
Antara Mulut dan Bahasa Indonesia
Pada suatu masa, protes atau demonstrasi di hadapan kekuasaan dianggap melawan, mengganggu, atau merusak revolusi. Orang-orang terlalu gencar memberi kritik atau membuat bara perlawanan berarti “musuh” atau “kontra” bagi agenda revolusi (belum selesai). Situasi pelik memuncak dengan tuntutan pembubaran partai politik dan perombakan kabinet. Malapetaka 1965 menjadi ingatan tentang “melawan”

