Saatnya Menghidupkan Living Museum di Kampung-kampung

Kampung Tambak Bayan
Kampung Tambak Bayan

Membicarakan Kampung dalam lanskap kesejarahan terkadang lebih blokosuto daripada museum. Bedanya, museum punya etalase, label koleksi, petugas, tiket masuk, dan jam buka. Kampung tidak punya itu semua. Di kampung, koleksinya bisa berupa rumah tua yang masih ditempati. Arsip yang tersimpan di lemari warga. Pemandu wisata yang terkadang diampu oleh ketua RT. Bahkan, kuratornya bisa jadi hanya seorang kakek tua yang masig begitu hafal dengan sejarahnya.  Cerita sejarah biasanya keluar sambil ngopi, jagongan, atau ketika seseorang nyeletuk, “Lho, sampeyan ngerti ta, dulu di sini…?”

Nah. Biasanya semuanya dimulai dari kalimat itu. Sebab setelah kalimat “dulu di sini” keluar, seringkali kita baru sadar bahwa sejarah kota ternyata jauh lebih luas daripada yang tercetak di buku pelajaran.

Beberapa waktu terakhir saya cukup banyak bersinggungan dengan kampung-kampung Surabaya. Sebagian melalui proses pemetaan kehidupan budaya kampung, sebagian melalui jejaring Rukun Kampung Surabaya, Cak Abdoel Semute, kawan-kawan komunitas, mahasiswa, dan belakangan dengan kegelisahan yang sama ikut kami bawa dalam ontran-ontran kebudayaan yang kami geluti.

Semakin masuk kampung, saya semakin curiga. Jangan-jangan selama ini kita salah mencari museum.

Barangnya Ada, Ceritanya Juga Ada

Coba masuk Plampitan. Di satu kampung, orang bisa menemukan jejak Roeslan Abdulgani. Rumah kelahiran tokoh penting republik itu masih berdiri dan dibuka sebagai museum. Tidak jauh dari sana terdapat rumah yang berkaitan dengan Mayjen Sungkono. Ada pula makam Abdur Rahman, pejuang 10 November asal Plampitan, selain jejak Batik Tulis Peneleh dan sejumlah ruang bersejarah lain.

Yang menarik justru bukan terletak pada benda-bendanya saja. Dalam catatan lapangan yang pernah saya baca, seorang sesepuh bernama Bu Rusgani tidak berhenti pada cerita tentang rumah Roeslan Abdulgani. Cerita berserak kepada tokoh-tokoh lain, hubungan antargenerasi, sampai wejangan kepada anak muda supaya aktif berorganisasi.

Lha, itu museum apa bukan? Kalau museum hanya dimaknai sebagai bangunan yang menyimpan barang lama, mungkin bukan. Tetapi kalau museum adalah ruang tempat ingatan yang kemudian disimpan, ditafsirkan, dan diwariskan, kampung sudah melakukannya sejak lama.

Di Plampitan bahkan kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari lanskap sejarah. Orang masih saling menyapa, nongkrong, bercengkerama, ibu-ibu berkegiatan di ruang bersama, sementara bangunan dan makam bersejarah berada di tengah kehidupan warga, bukan terisolasi di kompleks steril yang setelah pukul empat sore gerbangnya dikunci. Itulah mengapa saya tertarik memakai istilah living museum.

Bukan berarti semua kampung mendadak dikasih papan besar bertuliskan “MUSEUM”, lalu warga diwajibkan memakai seragam pemandu wisata. Amit-amit. Kampung jangan sampai menjadi taman hiburan sejarah yang penduduknya diperlakukan seperti figuran. Living museum justru berarti sejarah tetap hidup karena manusia yang memiliki sejarah tersebut masih berada di sana.

Di Tambak Bayan, Tembok Bisa Bicara

Masuklah ke Tambak Bayan. Di sana ada memori permukiman Tionghoa, deretan rumah lama, Rumah Besar, lapangan kampung, mural, barongsai, dan aktivitas warga yang terus berjalan. Rumah Besar bukan semata benda mati. Bangunan tersebut masih digunakan untuk pertemuan, menerima tamu, rapat, dan kegiatan budaya.

Gang kampung bahkan punya banyak fungsi. Gang menjadi jalur orang pulang ke rumah, ruang interaksi sosial, tempat mural, sekaligus ruang pertunjukan ketika aktivitas budaya berlangsung. Lapangan dapat menjadi tempat ludruk maupun perayaan Imlek dan barongsai. Mural bukan sekadar dekorasi supaya Instagramable. Mural menjadi salah satu medium warga menceritakan identitas dan ingatan kampung.

Keren? Jelas.

Tetapi di balik romantisme itu ada persoalan serius. Memori Tambak Bayan hidup berdampingan dengan persoalan ruang hidup, pelestarian bangunan, regenerasi warga, relasi dengan pihak luar, bahkan dinamika sengketa ruang.

Di titik itulah kita harus berhati-hati. Jangan sampai konsep kampung budaya ujung-ujungnya hanya menjadi cara baru menjual kampung. Warga sibuk menjaga sejarah, orang luar datang memotret, lalu keuntungan ekonomi dan otoritas menentukan cerita malah pindah ke tangan orang lain.

Kang Semute dan Museum Bernama Omah Dhuwur

Cerita lain muncul di Dupak Bangunrejo. Ada Sanggar Seni dan Perpustakaan Omah Dhuwur yang dikelola Kang Abdoel Semute. Tempat itu dipakai untuk belajar dan aktivitas pelestarian budaya. Bahkan pos kamling pun tidak hanya menjadi tempat ronda. Pos tersebut menjadi ruang latihan, rapat kecil, dan tempat warga berkumpul.

