Dekonstruksi Ogoh-Ogoh sebagai Teks Perlawanan dan Resolusi Kosmis

Sumber: unsplash

Mari kita sejenak mengambil jarak dari hiruk-pikuk modernitas yang mereduksi kebudayaan menjadi komoditas etalase pariwisata. Ketika berbicara tentang Bali, lensa kapitalisme global kerap membingkai tradisinya sebagai “eksotisme visual”. Namun, jika ditelaah lebih lanjut, kita akan menemukan bahwa tradisi Bali menyimpan daya ledak intelektual, dan salah satu manifestasi epik dari daya ledak tersebut adalah Ogoh-ogoh.

Ya, bagi turis, parade malam Pengrupukan mungkin hanya karnaval raksasa yang instagramable. Namun, bagi pemikir dan aktivis kebudayaan, Ogoh-ogoh merupakan “teks budaya yang hidup” (Geertz, 1973). Ia layaknya kanvas raksasa tempat masyarakat Bali di tingkat akar rumput, terutama kaum mudanya (Sekaa Teruna Teruni), menegosiasikan identitas, melontarkan kritik sosial, dan melakukan reset kosmis sebelum memasuki kesunyian Hari Raya Nyepi (Atmaja, 2020). Melalui tulisan ini, kita akan menelusuri bagaimana patung raksasa ini menjadi instrumen aktivisme spiritual dan ekologis yang merespons krisis zaman.

Melampaui Biner “Baik vs Jahat”

Secara etimologis, kata “ogoh-ogoh” diyakini berakar dari bahasa Bali ogah-ogah, yang berarti digoyang-goyangkan (Suarka et al., 2019). Ada kinetika, gerakan perlawanan dan dinamika dalam penciptaannya. Namun, untuk memahami anatomi filosofisnya, kita harus memahami konsep tentang Bhuta Kala.

Dalam diskursus keagamaan Barat yang dipengaruhi oleh tradisi Abrahamik, ada kecenderungan untuk melihat dunia secara biner hitam-putih: Tuhan versus Iblis. Pemahaman ini secara keliru dipaksakan untuk membaca fenomena Ogoh-ogoh, di mana Bhuta Kala direduksi sekadar menjadi “setan” atau “iblis”. Namun, ini adalah penyederhanaan yang mereduksi kedalaman filsafat Timur (Donder, 2007).

Berkenaan hal ini, Bhuta bermakna ruang atau elemen alam semesta (Bhu), sedangkan Kala berarti waktu. Bhuta Kala adalah energi purba, kekuatan alam semesta dan waktu yang tak terukur, yang pada dasarnya bersifat netral. Namun, ketika energi ini tidak terkendali, ia bermanifestasi menjadi kekuatan destruktif yang merusak tatanan (Titib, 2003). Kekacauan ini terjadi pada dua level absolut: Bhuana Agung (makrokosmos/alam semesta) berupa bencana alam atau wabah penyakit, dan Bhuana Alit (mikrokosmos/tubuh manusia) yang bermanifestasi sebagai keserakahan, amarah, egoisme, dan kebencian (Wiana, 2004).

Oleh karena itu, ritus Ogoh-ogoh dalam rangkaian Tawur Kesanga bukanlah ritual untuk “menyembah setan” atau sekadar mengusir hantu. Tujuannya adalah nyomya, menetralisir dan mengembalikan energi liar Bhuta Kala ke fungsi asalnya yang harmonis (Triguna, 2018). Saat Ogoh-ogoh digoyang-goyangkan dan diarak secara masif, masyarakat sedang memproyeksikan sifat-sifat buruk (adharma) ke luar dari diri mereka, untuk kemudian divisualisasikan, diakui, dan dihadapi secara kolektif.

Dari Epik Klasik hingga Kritik Kiwari

Setiap detail anatomis dari Ogoh-ogoh adalah penanda (signifier) yang merujuk pada petanda (signified) tertentu mengenai kecemasan dan nilai-nilai sosial masyarakat pembuatnya (Barthes, 1991). Tipologi Ogoh-ogoh kini telah mengalami perluasan spektrum yang luar biasa, menunjukkan bahwa masyarakat Bali dialektis dalam merespons zeitgeist (jiwa zaman).

