Day: April 26, 2026

Jadi Mahasiswa Kritis Itu Capek, Kalau Teman Sekelasnya Sensitif

Jujur saja, sebagaimana judul pada tulisan ini. Jadi mahasiswa kritis itu ga asik, apalagi kalau teman sekelasnya sensitif. Tak hanya sekali-duakali, saya mencoba melontarkan pertanyaan setelah presentator membuka sesi tanya jawab di kelas perkuliahan. Sudah nawaitu banget mengungkapkan antusiasme atas topik materi yang disampaikan oleh presentator dan bahkan tak jarang

Selengkapnya »

Pengalaman Jadi Admin Jurnal, Ketika Mahasiswa Lebih Percaya Joki daripada Website Resmi

Beberapa perguruan tinggi di Indonesia menetapkan publikasi artikel ilmiah sebagai syarat kelulusan mahasiswa. Tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa sebab penerbitan artikel membutuhkan proses yang cukup panjang. Selain itu, ternyata tidak semua mahasiswa memahami proses menerbitkan artikel ilmiah. Kenyataan tersebut saya temui langsung selama menjadi tim pengelola jurnal. Sudah lebih

Selengkapnya »

Literasi Bencana dan Psikologi Respons: Siap di Teori, Gagap di Realitas

Setiap tahun, 26 April menjadi peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana. Sebuah momentum yang seharusnya mengajak kita untuk meninjau kembali cara kita memaknai kesiapan menghadapi krisis. Sayangnya, wacana mengenai manajemen pra-bencana di Indonesia tidak jarang terjebak pada pengadaan teknis teknologi pemantauan sensoris yang seakan dapat menghalau atau menghentikan bencana. Padahal, karakteristik bencana

Selengkapnya »

Perempuan yang Memetik Bintang untuk Ibunya-Cerpen oleh Depri Ajopan

Mereka memperhatikan saya yang melangkah gontai melewati lorong sempit itu, kemudian menerobos masuk ke dalam hutan membawa hati yang terguncang. Angin kencang yang berhembus menyeret debu jalanan menerpa pohon-pohon besar yang berjejer, rantingnya meliuk-liuk. Rambut saya yang tergerai diterjang angin menutup kecantikan saya.  “Mishel, kau mau ke mana? Kau lihat

Selengkapnya »

Jadi Guru Honorer: Mengabdi Sepenuh Hati, Digaji Sepenuh Ikhlas

Profesi guru kerap diidentikkan dengan kemuliaan gelar “pahlawan tanpa tanda jasa”. Gelar indah nan superior tersebut justru berkebalikan dengan realita di lapangan yang sering kali jauh panggang dari api. Terutama ketika kita menyoroti secara khusus isu tentang nasib para pendidik berstatus honorer. Saya kadang sampai kehabisan kata-kata merenungkan kenyataan ini.

Selengkapnya »