Ini menarik. Kita sering punya bayangan bahwa infrastruktur kebudayaan harus berupa gedung megah. Ada AC sentral, layar LED, lalu dibangun dengan plang proyek yang ukurannya hampir mengalahkan bangunannya. Tetapi kalau di sana anak-anak belajar seni, warga berembuk, pengetahuan diwariskan, saya justru ingin bertanya: mana yang lebih berfungsi sebagai infrastruktur kebudayaan? Gedung miliaran yang sepi atau pos kamling yang tiap malam dipakai warga? Jawab sendiri. Saya takut dianggap provokator.

Dupak Bangunrejo juga memperlihatkan satu hal lain. Kehidupan budaya kampung bertahan bukan karena semuanya serba tersedia. Justru persoalannya mencakup keterbatasan ruang, keberlanjutan aktivitas budaya, regenerasi penggerak, stigma kawasan, dan dukungan lintas aktor. Pemetaan awal bahkan memperlihatkan kegiatan seni anak, sanggar, mural, tari, festival kampung, dan praktik kebudayaan berbasis warga sebagai aset penting yang perlu dijaga. Artinya, kebudayaan kampung bukanlah barang sisa.

Kita Selama Ini Terlalu Sibuk Melihat Gedung

International Council of Museums pada 2022 mendefinisikan museum bukan sekadar institusi yang mengoleksi dan memamerkan benda. Museum juga harus terbuka, dapat diakses, inklusif, melibatkan komunitas, serta menyediakan pengalaman pendidikan, refleksi, kesenangan, dan berbagi pengetahuan. Kalau prinsip itu kita tarik lebih jauh, museum masa depan sebenarnya tidak harus selalu dimulai dari pertanyaan: “Gedungnya mau dibangun di mana?” Pertanyaan pertama justru bisa jadi “Cerita apa yang masih hidup di sini?”

Setelah itu baru kita mencari siapa penjaga ceritanya, apa benda yang masih tersisa, bangunan apa yang menyimpan memori, tradisi apa yang masih dijalankan, kuliner apa yang mempunyai sejarah, permainan apa yang menghilang, siapa sesepuh yang masih mengingat, siapa anak muda yang mau meneruskan, dan ruang mana yang bisa menjadi tempat orang bertemu dengan semuanya.

Bayangkan kalau kampung-kampung mempunyai arsip digital sendiri. Rumah tua dipasangi QR kecil yang ketika dipindai membuka foto lama dan cerita pemiliknya. Gang diberi peta sejarah. Cerita tentang pejuang lokal tidak harus menunggu masuk buku sejarah nasional. Resep makanan dicatat. Seni direkam. Mural dikatalogkan. Tradisi kampung didokumentasikan. Tidak harus mahal. Yang mahal biasanya rapatnya.

Jangan Dibikin Proyek Dulu

Nah, ini bagian yang paling saya khawatirkan. Begitu ada istilah baru semacam living museum, biasanya naluri birokrasi kita segera bekerja. Bikin gapura; Bikin papan nama; Bikin logo; Bikin festival sehari; Undang pejabat; Potong pita; Foto bersama; Selesai.

Tahun berikutnya wassalam. Kalau begitu caranya, lebih baik tidak usah.

Living museum harus tumbuh dari warga. Pemerintah, kampus, komunitas kebudayaan, dan lembaga hanya membantu memperkuat kapasitas. Otoritas atas cerita tetap berada pada masyarakat yang menjalani sejarah tersebut. Kami ingin berdiri di titik itu. Bukan datang ke kampung membawa koper berisi resep kebudayaan, lalu menjelaskan kepada warga siapa diri mereka sendiri. Konyol tenan kalau sampai begitu.

Kami lebih tertarik membantu mempertemukan riset, sejarah lisan, dokumentasi, teknologi, jejaring, program publik, dan kemampuan warga untuk menceritakan kampung dengan suara kampung sendiri. Detailnya? Pelan-pelan. Mosok kabeh resep langsung diumbar.

Tetapi saya makin yakin satu hal. Museum di masa depan tidak semuanya harus berdiri sebagai bangunan baru. Sebagian sudah berdiri sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Bentuknya gang, Rumah, Warung, Makam, Bahkan obrolan seorang mbah yang selama ini dianggap cuma cerita lama.

Masalahnya, kita belum belajar melihat semuanya sebagai pengetahuan. Padahal di kampung-kampung itulah sejarah sering bersembunyi. Dan setiap kali satu sesepuh meninggal tanpa sempat direkam ceritanya, mungkin sebuah perpustakaan ikut terbakar tanpa pernah kita tahu. Jadi sebelum terlalu sibuk membangun museum baru, mungkin sesekali kita perlu masuk kampung.

Duduk. Ngopi. Lalu bertanya: “Cak, biyen nang kene ono opo?” Percayalah. Biasanya ceritanya panjang.

 

Penulis: Probo Darono Yakti

Editor: Imam Gazi Al Farizi

Baca Juga

Ilustrasi Puisi Masuk Kamus (www.pinterest.com)
Picture of Probo Darono Yakti

Probo Darono Yakti

Probo Darono Yakti adalah Pegiat Kebudayaan dan Co-Founder Kalanara Society. Ia juga kerap menulis refleksi sosial-budaya dan politik di berbagai media nasional. Di Instagram, ia berbagi celoteh sebagai @masprob. Saat ini, ia mengabdi sebagai dosen Hubungan Internasional di FISIP Universitas Airlangga
DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777