Kita dapat membedah tipologi ini ke dalam beberapa klaster analitis. Pertama, bentuk-bentuk tradisional masih mendominasi sebagai pengingat akar filosofis. Representasi Bhatara Kala, misalnya, adalah pengingat tentang karma dan waktu yang akan menelan siapa saja yang melanggar dharma (Titib, 2003). Figur asura seperti Tarakasur dan Jalandhar merepresentasikan ego dan keangkuhan intelektual yang menghancurkan keseimbangan alam semesta (Bhuana Agung). Sementara itu, visualisasi Sang Kala Kalimaya (penguasa setra dan leak) serta Wong Samar (roh yang terjebak) merupakan metafora psikologis tentang karma negatif dan beban masa lalu yang harus dilepaskan oleh manusia.

Kemudian, tokoh-tokoh dari epos Ramayana dan Mahabharata divisualisasikan, seperti Rahwana atau Kumbakarna. Ini adalah metode pedagogi massa (pendidikan publik) di mana narasi moral disajikan melalui teater jalanan yang masif dan egaliter (Suarjaya, 2022). Di sinilah letak radikalisme intelektual dari seni Ogoh-ogoh. Dalam dekade terakhir, ruang estetik Ogoh-ogoh telah dibajak, dalam konotasi positif, oleh kaum muda sebagai medium kritik sosial terhadap hegemoni kekuasaan dan krisis ekologi (Putra, 2021). Kita melihat munculnya Ogoh-ogoh berbentuk tikus berdasi (simbol koruptor yang merampok uang rakyat), monster gergaji mesin atau monster berbahan dasar sampah plastik (kritik terhadap oligarki perusak lingkungan dan deforestasi), hingga figur raksasa berbentuk virus corona (representasi Bhuta Kala modern berupa pandemi).

Intelektualisme organik bekerja di sini. Pemuda banjar, untuk memahami ketidakadilan, mereka merasakannya secara material dan mengekspresikannya melalui karya seni monumental ini. Variasi seperti Garuda Mas hadir sebagai narasi tandingan yang mengusung simbol persatuan nasional dan cinta tanah air di tengah polarisasi politik, sementara Bhoma Antaka mengingatkan masyarakat pada pentingnya menjaga kesucian dan kelestarian alam lingkungan (Atmaja, 2020).

Ekokritisisme dan Perlawanan terhadap Komodifikasi

Sementara itu, kita harus kritis melihat bagaimana industri pariwisata global mencoba menjinakkan keliaran tradisi lokal. Ada masa di mana kapitalisme bahan industri mulai menginvasi pembuatan Ogoh-ogoh melalui penggunaan gabus sintetis (styrofoam/spons). Styrofoam memang murah, ringan, dan mudah dibentuk, namun ia meninggalkan residu mikroplastik yang menghancurkan ekosistem Bali. Ini adalah ironi kosmis, bahwa bagaimana mungkin ritual nyomya (mengharmoniskan alam) dilakukan dengan memproduksi sampah abadi yang merusak alam?

Namun, di sini letak harapan progresif itu. Terjadi gerakan perlawanan dan kesadaran kritis dari akar rumput. Pemerintah daerah dan Majelis Desa Adat, didorong oleh aktivisme lingkungan (eco-activism) dari kaum muda, secara tegas melarang penggunaan styrofoam (Putra, 2021). Proses pembuatan kembali ditarik ke pangkuan kearifan lokal (local genius) dengan menggunakan sistem ulatan bambu, kertas bekas, kayu, dan lem berbahan dasar tepung kanji (ramah lingkungan).

Pergeseran kembali ke bahan organik ini menjadi lompatan menuju kesadaran ekologis. Merakit bambu membutuhkan semangat gotong royong (menyama braya) yang tinggi, menguji kesabaran, dan memulihkan kohesi sosial di balai banjar. Dalam kacamata ekokritisisme, pembuatan Ogoh-ogoh organik merupakan bentuk perlawanan kelas pekerja/pemuda adat terhadap laju kapitalisme ekstraktif (Eckersley, 1992). Mereka membuktikan, bahwa seni monumental tidak harus mengorbankan ibu bumi (Pertiwi).

Dekonstruksi Materialisme dan Pemulihan Tri Hita Karana

Puncak dari dialektika Ogoh-ogoh terjadi pada tengah malam setelah perayaan Pengerupukan selesai. Beragam karya seni megah yang dibuat berbulan-bulan, menghabiskan dana jutaan rupiah, dan dirakit dengan keringat serta air mata kolektif kaum muda, pada akhirnya dibawa ke setra (kuburan desa) atau ruang terbuka untuk dibakar (pralina).

