Bahasa Indonesia Membuat Saya Terus-terusan Jomblo

Malam lalu, di ruangan rumah sakit, saya memperoleh jawaban mengapa saya terus-terusan jomblo. Sederhana saja ternyata. Apa itu? Saya tak fasih berbahasa Indonesia! Kehidupan selepas menikah ternyata sangat bahasa Indonesia sekali. Kawan saya, yang saat itu lagi terkena anemia, mendadak ditelpon oleh istrinya yang ada di ruang seberang. Si istri menanyakan hal apa yang dikatakan perawat saat masuk ke ruangan tadi. Mereka mengobrol sebentar. Tak lebih dari satu menit. Tentu saja, dalam bahasa Indonesia. Mendengar obrolan itu, saya bersenyum anyep. “Oh, bahasa Indonesia!” batin saya membisik. 

Setahu saya, kawan saya ini orang Jawa tulen. Sehari-hari kami nggedabrus dalam bahasa Jawa. Sementara istrinya, setahu saya juga orang Jawa. Tepatnya dari daerah pesisir Pantura sana. Rembang. Saya pun tahu ia ngelothok berbahasa Jawa. Kami—saya, kawan saya, dan istri kawan saya—belajar di satu almamater. Kami saling tahu asal-usul masing-masing, bahkan hingga ranah keluarga. Lantas, mengapa mereka berbahasa Indonesia? Kenapa tidak berbahasa Jawa sebagaimana kami bercengkrama seperti biasanya? Apakah bahasa Indonesia adalah bahasa resmi dalam relasi pasutri? Sungguhkah ia lebih romantis dan nengsemake? Segenap tanda tanya larut dalam gelas pikiran. 

Saya lekas takut, kalau-kalau bahasa Indonesia diaji kerta sebagai bahasa wajib untuk “sayang-sayangan”. Seringkas mesti bilang “aku cinta kamu”, ketimbang “aku tresna sliramu”. Padahal, sebagai native speaker bahasa Jawa, saya merasa ungkapan kedua lebih nothol. Ia punya daya psikolinguistik yang cukup untuk menggetarkan relung hati paling dalam. Tanpa perlu berhiaskan sajak-sajak Hujan Bulan Juni-nya Pak Sapardi, cukup “aku tresna sliramu”. Kata “tresna” lebih akrab di telinga saya. Sementara, kata “cinta” dari bahasa Indonesia ini, baru saya kenal di sekolah. Seringnya dalam frasa ‘cinta tanah air’ khas LKS PPKn dan ‘cinta alam’ ala Dasa Darma Pramuka. 

Seingat kepala, nilai ujian nasional (UN) bahasa Indonesia saya saat sekolah dulu tak pernah mumtaz (cumlaude). Saat SD, skornya mentok di angka 8.6. Lalu di SMP, meski ada peningkatan ke angka 9.0, tetap saja, saya tak pernah menyentuh angka 10. Saya pernah mengambil tes UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia). Hasilnya tak cukup bisa disanjung. Hanya memperoleh skor 722. Skor untuk kecakapan mendengarkannya bahkan cuma 680. Bayangkan jika setiap hari saya mesti mendengarkan istri saya berbahasa Indonesia. Tentu saja, saya akan sering tidak nyambung. 

Misalnya saja, dia bilang ingin belanja, lalu saya membawanya ke kedai sayuran pinggir jalan. Setibanya di lokasi, ia cemberut sambil meremas seikat kangkung. Ternyata, frasa “ingin belanja” yang ia maksud adalah belanja baju, kosmetik, juga pernak-pernik indah. Tidak belanja sayuran. Mestinya, saya membawanya ke Jogja City Mall, Pakuwon Mall, atau Sleman City Hall. Bukan ke kedai sayuran! Satu contoh ini saja sudah berpotensi menimbulkan adu fisik. Sesederhana saya ditampar pakai seikat kangkung yang sedari tadi ia remas itu. Orang yang melihat mungkin mengira saya selingkuh dengan seorang artis seksi. Padahal, hanya sebab misinterpretasi. 

Tentu akan ada lebih banyak contoh lagi yang menuntut saya harus benar-benar menjadi pendengar bahasa Indonesia yang baik. Karenanya, alih-alih melulu merutuki takdir yang enggan bersegera menuntun saya ke pelaminan, saya memilih untuk mengambil kursus berbahasa Indonesia. Mungkin, inilah tirakat yang mestinya saya jalani. Saya mesti pensiun membaca sepuluh ribu selawat tiap malam Jumat, merapal mantra rabbana hablana min azwajina, juga menyudahi menghapal innahu min sulaimana wa innahu bismillahir rahmanir rahim. Ya, saya harus belajar bahasa Indonesia lagi! Tapi, bagaimana jika jodoh saya nanti ternyata orang Glasgow? Aduh! 

Baca Juga

Ilustrasi Jouska Marhun
DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777