DI GERBONG KERETA

Suasana seperti tidak biasa menyembunyikan remang-remang kekhawatiran seorang ibu yang menghantar anaknya untuk kuliah. Aku mendengar sebuah kata terlontar dari bibir sendu seorang ibu bahwa kali ini ia benar-benar tidak bisa melepaskan gadis kecilnya. Suara itu terucap disertai desak tangis yang mengiba. Namun, putri cantiknya tetap menguatkan dan berkata tidak ada yang perlu dicemaskan. Seketika sang ibu melepaskan jemarinya dari pundak gadis itu. Aku melihat sambil tersenyum sekaligus terharu, melepas perpisahan yang tak kutahu pertanda apa.

Aku pun menoleh melihat kereta yang akan berhenti tepat dihadapanku. Akhirnya! Setelah dua puluh delapan menit aku menanti aku berangkat juga. Aku melihatnya di kejauhan, kupikir mungkin dia mengenalku. Tapi tatapannya sedikitpun tidak mengenaiku, apakah ia benar-benar tidak mengenalku? Tak apa ini karena kami sudah lama tidak bertemu, mungkin itu membuatnya tidak mengetahuiku. Apakah semua begitu cepat? Tidakkah ia mengingatku? Aku yakin jika dia benar-benar lupa. Tidak boleh aku berprasangka negatif dengan sesuatu hal yang belum pasti. Eh……dia melihatku, kini lebih lama seperti mengamati. Alisnya sedikit terangkat, seperti menandakan jika dia sebentar lagi akan menyapa, melambaikan tangan, atau tersenyum. Aku ingin memanggil namanya diluan, tetapi tidak percaya diri. Kami masih berada di KRL yang sama melihat orang-orang mulai masuk ke dalam gerbong kereta untuk sampai ke tujuan.

Ponselku berdering, bos memanggil.

“Apakah ada kamu bawa berkas semalam yang saya minta?”

“Berkas yang mana pak?”

“Jangan bilang kamu tidak meng on kan ponselmu.”

OH MY GOD, aku baru sadar jika pesan yang tidak sempat terbaca olehku itu adalah pesan dari Pak Rembo. Gimana ini? Gara-gara taksi sialan itu aku harus kena sedor lava merapi pagi ini. Kalu diingat-ingat kejadian tadi malam memang ngeri. Sudah tahu jalan tol malam minggu ramai. Aku lembur pulang hampir jam sepuluh malam. Mana melewati pemakanan umum, si taksi malah kencang enggak karuan katanya buru-buru mau bertemu pacar untuk anivarsary. Ya mana urusanku, itukan masalah dia. Seharusnya, dia melayaniku sebagai penumpang. Malah membuat terbentur mengenai bangku depan. Bekas lebamnya sampai sekarang masih terasa. Kira-kira jika aku sampaikan masalahku apa Pak Rembo memaafkan. Jangan sampai aku kena teguran apalagi surat peringatan. Tapi ini meating penting. Mau tidak mau aku harus menyelesaikannya. Sesaat aku matikan jaringan agar terputus telepon, akhirnya aku aktifkan kembali. Daripada kabur sebagai pecundang, lebih baik menghadapi walau habis-habisan dimaki.

“Dasar tolol….gimana ini. Tanggungjawab,” benarkan apa yang aku katakan. Pria itu memaki aku. Selama delapan tahun bekerja di perusahaan ini, baru ini aku dimarahi. Ya….tidak masalah agar hidupku sedikit berwarna.

