trofi, atau statistik tim. Ketika seseorang menyebut dirinya suporter, ia merupakan bagian dari nyawa sebuah tim. Melalui chant dan dukungan yang membara. Ia mengisi ruang-ruang kosong bernama sepak bola.

Namun nilai-nilai itu dipertemukan dengan suasana ketakutan akan kekalahan atau ketakutan saling berebut tahta pertama di klasemen maupun menjauh sejauh-jauhnya dari zona degradasi. Ironis, tapi begitulah kenyataan yang sedang dirasakan para pendukung Persebaya setiap tahunnya. Persebaya bukan hanya sekadar klub. la adalah lambang perlawanan. la tumbuh dari sela-sela ruang tribun. Tumbuh dari peluh suporter yang rela menjual apapun demi selembar tiket, dari tangan-tangan yang membentangkan koreografı, dari suara yang tak pernah berhenti sejak menit pertama hingga peluit berakhir.

Ketakutan semacam itu tak menghambat keberanian kami. Justru itulah yang membuat sepak bola terasa hambar. Karena ketakutan itu semua bertolak belakang dengan gairah yang sudah dan selalu kami perjuangkan. Melalui lantunan puja-puji nyanyian, gerakan koreografi, dan tiap kilometer yang ditempuh demi mendukung tim kebanggaan Kota Pahlawan. Semuanya berkumpul dengan satu niat yakni “Mendukung Persebaya”.

Kami Menerima Kekalahan, Tapi Tidak Menerima Permainan Tanpa Semangat Juang

Bagi kami kemenangan bukanlah satu-satunya hal yang dielu-elukan. Justru yang lebih penting adalah sebuah keberanian. Keberanian untuk terus melakukan perlawanan. Kami bisa menerima kekalahan, namun yang sedikitpun tak bisa kami terima adalah permainan n tanpa semangat juang determinasi. Ditambah tak ada semangat yang membakar api dalam jiwa dan raganya.

Kehadiran kami justru untuk merasakan tangis, untuk marah, untuk merayakan, untuk jatuh cinta atau patah hati setelah usainya sebuah pertandingan. Kami tidaklah lahir semata dari sebuah kemenangan. Justru berdirinya kami di tribun, bahkan saat langit paling gelap menyelimuti Stadion Gelora Bung Tomo merupakan bukti kalau kami bukan pendukung musiman, pendukung yang akan datang saat tim sedang di puncak dan hilang saat terpuruk. Kamilah suara, warna, dan bara yang tak pernah padam.

Untukmu, kebangganku Persebaya.

Bermainlah di kasta manapun. Di puncak kejayaan atau bahkan di dasar keterpurukan, enyahlah itu semua, kami tetap di sini. Suara ini akan terus menggema, langkah ini akan selalu mengiringi. Karena kesetiaan kami tak diukur oleh posisi, tapi oleh cinta yang tak pernah habis. Sampai akhir hayat, kami akan menemanimu selalu.

 

Baca Juga: Harga Naik Lagi, Tiket Tak Terbeli

Avatar

Redaksi Nyangkem.id

Tulisan dari Redaksi Nyangkem.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *