Selodiri dan Puisi Lainnya Karya M. Najibur Rohman

Ilustrasi Selodiri dan Puisi Lainnya (www.pinterest.com)

Selodiri

di bukit itu orang-orang kuno

memanggul tandu

berdiri membatu

di atas punggung singa atau kuda

menuju nirwana

 

seekor kura-kura

bermata terang biru

pergi ke tenggara

berdiam di wuku

 

sapu lidi bertengger

di pohon tabu

menjadi nisan bagi kepulangan

yang enggan

 

tembikar merah

di dinding jurang

meraung-raung panas

pada jam 12

 

pundak gunung

meneteskan peluh

menjadi teluk baru

di sekujur ruh.

 

Dini Hari

dua gelas kopi, lolong burung hantu

tegak di tengah malam

membalut kepala

 

kata-kata fana

tergempur makna

tak bisa merdeka

 

layar menyala

dalam paragraf

dan koma masih terjaga

memperdaya

punggung dan mata.

 

 

Pledoi Buto Ijo

Yang kuingat hanya janjimu, Mbok Srini,

dalam tahun yang tersimpan di sakuku.

 

Pacta sunt servanda”. Janji telah menjadi

baja di antara kita.

 

Biji waktu menyemai sukacita

melalui dengus mungil

yang memanggilmu ibu

dan menambal retak dada

tersebab rumah hanya jadi duri

diri dan bayangan.

 

Kutuangkan air kebaikan dalam kolam cinta,

tapi “air susu dibalas air tuba”

dan segala keburukan

jadi muasal semesta.

 

Lukaku adalah nestapa menganga.

Bertubi-tubi orang menyebutku

penjahat dan tukang pesta.

Akulah musuh bersama

tanpa siapa bertanya.

 

Dalam kisah ini,

adakah keadilan untukku,

Yang Mulia?

 

Amsterdam

Ada degup dalam merah atlas.

Bangkit dari tubuh Amsterdam. Sejak lama.

 

Matahari menghitam. Menggeliat

dalam keringat para penjaga toko

yang berlalu lalang dengan rayuan:

Kami menjual apa saja selain kesedihan.

 

Lelaki tua berambut pirang

bertanya dengan geram:

Darimana orang-orang ini didatangkan?

 

Kota jadi sirkus petang.

Siapa punya gulden boleh tandang.

Bernyanyi-nyanyi. Memuja neon-neon malam hari.

Bergembira di bantaran kanal

sampai cahaya terbenam.

 

Dulu kapal berlayar dari sini.

Suar Orpheus mengalun di tengah para kelasi.

Bersulang sampai kepayang.

Menggoyang hati gelombang.

 

Dari Vincent kita menatap geliat

di meja makan.

Lampu minyak mengiris bayangan

dalam temaram.

 

Ada kabut dalam dingin Amsterdam.

Terperangkap dalam gigilku.

 

Temasek

di sini dulu cangkang belantara,

tempat para pemburu tetirah

sebelum menuju pulau-pulau

yang menghasilkan rempah

 

ialah telaga angin yang lahir

dari gundukan bau rawa

dan bacin ikan air tawar beradu

dengan lumpur kemarau basah

 

tak ada seorang pandir

yang bergumul dari benalu takdir

mewariskan silsilah di tanah asing

selepas dera perih dari seberang

 

tong-tong berarak di nota

para mu’allim yang memberi arah

bagaimana membaca cuaca dan bintang

saat harga barang ditakar-tentukan

 

anak lelaki dengan sepeda kecilnya

mengaduk udara yang kerontang

bertempur dengan keringat bata

menghabiskan hari tanpa dongeng senja.

 

Baca Juga: Tentang Pagi dan Puisi Lainnya Karya Pitrus Puspito

M Najibur Rohman

M Najibur Rohman

sesekali menulis puisi yang terbit di media cetak dan daring serta tergabung dalam sejumlah antologi bersama. Lahir di Rembang dan kini bermukim di Semarang. Instagram: @mnr_lib

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *