Entah untuk keberapa kalinya, aku kembali muak menanti tibanya bus Trans Jogja (TJ) Jalur 8. Mulanya, kukira ini cuma masalahku saja, nasib seorang pekerja muda yang tak punya kendaraan pribadi. Namun, saat duduk bersama penumpang lain di halte yang mengeluhkan hal serupa, aku sadar bahwa aku tidak sendirian.
Penantian yang Tak Kunjung Datang
Banyak orang bergantung pada TJ sebagai moda kesana kemari sehari-hari. Pelajar, lansia, ibu rumah tangga, pekerja early career sepertiku, hingga beragam latar belakang kelas sosial lainnya. Kami mempertaruhkan tuntutan “tepat waktu” pada TJ, saat orang lain beradu cepat dengan kendaraan pribadi masing-masing.
Seandainya pengelola TJ dan pemerintah menyadari betapa vitalnya peran transportasi umum bagi masyarakat, bus TJ mestinya tidak menyiksa para penumpangnya dengan penantian tanpa kepastian. Saban pulang kerja, misalnya, aku acapkali menanti ketibaan TJ Jalur 8 di Halte Universitas Aisyah Yogyakarta (UNISA) selama lebih dari setengah jam. Tentu bisa dibayangkan, ketika tubuh dan pikiran telanjur lelah oleh beban kerja seharian, emosi akibat penantian panjang membuat segalanya makin runyam.
Tubuh sudah ingin segera tiba di rumah, merebahkan diri, dan memejamkan mata untuk mengisi ulang energi yang tersisa tinggal seujung upil. Nahas, transportasi umum (transum) yang lajunya serupa siput itu membuat harapan sederhana tersebut berubah menjadi bak surga firdaus yang mesti dicapai lewat ritual-ritual dan segenap amal bajik.
Insaflah Segera!
Kalau ada yang mengira bahwa keluhan terhadap bus TJ ini sekadar komplain individu dan murni subjektif, anggapan tersebut salah total. Kalau publik mau membaca, pasti kita akan mendapati bahwa masalah lamanya waktu tunggu bus TJ telah dikaji secara akademis. Noftantia (2026) dalam pengamatannya terhadap bus TJ jalur 4B mendapati bahwa masa tunggu (headway) TJ berada di angka 32 menit untuk dua kendaraan per jam.
Sementara, Jaisyurrahman et al (2025) mengungkapkan bahwa persepsi dan pengalaman pengguna TJ cenderung belum positif, sehingga pilihan untuk menggunakan TJ sebagai moda transportasi belum signifikan. Menurutku, apa yang aku alami, cerita yang kudengar dari sesama penumpang, serta kajian akademik yang senada dengan keluhan kami ini mestinya lebih dari sekadar cukup untuk menyentil pemerintah daerah dan pengelola. Plis, insaf segera!
Anehnya, pemerintah malah mengurangi subsidi, alih-alih memberikan tambahan subsidi bagi TJ agar armadanya bisa lebih banyak, menambah halte, atau memperpendek rute. Pemerintah barangkali lupa bahwa setiap hari, banyak orang yang tak punya kendaraan dinas mesti menyerahkan sebagian dari waktu istirahat dan “me time”-nya kepada TJ.
Sebelum Akhirnya Berakhir di Mental Penumpangnya
Padahal, kejenuhan akibat keterlambatan transportasi publik terbukti berdampak buruk pada kesehatan fisik maupun psikologis penumpang (Rezapour & Ferraro, 2021). Lalu, kalau sehari-hari kejenuhan semacam itu justru jadi santapan rutin, bukankah tidak mustahil tiga atau lima tahun kedepan para penumpang TJ bakal “kena mental” serupa depresi, halusinasi, atau semacamnya? Buset!
Karena hal itulah, kurasa ini waktunya untuk kembali bersuara. Masalah lamanya waktu tunggu TJ bukanlah perkara sepele yang hanya menimpa segelintir orang. Terdapat sistem atau kebijakan yang perlu dibenahi . Penumpang, operator, dan pemangku kebijakan harus duduk bersama merumuskan solusi nyata.
Kita memerlukan perbaikan mendasar dan konkret. Sebab, tanpa harus mengutip adagium Barat “Time is money”, tidak seorang pun layak dirampas hak waktunya dan dikuras kesehatannya hanya demi menunggu bus datang. Jadi, mari bersama-sama membenahi TJ kita tercinta, sebelum ada di antara kita yang mesti beroleh surat rujukan rawat di Rumah Sakit Jiwa. Trans Jogja, ayo dong, bisa!
Editor: Imam Gazi Al Farizi



