Siang itu matahari memanggang aspal kota tanpa ampun, tapi darah di nadi Laras justru terasa membeku. Di usianya yang baru menginjak lima belas tahun, matanya dipaksa merekam sebuah adegan yang menghancurkan masa remajanya dalam hitungan detik.
Dia berdiri terpaku di balik pilar restoran mewah. Di sudut ruangan, dia melihat ibunya sedang duduk berhadapan dengan seorang pria berjas rapi. Pria itu jelas bukan ayahnya. Dia terlihat jauh lebih tua, jauh lebih berkelas, dan yang paling menyakitkan, ibunya tertawa lepas bersamanya. Tawa renyah yang tak pernah lagi Ratna tunjukkan saat berada di rumah reot mereka. Pria itu mencondongkan tubuh, mengusap punggung tangan Ratna, dan menyelipkan sebuah amplop tebal ke dalam tas wanita itu. Ratna tersipu.
Laras tidak sengaja menjatuhkan botol minumnya. Suara benturan plastik dengan lantai keramik membuat Ratna menoleh. Mata ibu dan anak itu bertemu. Laras melihat kepanikan kilat di wajah ibunya, sebelum Ratna buru-buru bangkit dan menarik pria itu pergi lewat pintu samping. Laras berlari pulang dengan dada yang terasa seperti dihantam palu godam.
Di rumah, pintu kamar dibanting tertutup. Ratna menyudutkan Laras. Tidak ada permintaan maaf dari bibir wanita itu, yang ada hanyalah tatapan mengancam.
“Dia cuma teman, Ras! Namanya Om Haris. Dia sering bantu keluarga kita,” ucap Ratna, tangannya mencengkeram bahu Laras terlalu kuat.
“Teman tidak pegangan tangan, Bu! Teman tidak sembunyi-sembunyi!” jerit Laras, air matanya mulai tumpah.
Bukannya mendengarkan Laras, Ratna justru tidak terima. Dia membentak Laras dengan keras.
“Kamu tahu apa soal hidup, hah?!” Ratna meninggikan suara, namun tetap menjaga agar tak terdengar tetangga. “Ayahmu itu gajinya berapa? Kerja siang malam di pabrik cuma cukup buat makan tempe tahu! Kamu pikir seragam sekolahmu, sepatu barumu, itu pakai uang siapa? Uang Om Haris!”
Laras terisak, menggelengkan kepalanya. “Laras nggak mau uang haram, Bu. Laras mau kasih tahu Ayah.”
Plak!
Sebuah tamparan mendarat keras di pipi Laras. Ruangan itu mendadak hening. Laras memegangi pipinya yang memanas. Dia tidak menyangka bahwa ibunya akan tega menampar dirinya dan lebih membela laki-laki yang katanya ‘teman’ itu.
“Dengar,” suara Ratna kini rendah dan dingin. “Kalau kamu buka mulut ke Ayahmu, kamu yang akan menghancurkan keluarga ini. Ayahmu bakal gila, kita bakal miskin dan hancur berantakan. Kamu mau lihat Ayahmu hancur karena mulutmu? Simpan rahasia ini. Telan sendiri. Paham?!”
Laras terdiam. Ancaman itu tepat sasaran. Dia sangat menyayangi Bimo, ayahnya. Pria lurus, pekerja keras, dan penyabar yang selalu menyambutnya dengan senyuman lelah sehabis kerja. Membayangkan senyum ayahnya hancur karena pengkhianatan ini membuat nyali Laras menciut. Dia mengangguk pelan. Detik itu juga, Laras menandatangani kontrak dengan penderitaan.
Waktu melesat dengan kejam. Tahun berganti tahun, dan Laras tumbuh dengan racun rahasia yang menggerogoti kewarasannya.
Aksi pengkhianatan itu terus berlanjut. Laras menjadi saksi bisu bagaimana ibunya terus menerima uang dari Haris. Ratna memoles dirinya, membeli perhiasan emas, pakaian sutra, dan tas-tas bermerek. Kepada Bimo, Ratna selalu punya seribu alasan. Ada arisan yang tembus. Teman lama bayar utang. Dapat bonus dari tempat senam. Dan Bimo yang naif, yang selalu percaya pada istrinya, hanya mengangguk bersyukur.