Dalam rasionalitas kapitalis yang mengagung-agungkan akumulasi materi, membakar karya seni yang begitu indah dan mahal adalah kebodohan ekonomi. “Mengapa tidak disimpan dan dijual?” atau “Mengapa tidak dipajang di museum untuk menarik tiket masuk?” adalah pertanyaan-pertanyaan khas nalar homo economicus.

Namun, dari perspektif psikoanalisis kesadaran, ritual pembakaran inilah intipati utama dari keseluruhan proses. Membakar Ogoh-ogoh adalah latihan psikologis tingkat tinggi tentang pelepasan kelekatan (vairagya) (Donder, 2007). Mengingat Ogoh-ogoh merupakan representasi dari ego, sifat buruk, korupsi, amarah, dan energi destruktif, maka menyimpannya berarti memelihara penyakit jiwa dan kekacauan kosmis.

Api pembakaran (Agni) bertindak sebagai elemen purifikator. Saat bambu berderak dan kertas menjadi abu, masyarakat Bali mempraktekkan pemusnahan adharma di dalam diri mereka. Ini serupa dekonstruksi terhadap egoisme material. Manusia diajarkan, bahwa keindahan materi bersifat fana (tidak kekal), dan kebanggaan kelompok tidak boleh menenggelamkan esensi spiritual.

Dengan hancurnya simbol kekacauan tersebut, tercipta ruang vakum yang steril. Kegaduhan massal (noise) seketika dihentikan dan diganti dengan kesunyian absolut pada keesokan harinya: Catur Brata Penyepian (Amati Geni/tidak menyalakan api, Amati Karya/tidak bekerja, Amati Lelungan/tidak bepergian, Amati Lelanguan/tidak bersenang-senang) (Wiana, 2004).

Di titik nol tersebut fondasi Tri Hita Karana diaktivasi kembali secara nyata. Parahyangan (Hubungan Manusia dengan Tuhan) disucikan melalui introspeksi tanpa gangguan duniawi. Pawongan (Hubungan Manusia dengan Manusia) diperbarui melalui rekonsiliasi setelah memproyeksikan kemarahan pada boneka Ogoh-ogoh. Palemahan (Hubungan Manusia dengan Alam) disembuhkan ketika manusia memberi jeda 24 jam kepada bumi untuk bernapas dari polusi udara, polusi suara, dan emisi karbon.

Merawat Nalar, Menjaga Semesta

Pemahaman terhadap filosofi Ogoh-ogoh mengajarkan kita, bahwa tradisi adalah organisme yang bernapas, teks budaya yang terus ditulis ulang oleh subjek-subjek sejarahnya. Ogoh-ogoh menantang kita untuk melihat melampaui bentuk estetikanya. Ia merupakan manifestasi perlawanan terhadap eksploitasi alam, kritik tajam terhadap kebusukan sosial-politik, dan ruang negosiasi di mana masyarakat akar rumput memegang kendali atas wacana spiritualitas mereka.

Dalam konteks pelestarian budaya di era disrupsi digital dan komodifikasi global, mempertahankan ritual Pengerupukan dan Ogoh-ogoh dengan bahan organik layaknya manifesto aktivisme yang puitis. Ia menampar keserakahan manusia modern dan mengingatkan kita, bahwa pada akhirnya, semua ego yang membengkak harus dikembalikan menjadi abu demi merawat keseimbangan semesta. Bahwa tradisi ini bukan sekadar sebagai tontonan yang menghibur, melainkan sebagai tuntunan reflektif untuk membakar angkara murka di dalam batin.

Baca Juga

Picture of Taufik Hidayat

Taufik Hidayat

Berlatar belakang pendidikan Teknik Elektro dari UGM dan PENS serta pengalaman mengajar di pesantren, sosok ini memadukan logika teknik dengan wawasan humaniora dalam memandang saintek. Setelah berkarier di sektor industri, kini mengabdi sebagai Inspektur Ketenagalistrikan Ahli Pertama di Dinas ESDM Jawa Barat, serta aktif menulis isu sains dan teknologi melalui kacamata sosial-humaniora.