Akupun membuka laptop di tengah perjalanan. Bekerja siap siaga sudah biasa bagiku. Wajar jika Giwi jatuh cinta dengan lelaki tampan dan pekerja keras sepertiku. Yah… Giwi teman sekantor. Ia cantik, pintar, namun sedikit cetar membuatku takut jika berpacaran dengannya. Kalau nanti aku menjalani hubungan bisa selalu telat sampai kantor. Tahukan maksudnya. Iya, memang sih belum tentu dia melakukan itu padaku, walau aku laki-laki hanya menerima. Tapi, berdasarkan  pengalaman sesama kerja kantor, dia itu butuh perhatian lebih dari lelaki karena tidak memiliki sosok ayah sejak kecil. Yakin sih, Giwi anak baik-baik tapi sayang kecantikannya tidak membuatku tertarik. Di usia kepala tiga ini, aku masih sendiri, memilih adalah hal harus. Mencari cinta sejati bukan hanya soal kesetiaan, tetapi juga mendapatkan sosok ibu yang baik untuk anak-anakku, mengatur keungan dengan baik, agar ada persiapan untuk masa depan. Mencari yang sempurna memanglah kemustahilan. Pernikahan itu saling melengkapi juga memahami.

Aku terus mengetik tugas Pak Rembo. Langit masih cerah seperti biasa. Walau hujan belum mengguyur kota sejak tiga minggu lalu. Semua tampak diam dan fokus. Ada yang memandang keluar, tertidur dengan musiknya, tenggelam pada buku-buku mereka, dan aku yang menyelesaikan pekerjaan sekilat cahaya mentari yang melintas. Tidak sulit, bisa selesai sebentar lagi. Mencari bahan di era canggih ini tidak ada istilah untuk mengeluh. Pemalas adalah perbuatan yang aku hindari. Suara informasi dari dalam kereta mengatakan bahwa stasiun tujuan segera tiba. Hmmm dan akhirnya tugas ini aku kirimkan melalui Whatsaap dalam bentuk PDF beserta power point. Pintu terbuka, laptop segera aku tutup dan masukkan ke dalam tas. Di mana gadis itu, aku tak lagi meliahtnya. Sepertinya pengamatannya tidak berhasil mengenalku. Hmmm yasudah aku turun saja.

“Haii….Alvi?”

Aku terperangah dan terkejut dia benar-benar mengenalku. Wajah itu dapat aku pandang lebih dekat. Masih manis walau kulitnya lebih glowing daripada dulu.

“Eh Maya…..apa kabar?” Tanyaku basa basi.

“Aku baik, kamu gimana?” Tanyanya sambil tersenyum. Itu yang aku suka darinya. Ia tetap menunjukkan wajah ramahnya dalam segi apapun, termasuk saat berbicara. Siapapun yang ngobrol dengannya akan nyaman dan betah berlama-lama.

“Seperti yang kamu lihat May,” jawabku sambil mengangkat kedua tangan.

“Biasa aja, masih kurus. Hahahaha,” ucapnya sambil tertawa canda.

Kamipun mengobrol sambil jalan. Dia bekerja sebagai pegawai kontrak di dinas pendidikan kota. Kedua orangtuanya telah berpisah lima tahun lalu. Setahuku memang Maya sudah lama dengan kondisi keluarga broken home. Kudengar ayahnya berselingkuh dengan teman sekantor, kini Maya hanya tidak bertiga dengan ibu dan adiknya.

“Eh maaf aku ditelepon dari kantor. Angkat bentar ya May.”

“Oke angkat aja.”

Astaga, aku lalai ternyata terlambat dua puluh delapan menit. Keasyikan mengobrol dan membicarakan masa lalu membuatku akhirnya segera berlari menuju kantor. Banyaknya kendaraan yang berlalulalang menyulitkan arah jalan untuk sampai. Debu-debu berhamburan menghunus lubang hidungku hingga penapasanku terjebak untuk menghela. Bagaimana jika aku sampai kena mobil kencang hingga terbujur kaku di jalan ini. Aku terus berlari sambil memegang dompetku agar tidak terjatuh. Ponselku…ponselku aku sejenak berhenti sambil meraba saku celana karena tiba-tiba menghilang saat aku genggam. Sial….ternyata dalam tasku. Panik ini tidak karuan dan lihat!  Dari bawah aku melihat kaca jendela di lantai tiga, orang-orang pada memenuhi tempat.

