Pada 19 Maret 2026 kita teringat tokoh bernama Jusuf Syarif Badudu atau J. S. Badudu. Pada tanggal tersebut tokoh yang lahir di Gorontalo itu genap 100 tahun. Bagi mereka yang mengalami masa Orde Baru, J. S. Badudu adalah nama yang masyhur. Tak lain dan tak bukan melalui kontribusinya terhadap gagasan bahasa Indonesia. Ia menjadi pengajar, menulis kolom bahasa untuk majalah, mengisi program pembinaan bahasa Indonesia di Televisi Republik Indonesia (TVRI), hingga memproduksi buku terkait bahasa.
Jejak kepopulerannya itu terasa jika Anda berkunjung ke lapak-lapak buku bekas di Gladak, dekat alun-alun utara Kota Solo. Kita masih mudah menemukan buku garapan J. S. Badudu, macam Pelik-Pelik Bahasa Indonesia, Cakrawala Bahasa Indonesia, Membina Bahasa Indonesia Baku, hingga Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Hal itu tak lepas dari minat kalangan publik saat buku itu terbit untuk pertama kalinya. Keahlian J. S. Badudu dari segi tulisan dan lisan terhadap bahasa memikat publik, yang berdampak pada banyak judul bukunya mengalami cetak ulang.
Di Majalah Tempo edisi 9 September 2013, J. S. Badudu diprofilkan dalam tulisan berjudul “Gurunya Guru Bahasa Indonesia”. Saat itu J. S. Badudu dalam kondisi sakit, seiring usia yang makin menua. Kesehatannya makin menurun setelah mengalami stroke. Salah satu anak dari J. S. Badudu yang kemudian membantu dalam memberi keterangan di wawancara tersebut. Di waktu itu kebetulan hadir salah satu cucunya seorang musisi, Ananda Badudu yang baru tiba dari Jakarta di rumah J. S. Badudu yang berada di perumahan dosen Universitas Padjadjaran di daerah Dago, Bandung.
Meski tak bisa diwawancarai, ada upaya pemunculan otobiografi yang pernah ditulis oleh J. S. Badudu berjudul Otobiografi Jusuf Syarif Badudu (1926–2001). Otobiografi itu sejumlah 62 halaman dan tidak pernah diterbitkan. Ia mengenang tanah kelahiran dan tempat-tempat semasa kecilnya di Sulawesi Tengah sana. Semasa telah menjadi seorang cendekiawan dan munsyi, saat ia pulang ke kampung halaman, banyak pihak yang memintanya untuk berceramah terkait bahasa Indonesia. Baik itu dari kalangan guru, pejabat pemerintah, maupun tokoh masyarakat.
Begitu pula saat ketenarannya di kalangan publik. Saban peringatan bulan bahasa, di mana ia berada, baik di Jawa maupun luar Jawa, J. S. Badudu dicari banyak orang. Di dalam otobiografinya, ia menulis: “Ke mana saya pergi ke daerah, kalau orang mendengar ada di sana, mereka umumnya mengundang saya memberi ceramah mengenai bahasa Indonesia yang baik dan benar.” Proses ini tentu tak lepas dari perjalanan karier J. S. Badudu. Sebelum menjadi seorang dosen di Universitas Padjadjaran, ia menjadi pengajar di tingkat sekolah dasar (8 tahun), sekolah menengah pertama (4 tahun), dan sekolah menengah atas (10 tahun).
Memuliakan Bahasa Indonesia
Perlu diketahui, J. S. Badudu mengajar sejak berusia 15 tahun. Puluhan tahun dilaluinya dalam pengabdian menjadi seorang pengajar. Hal tersebut tentu saja mengabsahkan keberadaannya yang setia dalam jalan kebahasaan. Bahasa Indonesia begitu penting dalam benak perjuangan J. S. Badudu. Pengandaian bahasa Indonesia yang baik dan benar dari sosok J. S. Badudu tentu bukan sebatas teori, namun juga pada aras praktik di kehidupan sehari-hari. Itu pula yang dijadikan landasan olehnya, meski bahasa Indonesia itu adalah keseharian orang Indonesia, terus perlu dilatih.
Keterangan itu tentu menyiratkan bahwa J. S. Badudu memberi penegasan akan hubungan bahasa Indonesia dan gagasan keilmuan. Hal itu didasarkan pada kondisi bahasa terus bergerak seiring perkembangan zaman serta kemajuan ilmu dan teknologi. Perubahan itu yang mengharuskan bahasa Indonesia adaptif untuk dilakukan pembinaan agar menjadi bahasa keilmuan. Pada aspek tersebut, kita paham, bahwa upaya mengurusi bahasa Indonesia bukan hanya tanggung jawab dari sarjana bahasa, namun menyeluruh dari berbagai pihak dengan latar belakang keilmuan apa pun.
Hal itu senada dengan apa yang pernah dicatat oleh J. S. Badudu di buku berjudul Cakrawala Bahasa Indonesia (Gramedia, 1985). Ia menegaskan, “Kita menginginkan dan berusaha menjadikan bahasa Indonesia, bahasa nasional kita, bahasa yang lebih tinggi tarafnya daripada sekadar bahasa pergaulan saja. Kita ingin agar bahasa Indonesia menjadi bahasa ilmiah. Keinginan kita itu telah kita buktikan. Kita berusaha membina bahasa ini dengan menciptakan istilah yang cukup bagi berbagai bidang ilmu.”
Pada kesempatan yang berbeda, J. S. Badudu juga mendorong para sarjana dan kaum intelektual dalam memosisikan bahasa Indonesia sebagai bahasa keilmuan. Tepatnya dalam keterangan pada profilnya di buku berjudul Apa & Siapa: Ilmuwan dan Teknokrat Indonesia (Pustaka Kartini, 1989). Di sana terdapat keterangan, “Para sarjana, kaum intelektual Indonesia, harus berusaha menuliskan ilmunya ke dalam bahasa Indonesia.” Dalam konstelasi ilmu dan teknologi, tentu saja itu penting. Sebab, acapkali kita mudah tenggelam pada logika dominasi bahasa asing, yang kemudian mengeluarkan nada pesimisme akan bahasa Indonesia dapat menjadi bahasa keilmuan.
Kita merasa penting untuk membuat refleksi atas peringatan 100 tahun J. S. Badudu. Betapa pun ia telah banyak mewarisi gagasan dalam perkembangan bahasa Indonesia. Setakat dengan itu, gagasannya makin relevan di tengah banyak tantangan akan bahasa dalam konstelasi kecepatan teknologi digital. Hematnya, kita sebagai generasi di masa kini mau terus sadar dalam merawat dan memperjuangkan keberadaan bahasa Indonesia sebagai garda terdepan dalam perjuangan keilmuan. Itu wajib dilakukan, alih-alih untuk tidak mengatakan bahwa kita makin berada dalam bayang-bayang kehilangan bahasa itu sendiri.
