Bangga Punya Kakek Tentara Veteran, Tapi Nelangsa Karena Tak Dianggap Negara

ilustrasi tentara veteran (AntaraNews)

Sebagai seorang cucu yang mempunyai kakek seorang mantan tentara pejuang kemerdekaan (veteran) sejujurnya saya bangga. Tapi di saat bersamaan juga merasa nelangsa. 

Sejak kecil, setiap berkunjung ke rumah nenek di daerah Jetis, Surabaya, saya tidak pernah sama sekali melihat foto kakek. Lama-lama itu membuat saya penasaran: seperti apa wajah kakek dan seperti apa sosoknya?

Usut punya usut, ternyata kakek saya dulu adalah seorang veteran perang kemerdekaan. Begitu kira-kira cerita yang kemudian saya dengar dari bapak.

Sayangnya, sisa hidup kakek harus dijalani dengan kenelangsaan, bukan kehormatan. Cuma gara-gara kartu anggotanya sebagai seorang pejuang lenyap dalam sebuah fragmen kejar-kejaran dengan tentara Belanda.

Menjadi tentara kemerdekaan sejak usia muda

Nama kakek saya Suratman. Ia lahir di Karangrejo, Surabaya Selatan. Merupakan anak pertama dari delapan bersaudara.

Kakek menjadi tentara kemerdekaan sejak usia muda. Memang pada saat itu, syarat menjadi tentara amat mudah. Pokoknya punya tekad besar untuk memerangi penjajah demi kemerdekaan Indonesia.

Saat itu kakek ditugaskan menjadi seorang mata-mata. Tugasnya mengawasi, lalu melaporkan gerak-gerik mencurigakan dari pihak musuh. Ah, terdengar keren dan gagah sekali memang.

Ketahuan, dikejar hingga menyibak Kali Jagir

Pada suatu masa, ketika tengah menjalankan operasi, kakek ketahuan oleh pihak Belanda. Saat itu, kakek mendapat informasi kalau Belanda akan melancarkan agresi militer di Surabaya. Targetnya adalah masyarakat sipil dan para tentara kemerdekaan RI.

Dalam perjalanan melapor ke atasan, kakek terpergok oleh patroli tentara Belanda. Moncong senapan bahkan sudah diarahkan pada kakek.

Kakek yang dalam situasi panik lantas spontan menceburkan diri ke Kali Jagir yang sejak dulu sudah dikenal berarus besar. Dalam kepanikan, ia ternyata sanggup berenang sejauh 20 km.

Sialnya, peristiwa itu membuat kakek harus kehilangan salah satu aset, yang bagi saya, sebenarnya sangat penting: kartu identitas sebagai tentara kemerdekaan.

Akhir tentara kemerdekaan: menjadi tukang las untuk menghidupi keluarga

Setelah peristiwa itu, kakek memutuskan mengundurkan diri dari satuan tentara kemerdekaan. Kehidupan setelahnya ternyata tidak mudah bagi kakek. Sebab, baru ia tahu kemudian betapa pentingnya kartu identitas tentara kemerdekaan yang sudah hanyut di Kali Jagir.

Karena dengan itu, seorang tentara kemerdekaan yang sudah pensiun (veteran) akan mendapat banyak penghormatan dari negara: diakui hingga bakal menerima uang pensiun.

Tapi mau bagaimana lagi. Pada akhirnya kakek pun bekerja sebagai tukang las di sebuah perusahaan yang beralamat di Ngagel.

Setiap hari ia berangkat menuju tempat kerjanya dengan berjalan kaki. Dengan gaji yang tidak seberapa, ia tetap menjalani profesi barunya sebagai tukang las sampai akhir hayatnya demi menghidupi keluarga kecilnya.

Kakek harus menghidupi satu istri dan lima anak dengan susah payah. Anak-anak kakek, termasuk bapak saya, bahkan harus putus sekolah (hanya sekolah SD saja) karena tidak mampu membayar uang bulanan.

Bude saya dulu sampai bekerja sebagai pembantu rumah tangga demi membantu ekonomi keluarga. Sementara bapak saya sempat menjadi kenek angkot.

