Demonstrasi Lagi, Takut Lagi 

source: pinterest

Demonstrasi kembali meledak. Di Jakarta, mahasiswa dengan berbagai warna almamaternya meneriakkan seruan-seruan tuntutan. Spanduk dan pelbagai atribut protes mereka kenakan. Tak kalah, di Surakarta, mahasiswa menggeruduk kantor DPRD dengan seruan protes sejenis. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) disebut sebagai pemicu utama. Sementara, pakar hukum tata negara yang juga aktivis Reformasi, Bivitri Susanti, menduga bahwa aksi demonstrasi yang berlangsung kali ini merupakan hasil akumulasi dari pelbagai kekecewaan.

Sebagai warga yang sering beroleh cap pengecut lantaran jarang turun gelanggang, penulis hanya bisa menyuarakan nada-nada ketakutan. Saban kali demonstrasi meletus, urat leher mendadak penuh dengan aliran darah rasa was-was. Negeri ini tak sekali dua kali menayangkan adegan demonstrasi. Sedari pertama kali beroleh status kemerdekaan resmi, entah berapa banyak episode demonstrasi yang pernah mewajah. Mungkin, itulah keistimewaan sistem demokrasi yang sering dipuja-puja: riuh! Tentu, keriuhan itu berisi perpaduan antara jeritan, isak tangis, teriakan amarah, juga bunyi dar der dor peluru pembunuh,

Baca Juga : Niatnya Unboxing Album, Malah Jadi Unboxing Karbon

Ketika Demonstrasi Selalu Menuntut Tumbal

Demonstrasi tak selalu menghasilkan nasib baik. Setiap episodenya, di antara sekian jumlah pendemo, hampir pasti ada nyawa yang mesti ditumbalkan. Tahun 1966 saat meletusnya demonstrasi Tri Tuntutan Rakyat (Tritura), nyawa Arief Rahman Hakim adalah harga yang harus dibayar untuk mengakhiri tangan besi Bung Karno. Lalu, pada Mei 1998, giliran Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, serta Hendriawan Sie yang mesti menumpahkan darah. Nyawa keempatnya direnggut peluru aparat, tumbal dari lengser keprabon-nya Sang Bapak Pembangunan. Paling anyar, Agustus 2025 silam, nyawa Affan Kurniawan harus lepas dari jasad seusai tubuhnya dilindas mobil rantis.

Maka, ketakutan akan tumbangnya tumbal anyar di demonstrasi Juni ini lekas menggerayangi belulang tubuh. Selaku mahasiswa, ada perasaan sangsi kalau-kalau terdapat rekan yang darahnya mesti mengucur di balik almamater kebanggaan. Apalagi, negara ini punya aparat yang sering bertindak keparat. Senjata dan keahlian bela diri mereka tak jarang digunakan bukan untuk melindungi rakyat, melainkan untuk menuruti nafsu keparatnya sendiri.

Mungkin seruan Kapolda Metro Jaya yang menginstruksikan agar senjata semacam gas air mata hanya boleh meluncur atas arahannya dapat menjadi semacam narasi aman. Namun, fakta penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus jelas membikin kita sulit percaya. Tak ada demonstran yang sungguh-sungguh aman dari bedhil ganas petugas keamanan.

Rasa kecut juga muncul kalau-kalau demonstrasi hari ini bakal mengulangi luka perempuan yang acap turut menjadi tumbal. Perempuan selalu menjadi figur rentan, terutama dalam situasi tak keruan seperti demonstrasi. Awal Juli 2013, dua orang oknum anggota Polres Metro Jakarta Utara diduga telah melakukan pelecehan seksual kepada dua orang buruh wanita dalam aksi demonstrasi di lokasi Kawasan Berikat Nusantara (KBN), Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Yayasan Lokataru sempat mewartakan jika di banyak aksi demonstrasi yang berlangsung di Kalimantan Timur dan Maluku, banyak perempuan menjadi korban kekerasan seksual fisik. Tubuh mereka disentuh atas dalih seruan mundur. Potensi pelecehan yang sama pun membayangi para pendemo perempuan di Jakarta, Surakarta, juga kota-kota lain.

Baca juga : Secangkir Kopi, Seribu Tahun Sampah

Takut pada Aparat, Takut pula pada Penguasa Baru

Rasa takut juga tiba menginggapi kalau-kalau demonstrasi yang berlangsung hari-hari ini akan melahirkan monster baru bagi republik. Sudah jadi lagu lama bahwa para aktivis yang dulunya tampil garang di jalanan, pada waktunya akan berbalik menyerang para pendemo setelah merasakan manisnya gulali kekuasaan.

Demonstrasi tak melulu putih berniatkan pembelaan terhadap rakyat, melainkan juga bisa menjadi tangga bambu untuk memanjat pohon kekuasaan. Tak jarang, mereka yang datang dari jalanan justru lebih rakus dalam mengeruk bandha-bandhu ibu pertiwi. Semoga saja, ketakutan ini tak sungguh-sungguh terjadi.

Kita-kita yang tak ikut demonstrasi memang cuma bisa berdoa. Semoga republik lekas membaik, luka lapanya tak bikin 280 juta nyawa panik terusik. Cukuplah sudah senarai ketakutan itu membuat kita-kita makin rajin bermunajat, meramaikan musala, gereja, masjid, juga pelbagai tempat ibadat.

Kita bermoga agar pemerintah lekas insaf lagi bertobat, alih-alih kekeh dan berkeras jidat. Tapi, jikalau tetap saja tak ada penginsafan, tiba waktunya bagi kita untuk keluar dari sangkar ketakutan dan bergabung turun ke jalan. Biarlah nyawa menjadi taruhan. Toh, hidup pun tetap jadi koeli, bukan?

Baca juga : Secangkir Kopi, Seribu Tahun Sampah

Baca Juga

Ilustrasi Matahari dan Mantel dalam Cerita (www.pinterest.com)