Category: Esai

Mengapa “Keadilan” Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Elit

Selamat datang di dunia tempat “Keadilan” menjadi kata benda yang paling sering diperkosa dalam pidato politik. Sebagai mahasiswa hukum, kita dipaksa memuja dewi Themis yang matanya tertutup kain. Faktanya, kain itu ada agar sang dewi terhindar dari pemandangan kotor tentang timbangan yang ia pegang di bawah meja. Keadilan dalam ruang

Selengkapnya »

Bahasa Indonesia Membuat Saya Terus-terusan Jomblo

Malam lalu, di ruangan rumah sakit, saya memperoleh jawaban mengapa saya terus-terusan jomblo. Sederhana saja ternyata. Apa itu? Saya tak fasih berbahasa Indonesia! Kehidupan selepas menikah ternyata sangat bahasa Indonesia sekali. Kawan saya, yang saat itu lagi terkena anemia, mendadak ditelpon oleh istrinya yang ada di ruang seberang. Si istri

Selengkapnya »

OSS: One Stupid System

Ikhtiar Indonesia dalam membendung laju peningkatan angka pengangguran masih berada dalam ruang utopia. Hampir seluruh program gagasan elemen pemerintahan hanyalah produk ‘gegar budaya’ bagi kemajemukan masyarakat yang dirias oleh pseudo-generasi emas. Pada sirkulasi tersebut, kita diharuskan percaya adanya amatan-amatan dari pegiat ekonomi untuk bermandiri menciptakan peluang kerja di tengah kehidupan

Selengkapnya »

Kian Kritis, Semestinya Kian Malas Sambat

Membaca sebuah esai sambat di Nyangkem soal seorang yang merasa tak beroleh validasi lingkungan—lantaran kawannya sensitif—dari sikap kritisnya di kampus, sebuah pertanyaan segera saja meletup di kepala, “Apakah si penulis juga lagi sama kritisnya saat menulis esai refleksi ini? Atau, apakah sikap kritis itu hanya menikam tajam keluar, tapi tumpul

Selengkapnya »

Jadi Mahasiswa Kritis Itu Capek, Kalau Teman Sekelasnya Sensitif

Jujur saja, sebagaimana judul pada tulisan ini. Jadi mahasiswa kritis itu ga asik, apalagi kalau teman sekelasnya sensitif. Tak hanya sekali-duakali, saya mencoba melontarkan pertanyaan setelah presentator membuka sesi tanya jawab di kelas perkuliahan. Sudah nawaitu banget mengungkapkan antusiasme atas topik materi yang disampaikan oleh presentator dan bahkan tak jarang

Selengkapnya »

Jadi Guru Honorer: Mengabdi Sepenuh Hati, Digaji Sepenuh Ikhlas

Profesi guru kerap diidentikkan dengan kemuliaan gelar “pahlawan tanpa tanda jasa”. Gelar indah nan superior tersebut justru berkebalikan dengan realita di lapangan yang sering kali jauh panggang dari api. Terutama ketika kita menyoroti secara khusus isu tentang nasib para pendidik berstatus honorer. Saya kadang sampai kehabisan kata-kata merenungkan kenyataan ini.

Selengkapnya »
DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777