Dari Tribun ke Jalanan: Di Mana Kelas Menengah Surabaya dalam Gerakan Rakyat?

Sebagai kota yang khas dengan pergerakan, mengapa energi protes yang begitu besar belum selalu berubah menjadi gerakan masyarakat yang lebih luas?

Belakangan, gerakan di Pati menjadi parameter bagi gerakan-gerakan lain di berbagai penjuru kota, sekaligus menggugah masyarakat akar rumput di desa-desa. Memandang gerakan di Pati, maka sudah seperlunya Surabaya perlu mempertanyakan posisinya. Sebagai kota yang khas dengan pergerakan, mengapa energi protes yang begitu besar belum selalu berubah menjadi gerakan masyarakat yang lebih luas?

Pertanyaan itu menggeser kita pada satu kelompok yang sering luput dibicarakan yaitu kehadiran kelas menengah. Dalam sebuah wawancara tertulis di koran, Ariel Heryanto memandang kelas menengah sebagai kelompok yang berada di antara pemilik modal dan buruh atau pekerja kasar. 

Ia memasukkan intelektual, seniman, wartawan, manajer, dan mahasiswa ke dalam kategori tersebut. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kelas menengah bukan kelompok yang seragam. Tidak ada satu faksi yang secara inheren lebih progresif daripada faksi lainnya. Watak politiknya terbentuk melalui perjumpaan dengan konteks sosial yang dihadapinya.

Artinya, mahasiswa tidak otomatis menjadi motor demokratisasi hanya karena mereka mahasiswa. Begitu pula intelektual, profesional, seniman, atau kelompok masyarakat perkotaan lainnya. Masing-masing memiliki kemungkinan untuk bergerak ke arah yang berbeda. Pada satu situasi dapat menjadi pembawa aspirasi kelompok atas, pada situasi lain justru dapat membawa aspirasi kelompok bawah.

Pada konteks inilah Surabaya perlu melihat kembali posisi kelas menengahnya. Aksi-aksi demonstrasi di Surabaya masih banyak didominasi mahasiswa yang bergerak melalui organisasi kemahasiswaan dan jaringan masing-masing. Keberadaan mereka tentu penting. Namun, jika kelas menengah begitu plural, mengapa ruang gerak gerakan masyarakat masih kerap dibayangkan melalui satu kelompok saja?

Maka kita bisa menggeser suatu asumsi dari pertanyaannya yaitu titik krusial gerakan supporter bola di Surabaya. Suporter memiliki dinamika yang tidak selalu dimiliki organisasi formal misalnya adanya ruang berkumpul yang hidup, jaringan yang luas, identitas kolektif, dan pengalaman panjang dalam membangun solidaritas.

Tribun juga tidak melulu merupakan tempat untuk menyaksikan pertandingan. Ia adalah ruang sosial tempat orang-orang bertemu secara berulang, membangun rasa memiliki, mengenali satu sama lain, dan membentuk identitas kolektif.

Olehnya dari tribun kita mengenali bagaimana solidaritas tidak selalu lahir dari kesamaan latar belakang

Orang-orang dengan pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari yang berbeda dapat berdiri di bawah identitas yang sama. Karena itu, suporter tidak semestinya hanya dibaca sebagai suatu kumpulan massa atau kelompok yang hadir ketika pertandingan berlangsung.

Mereka adalah bagian dari masyarakat kota yang memiliki keresahan, kepentingan, serta kemampuan untuk mengorganisasi diri. Sepak bola, dalam hal ini, bukan sekadar olahraga. Sepak bola bisa menjadi penyedia  infrastruktur sosial yang memungkinkan solidaritas tumbuh dan dipelihara.

Tentu, bukan berarti seluruh suporter harus ditempatkan sebagai kelas menengah. Kategori tersebut terlalu kompleks untuk disederhanakan berdasarkan identitas sebagai suporter. Namun, ekosistem suporter dapat menjadi salah satu ruang sosial tempat berbagai kelompok kelas menengah perkotaan berjejaring, membangun solidaritas, dan berinteraksi dengan kelompok masyarakat lainnya.

Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar apakah suporter akan turun ke jalan. Pertanyaan yang lebih menarik adalah perihal apa yang dapat dibawa dari tribun ke ruang publik?

Sebab, pengalaman solidaritas di tribun sebenarnya telah mengajarkan satu hal penting mengenai gerakan tidak selalu harus dimulai dari kesamaan kepentingan. Gerakan bisa mulai ketika ada kesepakatan serta kesediaan untuk hadir dalam ruang yang sama, membangun rasa memiliki, dan menemukan identitas bersama.

Keresahan masyarakat Surabaya pun sesungguhnya tidak tunggal. Buruh memiliki persoalan mengenai pekerjaan dan penghidupan. Pedagang kecil menghadapi tekanan ekonomi. Komunitas kampung berhadapan dengan persoalan ruang hidup. Nelayan menghadapi persoalan pesisir. Mahasiswa memiliki kegelisahan terhadap kebijakan negara. Suporter memiliki keresahan sebagai warga kota. Seniman, akademisi, pekerja profesional, dan kelompok masyarakat sipil pun memiliki persoalannya masing-masing.

Persoalannya bukan siapa yang paling layak berdiri di depan. Sebab, sebagaimana diingatkan Ariel Heryanto, kelas menengah sendiri memiliki kepentingannya masing-masing. Namun, perjuangan satu kelompok tidak selalu berhenti pada kelompok itu. Perjuangan wartawan untuk mempertahankan kebebasan pers, misalnya, dapat berimbas kepada petani, pedagang kecil, buruh, dan kelompok masyarakat lainnya.

Dengan demikian, yang perlu dicari bukan satu kelompok yang paling progresif, melainkan titik temu yang memungkinkan berbagai kelompok bergerak bersama. Ariel Heryanto sendiri menegaskan bahwa tidak ada satu faksi dalam kelas menengah yang secara inheren lebih progresif daripada faksi lainnya. Bahkan gerakan mahasiswa memiliki sifat yang temporal dan bertumpu pada kesukarelaan.

Dalam konteks Surabaya, tribun sepak bola dapat menjadi salah satu ruang untuk memikirkan kemungkinan tersebut. Bukan karena suporter harus menggantikan mahasiswa, buruh, atau kelompok masyarakat lainnya. Justru sebaliknya, karena pengalaman yang tumbuh di tribun menunjukkan bahwa orang-orang dengan latar belakang berbeda dapat membangun solidaritas melalui sebuah identitas bersama.

Karena itu, pekerjaan rumah gerakan rakyat bukan semata-mata soal keberanian turun ke jalan. Satu hal yang perlu dikuatkan sebagai landasan adalah bagaimanamenjamin ruang perjumpaan yang berkelanjutan, pertemuan berbagai komunitas yang mampu berdialog akan kepentingan masing-masing, dan kemudian dapat menemukan titik temu di antara kepentingan yang berbeda itu pula. 

Meski begitu, kelas menengah tidak harus ditempatkan sebagai juru bicara bagi semua orang, apalagi sebagai penyelamat kelompok bawah. Posisi mereka justru dapat menjadi salah satu ruang penghubung antarkelompok masyarakat. Begitu pula suporter tidak perlu menunggu dipanggil untuk menjadi bagian dari persoalan publik. Mereka sudah memiliki ruang, jaringan, dan pengalaman solidaritas yang dapat menjadi modal sosial untuk berinteraksi dengan persoalan yang lebih luas.

Pada akhirnya, Surabaya tidak kekurangan ruang untuk berkumpul, ruang resah, ruang kegelisahan, sebab Surabaya terdiri dari berbagai elemen pembentuk. Mulai dari kampus, kampung, pasar, tempat kerja, komunitas, dan tentu saja tribun sepak bola. Tantangannya adalah bagaimana ruang-ruang tersebut tidak berjalan lagi sendiri-sendiri dan persoalan ini tetap memerlukan gerakan solidaritas yang besar. 

Editor: Suli Karsa

Baca Juga

Ilustrasi Gigs (www.pinterest.com)
Ilustrasi Pinterest
Picture of Kusnul Khuluq

Kusnul Khuluq

Menjadi manusia yang berguna lalu mati
DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777