Sudah Jatuh, Tertimpa Tangga: Realita Sarjana Tak Sesuai Kebutuhan Industrinya

Baru-baru ini, Kemendikti sempat menyatakan wacana untuk menutup program studi perguruan tinggi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri. Pernyataan ini memicu banjirnya kemarahan dan kekecewaan publik, terutama dari kalangan akademisi. Banyak ahli yang beranggapan bahwa langkah pragmatis yang direncanakan ini mengancam kualitas ekosistem perguruan tinggi dan hanya berorientasi pada dunia industri. 

Salah satunya yaitu Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudin, Hetifah menilai perguruan tinggi tidak boleh direduksi menjadi sekadar pemasok tenaga kerja meski relevansi terhadap industri adalah hal yang penting. Dia menekankan setiap kebijakan terkait prodi harus berpijak pada kajian komprehensif, bukan sekadar merespons tren jangka pendek.

Sementara itu, tak kalah menariknya ada netizen yang setuju dengan langkah ini, dikarenakan sudah terlalu banyak lulusan sarjana menganggur, terutama dari bidang humaniora, seperti jurusan pendidikan. Terus terang, penulis yang merupakan mahasiswa dari salah satu prodi yang sudah diramalkan akan susah dapat pekerjaan merasa sangat resah dengan adanya kabar ini. Semenjak penulis dinyatakan diterima di prodi tersebut, muncul kekhawatiran yang lumayan besar mengenai jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia di bidang ini.

Sampai suatu ketika, penulis sedang iseng untuk mencari pekerjaan dengan mengetik program studi pada bilah pencarian di platform lowongan pekerjaan, betapa terkejutnya penulis karena yang tersedia hanya dua lowongan dan terlihat seperti pekerjaan fiktif berujung pada iklan aplikasi. Saat itu penulis hanya bisa membatin dan menyadari bahwa ironi seperti ini ternyata sudah lama ada dan tak kunjung menemukan akhir. Lantas bagaimanakah nasib jurusan yang dicap sulit dapat pekerjaan? Apakah berkuliah di jurusan tersebut masih relevan di jaman ini? 

Paradigma pendidikan sebagai tiket untuk naik kelas sosial 

Kalau kita amati, memang saat ini mencari pekerjaan adalah tantangan yang berat bagi tiap angkatan lulusan, terlepas dari jenjang pendidikan. Baik lulusan SMA dan SMK yang sudah siap menerjunkan diri di dunia kerja maupun lulusan perguruan tinggi yang memperpanjang waktu untuk memperdalam ilmu dan pengalaman, semuanya sama-sama memperebutkan lapangan pekerjaan yang terbatas. Jaman dulu ketika internet dan teknologi belum berkembang pesat, mahasiswa yang sudah lulus dari universitas bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan dikarenakan lulusan sarjana masih jarang dan masih banyak dibutuhkan di bidang industri. Berbanding terbalik dengan kondisi saat ini, ketika ijazah sarjana saja tidak cukup untuk membuat perusahaan luluh dan menyodorkan kontrak kerja. 

Hal ini sering menghantui penulis dengan banyak pertanyaan yang terlintas di benak. Salah satunya muncul ketika perkuliahan yang diikuti penulis kebanyakan penuh dengan teori dan minim praktik pada lapangan. Dengan mendalami teori yang saat ini dapat dicari dengan mudah di internet, apakah penulis masih bisa bersaing dengan teman-teman dari jurusan lain yang lebih sangar dan potensial di dunia kerja? Apakah perkuliahan yang penulis jalani selama empat tahun kedepan akan menjadi sia-sia karena tidak ada perusahaan yang mau menerima? Seperti yang penulis rasakan di awal, pernyataan ini sungguh meresahkan, namun juga dapat membuat penulis berpikir dengan lebih dalam. 

Negara yang panik angka pengangguran terdidik terus naik 

Munculnya berbagai pertanyaan ini diperjelas dengan situasi negara yang mengesampingkan aspek pendidikan menjadi prioritas dalam pembangunan berkelanjutan. Pada situasi krisis seperti ini, seharusnya pendidikan dapat menjadi solusi adaptif yang dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Namun hal yang diharapkan tentu akan berbanding terbalik jika pendidikan justru diletakkan hanya sebagai pajangan indah dalam bentuk bangunan megah. 

Apabila kita menilai dari kacamata netizen, penutupan program studi yang dinilai terlalu menjamur dan tidak sesuai kebutuhan industri bisa jadi masuk akal. Banyak kampus yang berlomba-lomba membuka banyak program studi dengan nama yang unik, kuota mahasiswa yang melimpah, dan iming-iming beasiswa pendidikan. Kampus seperti ini berpotensi mencetak lulusan-lulusan yang kurang berkompeten dan hanya menambahkan gelar di belakang nama. Penulis sering menjumpai fenomena ini di kehidupan nyata, terutama dengan mindset turun menurun yaitu: “yang penting kuliah, urusan kerja nanti pasti dapet.” 

Dengan banyaknya lulusan sarjana yang menganggur, kehadiran dan kontribusi negara dalam memperluas bidang industri perlu dipertanyakan. Di zaman ini, kampus seolah-olah hanya menjadi pabrik pencetak lulusan siap kerja dan terjun ke dunia industri yang belum tentu linear dengan bidang yang dipelajari. Padahal sejatinya perguruan tinggi adalah tempat untuk memperluas wawasan, mempertajam cara berpikir, dan menguatkan karakter demi memajukan peradaban. Terlepas dari bidang apa yang dipelajari, belajar di perguruan tinggi bukanlah hal yang sia-sia karena dari situlah, kita dapat mengenal lebih dalam bagaimana dunia ini bekerja. 

Sebagai seorang mahasiswa yang tumbuh dari latar belakang ekonomi menengah ke bawah, penulis selalu memiliki keyakinan teguh bahwa pendidikan dapat mengubah nasib seseorang di masa depan. Pernyataan ini tidak hanya sekedar ungkapan motivasi dan semangat bagi penulis untuk terus rajin belajar, namun juga tamparan terhadap realita bahwa kelas menengah akan digerus perlahan oleh kejamnya kapitalisme dan maraknya eksploitasi kelas pekerja di negeri ini. Masa depan tak melulu harus sesuai dengan ketersediaan di industri, namun masa depan tetap dapat diraih dengan tidak menyerah untuk hari ini dan seterusnya.

Penulis: Maria Febrianti Rahayu

Baca Juga

Ilustrasi Pinterest