Matahari menyembul begitu malu. Ayam berkokok bertalu-talu seperti merayakan kegembiraan atas kilauan yang muncul dari ufuk timur. Halimun pekat di waktu subuh, sedikit demi sedikit mulai bersembunyi dari terpaan sengatan kilau cahayanya. Orang-orang membasuh mukanya dengan air yang lumayan dingin. Kemudian menguap begitu lebar melawan matanya yang lengket seperti ingin menguncup.
Matahari selalu dinantikan keberadaannya. Menyembulnya matahari adalah sebuah tanda untuk segera mengasah sabit yang tumpul lantaran diterpa oleh angin malam yang asam. Ketika kilau cahanya berubah menjadi kekuning-kuningan di ufuk barat, beringsut pedagang hilir mudik di pasar dan ladang, digantikan oleh makhluk nokturnal ditambah gemercik suara jangkrik dan kodok yang asik bermelodi.
Mafhum, perubahan siang dan malam itu bukanlah tanpa sebab. Realitas itu memberikan petunjuk agar terus berpikir memahami waktu yang bergerak. Adalah siang dan malam. Waktu tak punya kompromi. Ia bergerak sesuai garis edarnya. Kita yang dibekap oleh waktu, tak ada lain mencoba melakukan yang terbaik agar tak dicap sebagai kelompok yang merugi.
Matahari yang terang, memberikan kita kemudahan untuk melihat. Bebungaan yang merekah menampilkan kilau bening menawan, kicau burung yang berjingkrak hinggap dari ranting satu ke ranting lainnya, dan aktivitas pada umumnya yang berkaitan dengan bertahan hidup seperti mengolah hasil bumi, memilin rotan, dan menebar benih di tanah yang gembur.
Sinarnya yang hangat, membuat siapapun rindu menantikannya. Di tengah dingin malam yang mencubit-cubit kulit, kita sering berimajinasi tentang kehangatan matari. Mafhum, matari memberi kita kenikmatan yang amat penting, sehingga dapat melakukan aktivitas di waktu siang sampai menjelang sore penuh dengan syukur.
Matahari bagi Kehidupan yang “Berbeda”
Bagi orang-orang yang tinggal di bawah garis ekuator, matahari adalah kawan setia. Lain halnya dengan kerabat kita yang tinggal di Eropa ataupun tempat-tempat yang jauh dari garis maya bernama equator itu. Nikolai Gogol menuliskan novel Baju Mantel yang menyiratkan sebuah kisah mengenai pengharapan pada matahari.
Begitu pun dengan Doestoevksy, dengan jelas ia menggambarkan kehidupan penuh menggigil yang harus ia jalani dibalut oleh mantel beludru dari bulu beruang yang hangat. Bila matari menguncup digantikan oleh terpaan salju tebal dan dihiasi oleh aungan Siberian Husky, mereka sibuk menyalakan kayu yang sedikit basah kemudian mencecap coklat panas agar membuat bibirnya tak membeku.
‘Rumah Mati di Siberia’ anggitan Doestoevksy menceritakan kisah pilu orang-orang buangan yang dikurung salju dan jeruji besi. Aktivitas berat seperti mencangkul tanah, memecah kayu, dan berburu hanya dilakukan bila matari muncul. Bila saja, matari tenggelam entah kemana, ia meringkuk seperti kucing yang kedinginan. Dibalik derita dingin yang membuat kram otot-otonya, Doestoevsky sering menyuguhkan arti hidup, etika, moral, religiusitas dan filsafat manusia.
Doestoevsky yang namanya harum itu, mengakui dirinya terpengaruh oleh guratan sastra ala Gogol. Fadli Zon sempat menuliskan sepak terjang Nikolai Gogol dalam Mock Heroic Gogolian: Menelusuri Percikan Irasionalisme Baju Mantel (Majalah Horizon/1/XXVIII/38, 1994). Matahari yang jarang membikin hangat, Gogol, Doestoevsky, Turgenev hingga Gorky membuatnya banyak merenung. Mafhum, karya-karya merekalah yang merubah dinginnya salju menjadi hangat seperti tungku yang dilahap api.
Dingin yang mengggil membuat siapapun merengguh kain nan tebal untuk mencapai kehangatan. Gogol menuliskan dengan brilian semantik mantel, dingin, dan realitas. Karya Nikolai Gogol dalam Baju Mantel atau Sinel (diterjemahkan Drs. Hasan Amin, cetakan III tahun 1975, Balai Pustaka) memberikan gambaran penting yang memandang realitas Rusia melalui mantel.
Mantel dan Makna Filosofis Dibaliknya
Mantel kita pahami sebagai piranti untuk menghangatkan tubuh. Walakin, mantel dalam dunia pikir Gogol tidaklah sesimpel itu. Gogol menggambarkan tokoh utama bernama Akaki Akakiyevich, orang tua malang dan lemah yang mengharapkan sebuah mantel tebal agar tak dicekik oleh angin yang sangat dingin ditambah otokrasi Tsar Nikholas I yang membuat otot Akaki terus mengejang.
Melalui Gogol, kita diajak untuk merenungkan perjumpaan dengan matahari. Tak hanya itu, Baju Mantel dalam gubahannya itu memberikan kita pengingat untuk menyelami realitas, baik secara biologis hingga politik sekalipun. Akaki Akakiyevich yang akhirnya mati lantaran mantel tak membungkus tubuhnya—lantaran mantelnya dicuri— mengingatkan kita mengenai sengketa diri, materi dan struktur sosial.
Baju Mantel menggambarkan struktur kelas yang timpang. Seseorang yang memiliki dompet tebal akan mudah mendapatkan mantel yang super hangat. Kehangatan yang didapatkan memberi peluang lebih banyak melakoni aktivitas. Termasuk aktivitas politik dan penentuan kebijakan dibandingkan manusia seperti Akaki. Lain halnya dengan mereka yang tak beruntung, antara hidup atau mati orang-orang malang itu akan menyabet mantel siapapun guna bertahan hidup, walaupun alhasil mencelakakan nyawa seseorang.
Di bawah terpaan matahari yang sama, tersirat pelbagai kisah. Keberadaan matahari jadi sebuah pengharapan. Rabindranath Tagore dalam Gitanyali alih bahasa Amal Hamzah (Dian Rakyat, 2011) menyiratkan pengharapan pada matahari dan waktu. Biarlah aku dalam malam letih, lesu, tidur dengan menyerah/sambil mempercayakan diriku kepadamu/janganlah aku harus memaksa pikirankan yang meronta ini memikirkan pekerjaan untuk memuja Engkau/Engkaulah yang menutupi mata siang yang lesu itu dengan selubung malam/guna membaharui pandangan dengan kegembiraan bangun yang segar.
Besok, lusa, tubin atau tulat kita tak pernah tahu sampai kapan kita dapat merasakan kehadiran matahari. Namun, secercah sinarnya memberi kita sebuah perenungan bahwa kehadirannya harus dibayar dengan kebermanfaatan disamping umur kita yang terus menyusut. Sekian.
Penulis: M Ghaniey Al Rasyid
Editor: Arizqa Novi Ramadhani
