Upaya Perpustakaan Medayu Agung Menyelamatkan Jejak Sejarah

Ilustrasi Perpustakaan Medayu Agung Surabaya (Sumber: Pribadi)

“Jika terima uang 1 M itu saya khawatir sejarah kita dipelintir dan saya akan menjadi penghianat bangsa.” Ungkapan tegas dari Pak Hwie saat diminta untuk menjual koleksinya ke luar negeri. Baginya, mengabdikan seluruh hidup untuk menyimpan koleksi paling berharga dari sejarah Indonesia adalah bentuk meneruskan semangat Bung Karno. Dari alasan itu, berdirilah Perpustakaan Medayu Agung Surabaya.

Perpustakaan yang Lahir dari Perlawanan

Berlokasi di Jl. Medayu Selatan, perpustakaan ini sudah berdiri sejak 1998. Ia bukan sekadar bangunan berisi buku, tapi sebuah ruang ingatan. Semua bermula dari perjuangan Oei Hiem Hwie dan kawan-kawannya sesama pejuang literasi. Mereka paham betul betapa rapuhnya jejak masa lalu jika tak dijaga.

Kini, ribuan koleksi tersimpan di sana: dari arsip harian Kedaulatan Rakyat edisi awal kemerdekaan, dokumen politik, majalah kebudayaan, hingga naskah asli Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Banyak di antaranya mustahil ditemui di perpustakaan umum manapun.

Digitalisasi Sebagai Jalan Ninja

Koleksi perpustakaan tidak hanya diamankan semata. Peninggalan sejarah berupa naskah penuh makna rentan rusak atau lenyap begitu saja. Maka jalan ninjanya adalah dengan mendigitalisasikan itu semua. 

Digitalisasi bukan sekadar cara mengamankan, tetapi juga memperluas akses. Dengan format digital, generasi muda bisa mengakses sejarah tanpa harus menunggu arsip fisik terbuka. Dalam era ketika semuanya serba “klik,” Medayu Agung menjawab dengan menjadikan literasi sejarah lebih inklusif.

Pamer Koleksi: Mengajak Masyarakat Menengok Diri

Pada 22–24 Agustus 2025 mendatang, Perpustakaan Medayu Agung bersama C2O Library & Collabtive akan menggelar kegiatan bertajuk “Pamer Koleksi.”

Tak sendiri, mereka berkolaborasi dengan Museum Sejarah dan Budaya Universitas Airlangga. Tujuannya yakni kembali mempertemukan koleksi digital perpustakaan dengan koleksi langka milik museum. Pameran ini bukan sekadar ajang “pamer benda kuno.” Lebih dari itu, ini merupakan usaha untuk melihat ulang siapa kita, dari mana kita berasal, dan mengapa sejarah perlu dipeluk erat.

Lebih dari Sekadar Perpustakaan

Di tengah euforia yang semakin tidak jelas ini, Medayu Agung mengajarkan bahwa ingatan kolektif butuh ruang aman. Bahwa literasi sejarah bukan barang kadaluarsa yang tak layak konsumsi, melainkan kompas untuk masa depan. Pak Hwie dan kawan-kawan menunjukkan pada kita: menjaga sejarah bukan semata tugas para orang tua. Ini merupakan tugas kolektif lintas generasi. Jika mereka memilih jalan menjaga, maka kita semua punya kewajiban melanjutkannya.

Bagi banyak orang, Medayu Agung bukan hanya tempat membaca buku lama. Ruang dimana mahasiswa, peneliti, seniman, jurnalis, bahkan anak-anak SMA bertemu sejarah secara langsung. Tak jarang, pengunjung datang bukan hanya untuk mencari data, tapi untuk mencari jati diri. Ada yang begitu terkejut saat melihat foto-foto peristiwa 1965, ada pula yang mendadak tergerak menulis setelah membaca majalah kebudayaan era 50-an. Semua pengalaman itu menjadikan Medayu Agung semacam “ruang percakapan” lintas waktu. Medayu Agung, dengan segala kesederhanaannya, telah melampaui definisi perpustakaan. Ia adalah rumah bagi banyak ingatan.

 

Baca Juga: Penerbit Lumpur Ajak Menghidupkan Puisi dengan Cara Tak Biasa

Avatar

Redaksi Nyangkem.id

Tulisan dari Redaksi Nyangkem.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *