Jangan mengira ini adalah esai kritik ke kampus top empat Indonesia. Tentu bukan. Ini lebih semacam catatan kebanggaan saya sebagai mahasiswa kampus Universitas Negeri Agama Islam Raya atau kita sebut akronimnya menjadi UNAIR saja.
Sebab di kampus ini saya tak perlu kerepotan menemukan sarana pra sarana peribadatan yang mumpuni. Di setiap fakultas kebanggaan kami, disediakan sekurang-kurangnya tiga petak ruang khusus salat untuk menjembatani kebutuhan civitas akademika yang beragama Islam.
Kampus ini akibat saking Islamnya—mahasiswa tak perlu repot-repot syahadat untuk menyatakan identitas kemusliman mereka. Ya karena sudah jelas kok, tidak ada yang beragama non muslim di sini. Hal ini jelas nampak dalam laman website resmi, fasilitas ibadah yang disediakan terdiri dari tiga masjid utama disertai mushola.
Apakah ada pura, vihara, gereja, apalagi bilik rumah ibadah lain tertulis di dalamnya? Nyaris tak ada. Inilah yang kita sebut sebagai bentuk kesetiaan pada Tuhan yang Esa itu sendiri. Selaras dengan namanya, Universitas Agama Negeri Islam Raya.
Alhasil kami mengalami pengamalan yang cukup unik dalam memandang perbedaan, betul. Kami tak perlu kerepotan bicara toleransi atau berdebat serius soal apakah harus ada kelompok agama lain yang dijembatani hak serta kewajiban beribadah mereka—sebagai representasi pengamalan pancasila sila pertama.
Duh, tidak. Andai saja Soekarno dan Hatta mangkir dari kubur lalu melawat para generasi pemuda-pemudi mereka di Surabaya—misalnya—mereka tak perlu membaca kembali pidato interpretasi tafsir teologis Ketuhanan yang Maha Esa dengan tetek bengek ndakiknya yang sampai diniati panjang lebar melalui buku Hatta Jalan Lurus Pancasila (1969), Pengertian Pancasila (1977), dan Uraian Pancasila (1977) untuk menyempurnakan interpretasi pancasila 1 Juninya Soekarno.
Dengan demikian anda tidak akan menemukan mahasiswa kami harus bersikukuh soal apakah ada pelanggengan diskriminasi struktural yang nggeser dari prinsip pancasila dan UUD 1945 Pasal 28E ayat (1) dan Pasal 29 ayat (2) soal hak beribadah. Dengannya anda juga tidak akan mendapati diskursus mengenai keberagaman yang begituan apalagi pandangan bagaimana ketuhanan sendiri mewadahi prinsip sosial soal bertenggang rasa dan berkeadilan. Semua orang sepaham.
Sebab sekali lagi, kami para civitas akademika di sini sudah tunggal identitasnya. Kebanggaan itu tercermin melalui slogan HEBAT. T-nya itu Trancendent. Prinsip spiritualitas yang demikian khas tersebut, sehingga dalam manifestasi luhurnya. Kami mengamini Islam adalah kebenaran tunggal beserta ruang-ruang ibadahnya.
Kebetulan Non Muslim hanya Mahasiswa Nangkring Identitas
Oleh prinsip Islam yang mengayomi itu juga kita masih bisa mendapati ratusan hingga ribuan mahasiswa non muslim yang langgeng sebagai status mahasiswa yang kalau dalam asumsi saya, memang agaknya mereka sebatas nangkring empat tahun. Inilah yang menyebabkan identitas mereka sudah keduluan tak tampak dan ya sudah dianggap Islam saja sekalian sebagaimana penjelasan saya di awal.
Toh cuma sebentar di kampus, empat tahun.
Paling banter mahasiswa Hindu satu angkatan hanya berkisar 60-75 orang. Jadi kalau dijumlahkan tiga angkatan misalnya, ya paling tidak menyentuh angka 200. Tidak cukup banyaklah. Pun begitu dengan porsi mahasiswa Buddha dan agama-agama lainnya. Alhasil, saya pun sepakat tentu akan sangat merepotkan apabila kampus negeri Islam harus memikirkan seluruh identitas mahasiswanya secara setara.
Untungnya persoalan itu berhasil disederhanakan lewat arsitektur ruang yang sejak awal paham baik siapa mayoritas yang layak difasilitasi. Meski demikian jangan salah, seperti yang telah saya singgung. Mahasiswa non muslim di sini sangat tahu betul toleransi adalah perihal ihwal yang tidak perlu diperdebatkan.
Itu kita temui bagaimana relasi mahasiswa non muslim (read: mahasiswa nangkring) di kampus ini tampaknya telah mencapai tingkat spiritualitas yang lebih tinggi dibanding mahasiswa lain yaitu mereka mampu beribadah tanpa ruang ibadah.
Sebuah pencapaian asketis yang barangkali belum pernah dibayangkan kementerian agama. Mereka tidak memerlukan pura, vihara, gereja, maupun ruang teduh kecil untuk sekadar menjalankan keyakinannya. Sebab sebagai minoritas yang baik, mereka tampaknya paham bahwa keberagaman paling ideal adalah keberagaman yang tidak merepotkan mayoritas.
Darinya berdasar pernyataan seorang mahasiswa. Sebut saja bernama Kasih Biru. Darinya, saya mampu menangkap implementasi toleransi sejati. Ia menyingkap, “Mungkin karena udah terlalu biasa ga disediain tempat untuk ibadah di lingkungan kampus dkk. Dan kalo kubahas pun takutnya malah jadi problematik.”
Situasi demikian dapat kita pahami sebagai suatu keadaan di kala tata ruang, fasilitas, dan simbol institusi secara tidak langsung membentuk garis pemisah. Kampus akhirnya menghadirkan ruang yang begitu akrab bagi sebagian kelompok, namun terasa asing bagi sebagian lainnya.
Akibatnya, mahasiswa non muslim tetap hadir sebagai angka dalam data penerimaan mahasiswa baru. Tentu sebagai pengakuan dan legalitas. Sementara di waktu bersamaan seolah terlepas dari imajinasi institusional kampus.
Mereka tercatat sebagai civitas akademika, namun kebutuhan spiritualnya tidak sungguh-sungguh dibayangkan sebagai sesuatu yang perlu diakomodasi. Sementara yang jauh lebih menarik adalah tiada kegaduhan berarti. Seolah saya pun sebagai mahasiswa dengan posisi berlabel Islam sudah terlanjur mapan nan nyaman akan atribusi keislaman yang disertai fasilitasnya. Saya tak kemudian menakar adakah mahasiswa lain yang di awal asumsi sebagai mahasiswa nangkring tetap menyimpan satu hak yang sudah seharusnya dipenuhi kampus.
Duh, memang Universitas Negeri Agama Islam Raya ini terlanjur sangat mencintai keislamannya. Saya juga enggan berkomentar jauh. Toh sesuai namanya. Memang Universitas Islam.
