Selodiri
di bukit itu orang-orang kuno
memanggul tandu
berdiri membatu
di atas punggung singa atau kuda
menuju nirwana
seekor kura-kura
bermata terang biru
pergi ke tenggara
berdiam di wuku
sapu lidi bertengger
di pohon tabu
menjadi nisan bagi kepulangan
yang enggan
tembikar merah
di dinding jurang
meraung-raung panas
pada jam 12
pundak gunung
meneteskan peluh
menjadi teluk baru
di sekujur ruh.
Dini Hari
dua gelas kopi, lolong burung hantu
tegak di tengah malam
membalut kepala
kata-kata fana
tergempur makna
tak bisa merdeka
layar menyala
dalam paragraf
dan koma masih terjaga
memperdaya
punggung dan mata.
Pledoi Buto Ijo
Yang kuingat hanya janjimu, Mbok Srini,
dalam tahun yang tersimpan di sakuku.
“Pacta sunt servanda”. Janji telah menjadi
baja di antara kita.
Biji waktu menyemai sukacita
melalui dengus mungil
yang memanggilmu ibu
dan menambal retak dada
tersebab rumah hanya jadi duri
diri dan bayangan.
Kutuangkan air kebaikan dalam kolam cinta,
tapi “air susu dibalas air tuba”
dan segala keburukan
jadi muasal semesta.
Lukaku adalah nestapa menganga.
Bertubi-tubi orang menyebutku
penjahat dan tukang pesta.
Akulah musuh bersama
tanpa siapa bertanya.
Dalam kisah ini,
adakah keadilan untukku,
Yang Mulia?
Amsterdam
Ada degup dalam merah atlas.
Bangkit dari tubuh Amsterdam. Sejak lama.
Matahari menghitam. Menggeliat
dalam keringat para penjaga toko
yang berlalu lalang dengan rayuan:
Kami menjual apa saja selain kesedihan.
Lelaki tua berambut pirang
bertanya dengan geram:
Darimana orang-orang ini didatangkan?
Kota jadi sirkus petang.
Siapa punya gulden boleh tandang.
Bernyanyi-nyanyi. Memuja neon-neon malam hari.
Bergembira di bantaran kanal
sampai cahaya terbenam.
Dulu kapal berlayar dari sini.
Suar Orpheus mengalun di tengah para kelasi.
Bersulang sampai kepayang.
Menggoyang hati gelombang.
Dari Vincent kita menatap geliat
di meja makan.
Lampu minyak mengiris bayangan
dalam temaram.
Ada kabut dalam dingin Amsterdam.
Terperangkap dalam gigilku.
Temasek
di sini dulu cangkang belantara,
tempat para pemburu tetirah
sebelum menuju pulau-pulau
yang menghasilkan rempah
ialah telaga angin yang lahir
dari gundukan bau rawa
dan bacin ikan air tawar beradu
dengan lumpur kemarau basah
tak ada seorang pandir
yang bergumul dari benalu takdir
mewariskan silsilah di tanah asing
selepas dera perih dari seberang
tong-tong berarak di nota
para mu’allim yang memberi arah
bagaimana membaca cuaca dan bintang
saat harga barang ditakar-tentukan
anak lelaki dengan sepeda kecilnya
mengaduk udara yang kerontang
bertempur dengan keringat bata
menghabiskan hari tanpa dongeng senja.