Punya kakek tentara veteran itu membanggakan, tapi nelangsa

Sejujurnya saya amat bangga karena punya kakek seorang veteran perang kemerdekaan. Namun, entah kenapa, di saat yang sama muncul perasaan getir dan nelangsa.

Dulu semasa sekolah, saya kerap menceritakan kisah heroik kakek kepada teman-teman. Tidak ada yang percaya. Saya malah dituding membual. Apalagi, dalam bayangan anak kecil, pahlawan perang itu, ya, fotonya dipajang di dinding-dinding kelas.

Saya pun kerap merasa iri setiap menonton televisi. Biasanya, di bulan-bulan Agustus atau November, ada stasiun televisi yang mengundang veteran untuk diwawancara, didampingi oleh keluarga. Ah, keluarga kami tidak bisa merasakan hal yang sama.

Tiap upacara 17 Agustus, para veteran perang kemerdekaan pasti diundang ke Istana Negara. Atau bahkan kerap ada momen negara memberi sebuah penghormatan pada para veteran yang masih hidup. Itu juga membuat saya kadang sedih. Karena, lagi-lagi, kakek saya tidak pernah merasakannya hingga akhir hayatnya.

Sulitnya Hidup Anak Veteran yang Tidak Punya Warisan

Sejak kakek meninggal, kehidupan istri dan anak-anaknya lebih memprihatinkan, termasuk bapak saya. Saat itu aset-aset harta peninggalan kakek sudah habis terjual. Akhirnya bapak memutuskan bekerja serabutan demi membantu nenek dan empat kakaknya memenuhi kebutuhan hidup.

Di saat teman-teman bapak sedang asyik bermain menikmati masa kecilnya, ia rela banting tulang dari pagi sampai malam. Mulai jadi kenek angkot, kuli panggul di pasar, tukang loper koran, hingga penyiar radio. Semua itu dijalani oleh bapak hingga menginjak usia remaja.

Singkat cerita, ada satu momen bapak bertemu guru SD-nya. Guru SD tersebut merasa kasihan dengan kondisi bapak yang bekerja serabutan dan memutuskan berhenti sekolah. Akhirnya, guru SD tersebut menyuruh bapak untuk sekolah lagi tanpa perlu bayar uang bulanan. Ditambah, guru SD tersebut juga berjanji memberi bapak beasiswa hingga lulus SMA serta rutin diberi uang saku.

Bapak pun menyetujui suruhan guru SD tersebut. Bapak kembali ke sekolah dan mengulang kelas yang dulu yang pernah ia tinggalkan (kelas 4 SD). Meskipun saat itu ia satu kelas dengan murid-murid dibawah usianya. Bapak tetap semangat melanjutkan sekolah sampai lulus SMA.

Setelah lulus SMA, bapak memutuskan melanjutkan kuliah di kampus swasta di Surabaya. Ia kembali bekerja serabutan sebagai sales mainan anak dan MC panggilan untuk membiayai pendidikannya. Di bangku kuliah, bapak bertemu dengan ibu yang ternyata mengalami nasib yang sama yakni yatim sejak kecil.

Setelah lulus kuliah, bapak menikahi ibu dan dikaruniai dua anak salah satunya saya. Di sinilah awal momen kehidupan bapak berubah drastis. Bapak diterima bekerja sebagai sales marketing di salah satu perusahaan swasta terbesar di Surabaya. Seiring waktu, karir bapak mengalami peningkatan hingga berhasil menjadi manajer di perusahaan tersebut.

Karena bapak tidak ingin anak-anaknya mengalami nasib yang sama. Bapak bertekad bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai ke pendidikan tinggi. Alhamdulillah, saya dan kakak saya berhasil disekolahkan bapak hingga menggapai gelar sarjana.

 

Penulis : Primanda Andi Akbar
Editor: Muhammad Ridhoi

BACA JUGA: “Resitasi” dan Bukti Lenturnya Sebuah Bahasa

 

 

Baca Juga

Ilustrasi Sebuah Rumah (www.pinterest.com)
Ilustrasi Cerpen Langkah yang Tertinggal (www.pinterest.com)
Picture of Primanda Andi Akbar

Primanda Andi Akbar

Lulusan S1 Ilmu Politik Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Sehari-hari bekerja di bidang kreatif dan digital.