“Pak permisi.”

“Lo Alvin tumben kamu terlambat, biasa cepat ayo itu mau dimulai,” kata Jono bertugas sebagai satpam di lobi satu.

“Eh iya pak, ini di jalan biasa pak luar biasa ramainya.”

“Oalah….. yaudah segera naik pak. Sepertinya udah ditunggu.”

“Ok pak, terimkasih ya.”

Menaiki tangga memang melelahkan. Jika melalui lift akan bertambah parah telat. Biarlah basah berkeringat agar Pak Rembo si kumis itu tahu jika aku benar-benar sedang disulitkan untuk tiba ke kantor. Keringat mengucur deras hingga mengenai pelipisku. Pintu ruang rapatpun sampai.

“Permisi pak.”

Mata besar Pak Rembo menyerangku. Tapi aku tak peduli berpura-pura saja tidak tahu. Aku langsung duduk dan memperkenalkan diri kepada investor hingga usai rapat, aku segera berlari sambil tersenyum ketakutan melihat Rembo lalu berlari menuju kantin untuk minum kopi. Semua tuntas dikerjakan. Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Orang-orang pada berpulangan. Tinggal aku dan gedung ini yang sepi. Aku pulang, membawa badan lelah. Lihatlah sesampai di stasiun, aku melihat Maya menyapaku dengan melambaikan tangan. Kami kembali mengobrol, paras teduhnya itu menghilangkan kejenuhan. Kulit sawo matang dengan gigi kelinci yang tersenyum manis, membuatku teringat saat ia menolakku sembilan tahun yang lalu sewaktu SMA. Dengan ucapan lembut dan bermoral, ia mengatakan bahwa keluarga adalah lebih penting dari dirinya. Ia tak ingin mengenal cinta dulu, biarlah ia bekerja membantu perekonomian keluarga. Tapi, kurasa tak ada salahnya kembali mencoba. Malam itu juga kami saling bertatapan. Kuminta kembali nomor teleponnya hingga kami tutup dengan ucapan selamat malam. Ia masuk ke gerbong kereta yang berbeda denganku. Aku menelponnya, setelah di dalam kereta kami mengobrol melanjutkan pembicaraan tadi. Namun….semua lenyap begitu saja, ia pergi bersama belasan korban lain karena kecelakaan kereta api yang kami naiki. Betapa aneh bukan…setelah pertemuan ini kami dipisahkan begitu cepat. Tak ada firasat apapun. Bukankah jika sesuatu terjadi akan adanya pertanda. Pertanda macam apa yang diperlihatkan. Cinta? Masa lalu? Itu begitu sakit. Maya walau ia lama tak kutemui, bayang-bayangnya masih kueja dalam percikan doa-doa dan hikayat malam saat bintang menerangi. Memandang kejora aku seperti berada di dekatnya. Mengapa semua begitu sekejab. Kupikir, ini adalah akhir dari masa kesendirianku. Yang kutahu, pertemuan adalah awal dari cerita baru. Barangkali, cerita baru yang dimaksud adalah ketulusan.

Maya….saat kulihat tangisan ibu dan adiknya, kusaksikan potret lama di cermin kamarnya, yang di mana aku disispkan dalam mimpinya. Ada kata-kata yang tertulis Seandainya waktu bisa kembali, aku ingin menjelaskan betapa inginnya aku menjadi miliknya di dunia manapun  sebuah puisi itu kutangkap dalam remang-remang malam duka. Mobil polisi tiba di depan rumah. Membawa tas berisi dokumen sebuah surat keputusan pengangkatan dirinya. Ia…sebelum pulang ia bercerita padaku bahwa ia baru saja mencapai mimpi. Tapi, mimpi ini tak usai begitu saja, semua orang tahu kisahmu Maya.

Baca Juga

Ilustrasi Gigs (www.pinterest.com)
DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777