
Jika Tak Lagi Boleh Mendedahkan Curahan, Bagaimana Kita Bangun dari Kejatuhan?
Membaca tulisan berjudul “Kian Kritis, Semestinya Kian Malas Sambat” saya terasa kian malas sebenarnya untuk membalasnya. Bukan karena tak lagi penting, tetapi sebenarnya setelah membacanya berulang, agaknya justru malah membuat saya semakin greget— karena melihat beberapa kurang lagi memahami maksud-maksud saya yang termaktub dalam sebongkah esai yang saya tulis sebelumnya.





