Pernah nggak, sih, kalian jalan-jalan di Purwokerto, lalu merasa bahwa setiap beberapa meter menjumpai coffee shop baru? Ada yang mengusung konsep industrial, minimalis, sampai tempat ngopi dengan lampu temaram yang cocok buat foto-foto. Rasanya, kalau ada lahan kosong sedikit saja, tinggal tunggu waktu sampai muncul tulisan coming soon di depannya.
Sebagai Mahasiswa rantau yang cukup sering melihat kehidupan Purwokerto, saya merasa kota ini sedang mengalami perubahan kecil yang menarik. Dulu, mencari tempat nongkrong mungkin cukup ke angkringan atau warung kopi sederhana. Sekarang, pilihan tempat ngopi semakin banyak, lengkap dengan Wi-Fi, pendingin ruangan, dan kursi yang seolah sengaja dirancang agar pengunjung bisa betah berjam-jam.
Apalagi Purwokerto punya banyak mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Kehadiran mereka membuat coffee shop bukan sekadar tempat jual beli kopi, keberadaanya juga pas untuk sekadar mengerjakan tugas, rapat organisasi, menyelesaikan pekerjaan, atau sekadar melarikan diri sebentar dari penatnya kehidupan. In this economy dan upah yang pas-pasan, apakah ngopi di coffee shop sudah menjadi kebutuhan, atau jangan-jangan kita sedang berusaha terlihat mampu menjalani gaya hidup yang sebenarnya belum tentu mampu kita biayai?
Purwokerto dan Lahan Kosong yang Selalu Punya Calon Coffee Shop
Menjamurnya coffee shop di Purwokerto memang tidak bisa dilepaskan dari perubahan cara orang menikmati kopi. Kopi yang dulu identik dengan warung sederhana kini hadir dalam berbagai rupa, mulai dari espresso, manual brew, sampai minuman susu dengan aneka sirup yang namanya kadang lebih panjang daripada daftar belanja bulanan.
Bagi mahasiswa, coffee shop menawarkan sesuatu yang tidak selalu tersedia di kamar kos, yakni suasana. Ada Wi-Fi, colokan listrik, meja yang cukup luas, dan kebebasan duduk berjam-jam selama tidak lupa memesan sesuatu.
Saya bisa memahami mengapa tempat-tempat seperti ini mudah menarik pengunjung. Mengerjakan tugas di kamar kos kadang berakhir dengan tidur siang, sedangkan duduk di coffee shop bisa membuat pekerjaan terasa lebih serius, meskipun sesekali perhatian justru pindah ke obrolan meja sebelah. Masalahnya, semakin banyak tempat ngopi, semakin banyak pula pilihan yang menggoda. Hari ini mencoba kedai baru di dekat kampus, besok penasaran dengan tempat yang baru buka, lusa ikut teman karena katanya kopinya enak dan tempatnya estetik.
Tanpa terasa, kegiatan yang awalnya sesekali bisa berubah menjadi rutinitas. Apalagi ketika nongkrong bukan lagi sekadar soal kopi, melainkan juga soal pertemanan, produktivitas, dan kebutuhan untuk tetap mengikuti perkembangan lingkungan sekitar.
Sekali-kali Nggak Apa-Apa
Mari kita bicara soal angka. Berdasarkan riset yang menjadi bahan tulisan ini, UMK Banyumas 2026 tercatat sebesar Rp2.474.598,99 per bulan, sementara harga segelas kopi di coffee shop Purwokerto diperkirakan berkisar Rp20.000–Rp35.000.
Kalau seseorang membeli kopi tiga kali seminggu dengan harga Rp25.000, pengeluarannya bisa mencapai sekitar Rp300.000 per bulan. Itu baru kopi, belum termasuk ongkos perjalanan, makanan pendamping, atau ajakan teman yang diawali dengan, “Sekali-kali nggak apa-apa, lah.”
Bagi pekerja dengan penghasilan setara UMK, Rp300.000 bukan angka yang remeh. Uang tersebut bisa dialihkan untuk menambah tabungan, membayar kebutuhan kos, membeli bahan makanan, atau menghadapi pengeluaran mendadak yang datang tanpa pernah meminta izin terlebih dahulu.
Tentu saja, bukan berarti pekerja bergaji UMK tidak boleh menikmati kopi mahal. Hidup bukan Cuma tentang bertahan sampai tanggal gajian berikutnya, dan sesekali memanjakan diri juga merupakan hal yang wajar. Menjadi persoalan ketika nongkrong berubah menjadi sebuah kewajiban sosial. Kita merasa harus datang karena teman-teman berkumpul, harus mencoba tempat baru supaya tidak ketinggalan tren, atau merasa kurang gaul jika hanya duduk di warung kopi yang ala kadarnya.
Ngopi Boleh, Asal Tidak Ikut Menyeduh Masalah Keuangan
Menjamurnya coffee shop sebenarnya membawa dampak positif bagi Purwokerto. Bisnis ini membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, dan menyediakan ruang pertemuan bagi mahasiswa, pekerja, serta komunitas yang membutuhkan tempat untuk bertukar gagasan.
Namun, pertumbuhan tersebut juga memperlihatkan kenyataan bahwa kemampuan menikmati gaya hidup tidak selalu sejalan dengan kemampuan ekonomi. Apa yang terlihat biasa bagi seseorang bisa menjadi pengeluaran besar bagi orang lain, meskipun keduanya duduk di meja yang sama dan memesan menu yang serupa.
Kita juga tidak perlu buru-buru menyalahkan mahasiswa atau pekerja yang gemar nongkrong. Ada orang yang datang untuk bekerja, ada yang mencari inspirasi, dan ada pula yang memang ingin menikmati waktu bersama teman setelah menjalani hari yang melelahkan. Yang perlu diperiksa justru hubungan kita dengan kebiasaan itu. Apakah kita datang karena benar-benar membutuhkan suasana coffee shop, atau sekadar takut dianggap tidak mengikuti perkembangan zaman?
Pada akhirnya, Purwokerto tidak harus kehilangan coffee shop agar warganya bisa hidup lebih hemat. Kita hanya perlu mengingat bahwa tempat nongkrong seharusnya menjadi bagian dari kehidupan, bukan kehidupan yang seluruh penghasilannya habis untuk membiayai tempat nongkrong.
Sebab, menikmati kopi seharga Rp35.000 tentu menyenangkan. Namun, ada kenikmatan lain yang tidak kalah penting, yaitu bisa menyeruput kopi dengan tenang tanpa harus menghitung sisa uang untuk makan sampai akhir bulan.
Editor: Imam Gazi Al Farizi