Ada malam tertentu di mana Laras berdiri di ambang pintu, melihat ayahnya makan nasi dengan lauk seadanya karena uang gajian sudah diserahkan semua ke Ratna. Sementara di kamar, Ratna tengah menghitung lembaran uang ratusan ribu dari Haris. Perut Laras mual. Dia benci ibunya. Dia benci Haris. Dan yang paling parah, dia benci dirinya sendiri karena tidak memiliki keberanian untuk bicara. Laras menjauhi ibunya, mengurung diri di kamar, menjadi gadis pendiam yang menyimpan bara api di dalam dadanya.
Namun, hidup punya cara sendiri untuk menyeimbangkan neracanya. Karma datang, dan dia tidak membawa lonceng peringatan. Dia datang perlahan lewat gula darah.
Gaya hidup Ratna yang kini terbiasa mewah, mengonsumsi makanan manis, dan kurang gerak, memanggil petaka. Di usia akhir empat puluhan, Ratna divonis mengidap diabetes melitus tipe dua yang agresif.
Semuanya terjadi begitu cepat. Awalnya hanya keluhan kesemutan, pandangan kabur, dan luka kecil di jempol kaki yang tak kunjung kering. Dalam hitungan bulan, luka itu menghitam, membusuk, dan menyebarkan bau tidak sedap. Ratna yang dulu cantik dan modis, kini layu. Kulitnya pucat, tubuhnya menyusut drastis, dan dia hanya bisa terbaring di ranjang dengan ringisan kesakitan.
Lalu, ke mana perginya Haris, si pria kaya raya?
Dia menghilang bagai ditelan bumi. Begitu bau obat dan nanah menggantikan aroma parfum mahal di tubuh Ratna, Haris memblokir semua nomor. Tidak ada lagi amplop tebal. Tidak ada lagi bantuan pengobatan. Haris kembali ke istri sahnya dan melupakan Ratna begitu saja. Ratna ditinggalkan sendirian dalam kondisi paling menjijikkan.
Di sinilah hati Laras dihancurkan untuk kedua kalinya. Saat Ratna terkapar tak berdaya, Bimo-lah yang turun tangan. Pria yang selama ini diselingkuhi dan dikhianati secara diam-diam itu justru menjual motor tuanya untuk biaya rumah sakit. Bimo meminjam uang ke sana kemari demi membelikan obat insulin. Bimo yang menyeka nanah dari kaki Ratna tanpa pernah mengeluh jijik. Bimo yang setiap malam tidur meringkuk di lantai rumah sakit, mendoakan kesembuhan wanita yang telah menipunya belasan tahun.
Di koridor rumah sakit, Laras sering kali menangis. Dia menatap ayahnya dari kejauhan dengan dada yang sesak parah. Ayah, andai Ayah tahu wanita yang Ayah rawat mati-matian ini sudah menjual harga dirinya ke laki-laki lain, batin Laras menjerit. Tapi lidahnya kelu. Kini bukan lagi ancaman ibunya yang menahannya, tapi rasa iba melihat ibunya yang sedang meregang nyawa.
Kondisi Ratna memburuk dengan cepat. Infeksi sudah menjalar ke darah. Gagal ginjal menyusul. Malam itu, hujan turun dengan sangat deras saat Laras dan Bimo dipanggil masuk ke ruang ICU.
Ratna membuka matanya yang cekung. Dia menatap Bimo, lalu beralih menatap Laras. Ada sorot penyesalan yang begitu dalam di mata wanita itu. Mulutnya bergerak-gerak, seolah ingin mengucapkan sesuatu. Mungkin kata maaf. Mungkin pengakuan. Tapi sebelum suara itu keluar, tubuhnya mengejang pelan.
Suara monitor jantung berteriak nyaring membelah kesunyian ruangan. Garis hijau di layar itu menjadi lurus. Ratna pergi. Membawa semua dosanya.
Bimo runtuh. Pria tua itu menangis sejadi-jadinya, memeluk tubuh istrinya yang sudah kaku, menciumi keningnya berkali-kali. Laras berdiri kaku di sudut ruangan. Dia tidak menangis. Air matanya mengering oleh perasaan yang tumpang tindih—antara lega karena penderitaan ibunya berakhir, dan tersiksa karena rahasia itu kini sepenuhnya jatuh ke pundaknya. Beban yang dititipkan ibunya belasan tahun lalu kini menjadi batu raksasa yang siap meremukkan jiwanya.
Tiga hari setelah pemakaman, rumah terasa kosong melompong. Aroma kapur barus dan kembang melati masih mengambang di udara. Hujan rintik-rintik turun di luar, menambah hawa dingin malam itu.
Laras keluar dari kamarnya. Matanya bengkak karena tidak tidur berhari-hari. Bayangan Haris, bayangan ibunya, dan wajah tulus ayahnya terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak. Dia merasa kotor. Dia merasa menjadi kaki tangan dari pengkhianatan ibunya. Dia tidak bisa hidup dengan kebohongan ini lebih lama lagi.
Dia melangkah ke ruang tengah. Bimo sedang duduk di kursi rotan, menatap kosong ke arah foto Ratna di dinding. Wajah ayahnya terlihat jauh lebih tua, ringkih, dan sangat kelelahan.
Laras berjalan mendekat, langkahnya gontai, lalu tiba-tiba dia menjatuhkan dirinya. Laras bersimpuh di kaki ayahnya.
Bimo terkejut. “Laras? Nduk, kamu kenapa? Kok duduk di lantai?”
Laras mencengkeram lutut ayahnya. Tangis yang selama ini dia tahan akhirnya pecah. Suara raungannya keluar, bergema di rumah yang sepi itu. “Ayah… maafkan Laras, Yah. Laras anak durhaka. Laras jahat. Laras bohong sama Ayah…”
Bimo mengerutkan kening, mencoba mengangkat tubuh putrinya. “Bicara apa kamu ini? Bangun, Nduk.”
Laras menggeleng kuat-kuat. Dengan napas tersengal dan air mata yang membanjiri wajahnya, Laras menumpahkan semuanya. Dia memuntahkan racun yang selama ini mendekam di perutnya. Dia menceritakan siang di restoran itu. Dia menceritakan tentang Haris. Tentang tangan yang bergandengan. Tentang amplop uang. Tentang dari mana sebenarnya tas-tas mahal dan perhiasan ibunya berasal. Tentang alasan mengapa ibunya bisa punya cukup uang untuk makan di restoran mahal yang akhirnya memicu diabetesnya.
Kata demi kata meluncur seperti belati tajam yang Laras hujamkan sendiri ke dada ayahnya. Dia memejamkan mata erat-erat. Laras menunggu. Dia menunggu ayahnya murka. Dia menunggu ayahnya menendangnya, memaki ibunya, menghancurkan perabotan rumah, atau setidaknya berteriak menyumpah serapah. Laras pantas mendapatkan itu. Ibunya pantas mendapatkan itu.
Namun, tidak ada bantingan kursi. Tidak ada makian. Hanya ada keheningan. Hening yang sangat panjang, merobek malam, hingga hanya terdengar suara detak jam dinding dan rintik hujan di atap.
Pelan-pelan, Laras memberanikan diri membuka mata dan mendongak. Bimo menatap lurus ke depan. Air mata mengalir dalam diam dari sudut-sudut matanya yang keriput. Dadanya naik turun perlahan, menarik napas yang terlihat sangat, sangat berat.
“Ayah… marah sama Laras, Yah. Pukul Laras,” isak Laras parau. “Ibu selingkuh, Yah. Ibu mengkhianati Ayah, dan Laras diam saja!”
Tangan kasar Bimo, yang kapalan karena puluhan tahun bekerja di pabrik demi menghidupi keluarganya, terulur pelan. Tangan itu tidak mengepal untuk memukul. Tangan itu mendarat di kepala Laras, mengusap rambut putrinya dengan kelembutan yang menyayat hati.
“Laras…” suara Bimo serak, bergetar hebat, tapi anehnya, tak ada nada kemarahan di sana. “Ibumu sudah tidak ada.”
Laras tercekat. “Ayah tidak dengar cerita Laras? Ayah tidak marah?”
Bimo tersenyum getir, sebuah senyum paling menyakitkan yang pernah Laras saksikan seumur hidupnya. “Ayah ini cuma pekerja pabrik yang bodoh, Ras. Tapi Ayah bukan orang buta.” Napas Laras terhenti. Dia menatap ayahnya dengan mata membelalak.
“Ayah tahu,” lanjut Bimo pelan, pandangannya menerawang ke arah foto istrinya. “Ayah tahu uang gajian Ayah tidak akan pernah cukup untuk beli kalung emas yang Ibumu pakai. Ayah tahu Ibumu berdandan bukan untuk menyambut Ayah pulang. Ayah melihat pandangan Ibumu yang kosong setiap kali Ayah ajak bicara.”
“Ayah… Ayah tahu?” bisik Laras tak percaya. Dunia di sekitarnya seolah runtuh untuk ketiga kalinya. Ayahnya tahu? Pria ini tahu dirinya dikhianati dan dia memilih diam?
“Kenapa Ayah diam saja?!” jerit Laras histeris, tak terima ayahnya membiarkan dirinya diinjak-injak begitu rupa. “Kenapa Ayah nggak marah?! Kenapa Ayah biarkan Ibu berbuat sejijik itu, sementara Ayah banting tulang buat dia?!”
Bimo menunduk, menatap mata putrinya. Air matanya jatuh menetes ke punggung tangan Laras. “Karena Ayah takut, Ras. Ayah terlalu pengecut. Ayah takut kalau Ayah marah, Ibumu akan pergi membawa kamu dan memilih laki-laki itu. Ayah lebih takut kehilangan kalian daripada kehilangan harga diri Ayah. Ayah pikir, biarlah… asal dia masih pulang ke rumah, asal Ayah masih bisa melihatnya setiap malam, itu sudah cukup buat Ayah.”
Laras menutup mulutnya dengan kedua tangan. Fakta itu menghantam jiwanya jauh lebih keras dari pengkhianatan ibunya sendiri. Selama belasan tahun, Laras pikir dia sendirian memikul rahasia itu. Ternyata ayahnya memikul luka yang sama di pundaknya yang semakin bungkuk, menanggungnya dalam kebisuan yang luar biasa menyiksa, sendirian, demi menjaga keutuhan rumah tangga mereka.
“Coba kamu lihat sekarang, Ras,” Bimo menghela napas panjang, menoleh ke luar jendela yang gelap. “Orang kaya itu tidak ada di sini, kan? Dia membuang ibumu saat ibumu sakit. Ibumu dihukum oleh keserakahannya, dihukum oleh tubuhnya sendiri. Dan pada akhirnya, saat napasnya habis, siapa yang ada di sampingnya? Cuma kita.”
Bimo menarik bahu Laras, memaksa putrinya bangkit, lalu memeluknya erat-erat. Di pelukan ayahnya, tangis Laras meledak tanpa ampun. Tubuh ayah dan anak itu berguncang bersama di tengah ruang tamu yang temaram.
“Sudah, Nduk… sudah,” bisik Bimo seraya menepuk-nepuk punggung Laras, menyalurkan kedamaian yang tak pernah Laras rasakan selama belasan tahun. “Jangan biarkan racun Ibumu ikut membunuh masa depanmu. Rahasia itu, rasa sakit itu, sudah mati dan ikut dikubur bersama Ibumu kemarin. Ibumu sudah tenang. Sekarang giliran kita yang harus tenang.”
Laras membalas pelukan ayahnya, membenamkan wajahnya di dada pria yang kebesaran hatinya seluas samudra itu. “Kita maafkan Ibu ya, Yah?” bisik Laras di sela isak tangisnya.
Bimo mengangguk pelan, menyandarkan dagunya di puncak kepala putrinya. “Iya, Nduk. Ayah sudah memaafkannya sejak lama. Sekarang, kita lepas dia.”
Malam itu, di bawah derai hujan yang menyapu bumi, dosa masa lalu akhirnya luruh. Laras menangis hingga suaranya habis, tapi kali ini bukan karena rasa bersalah. Melainkan karena beban belasan tahun itu akhirnya hancur, luluh lantak oleh kata maaf dari seorang pria luar biasa, yang memaafkan sebuah pengkhianatan yang bahkan tak pernah diakui oleh pelakunya. Kelegaan yang aneh mengalir di dadanya; sebuah akhir dari rasa sakit, dan awal dari kedamaian yang sesungguhnya.




