Bertahan Hidup dengan Menjadi Guru Les Dadakan Untuk Melawan Krisis Ekonomi di Kota Surabaya

Ilustrasi Bertahan Hidup dengan Menjadi Guru Les Dadakan (www.freepik.com)
Bertahan Hidup dengan Menjadi Guru Les Dadakan

Tiada julukan yang paling pas untuk Surabaya selain Kota Pahlawan. Dahulu, para pahlawan Surabaya berjuang untuk merebut kemerdekaannya dari genggaman penjajah. Namun seiring berjalannya waktu, rupanya perjuangan mereka tidak berhenti sampai 10 November ’45 saja. Hingga kini, pahlawan-pahlawan Surabaya ini masih harus berjuang melawan kejamnya kehidupan Kotamadya. Ongkos hidup yang selalu merangkak naik, jadi salah satu alasan mengapa mereka harus terus berjuang. Hal ini juga dirasakan oleh Wahyudi (23), ketika diwawancarai pada Senin (14/07/2025).

Di sebuah kedai kopi pinggiran Jalan Karang Menjangan, Wahyudi menceritakan segala upaya yang telah dilakukan agar bisa survive dari kerasnya hidup di Kota Pahlawan. Ia merupakan seorang mahasiswa biasa yang sedang menjalani semester akhir di salah satu kampus Surabaya. Tanpa privilege keluarga, Wahyudi mengaku nekat berkuliah hanya bermodalkan niat dan uang beasiswa yang tak seberapa.

Awalnya Optimis, Jadi Pesimis Karena Beban Hidup

Pada mulanya, Wahyudi optimis uang beasiswa yang diterimanya tiap semester bisa mencukupi kebutuhan hidup di Surabaya. Namun kenyataannya, ia sering kali dibuat ketar-ketir ketika melihat saldo rekening, padahal jatah pencairan beasiswa masih tiga bulan lagi. Kondisi demikian membuat Wahyudi harus memutar otak demi bisa menyambung hidup lebih lama lagi.

Selain menuntaskan kewajiban di kampus, Wahyudi coba-coba menjajal berbagai macam job sampingan. Ia pernah menjadi figuran untuk sebuah film pendek, bekerja sebagai juru packing buah-buahan, hingga melayani jasa antar-jemput mahasiswa. Di samping itu, ia juga melakoni berbagai pekerjaan lainnya.

Dari semua jenis pekerjaan yang ia lakoni, sering kali ia tidak mendapatkan uang. Tak jarang ia hanya menerima nasi kotak. Bahkan hanya ucapan terima kasih sebagai kompensasi atas waktu, tenaga, dan pikiran yang ia curahkan.

Menjadi Guru Les Dadakan

Pada awal tahun 2025, Wahyudi mendapatkan tawaran untuk menjadi salah satu pengajar Bahasa Indonesia, di salah satu yayasan swasta daerah Bulak Rukem. Ia mengaku sempat bimbang lantaran tidak memiliki pengalaman mengajar sebelumnya. Tempat yayasan tersebut pun jauh dari tempat tinggalnya, sedangkan ia tidak memiliki kendaraan pribadi. Kendati demikian, karena merasa tidak ada pilihan lain, ia lantas menerima tawaran tersebut.

“Pas itu lagi butuh banget dan nggak ada pilihan lain lagi. Jadi tak ambil aja. Lumayan buat uang tambahan,” ungkap Wahyudi.

Yayasan swasta tersebut merupakan tempat les yang menawarkan jasa pengajaran ekstra untuk berbagai jenjang pendidikan. Mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Wahyudi pun menerima kontrak sebagai pengajar Bahasa Indonesia untuk siswa kelas 12 selama 5 bulan lamanya. Mulai bulan Januari hingga Mei. Sesuai kesepakatan, ia harus mengajar empat kelas dalam seminggu. Dan tiap pertemuan, Wahyudi akan menerima upah sebesar Rp75.000,- per kelas.

“Di sana aku diberi kontrak dari ketua yayasan untuk ngajar selama 5 bulan penuh. Dari Januari sampai Mei. Tiap minggu aku dapat jadwal dua pertemuan. Dan sekali pertemuan aku ngajar di dua kelas yang berbeda, isinya masing-masing 6 orang. Jadi, kalau ditotal aku harus mengajar 24 siswa kelas 12,” jelas Wahyudi.

Guru Les Punya Tantangan Tersendiri

Bagi sebagian orang mungkin menganggap guru les adalah sebuah pekerjaan yang remeh. Namun, tidak bagi Wahyudi. Ia merasa menjadi guru les Bahasa Indonesia justru punya tantangan tersendiri. Meskipun dirinya adalah mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, ia kerap mengalami kesulitan dalam mengajarkan materi Bahasa Indonesia.

Ketika dalam proses mengajar, Wahyudi sering kali mendapati masalah-masalah. Di awal pertemuan, tampaknya ia masih belum menemukan cara yang tepat untuk menyampaikan materi secara efektif.

“Karena ini first time, dan mayoritas yang diajar itu cewek, jadi aku agak deg-degan, belum terbiasa,” ucap Wahyudi.

“Tiap pertemuan kan selalu ditarget harus selesai 1 materi. Sedangkan per materi ada banyak subbabnya dan dikasih waktu cuma 1 jam setengah. Jadi, dari satu subbab ke subbab yang lain aku cepetin jelasinnya. Nah, dari situ banyak yang ngeluh kecepetan, banyak yang belum paham lah,” sambungnya.

Wahyudi juga menuturkan bahwa ia pernah merasa tidak mampu menyelesaikan satu materi dalam satu pertemuan. Ia pun menyiasati masalah tersebut dengan membahas materi tersebut dalam dua pertemuan.

“Pernah ada satu materi yang aku ngerasa nggak bisa diajarin kalau cuma dalam satu pertemuan. Kemudian aku ngomong ke pengurus kalau materi itu terlalu banyak subabbnya. Tidak cukup kalau dijelaskan hanya dalam satu pertemuan aja, harus dibagi dua pertemuan. Dan diperbolehkan,” tutur Wahyudi.

Belajar Bahasa Indonesia Membosankan

Wahyudi mengakui bahwa belajar Bahasa Indonesia adalah sesuatu yang membosankan. Hal ini disebabkan mayoritas materi membahas tentang kalimat atau cerita. Maka dari itu, ia selalu berusaha menyusun strategi pengajaran agar peserta didiknya tidak bosan. Ia juga kerap menyelipkan lelucon untuk mencairkan suasana di kelas.

“Yang jadi tantangan buatku adanya gap umur antara aku dan mereka. Mereka kan kebanyakan gen alpha. Ketika lagi ngajar, aku selalu serius. Tapi juga perlu diselingi guyonan biar nggak tegang,” ungkap Wahyudi.

“Aku akui memang susah buat menjaga mood mereka. Mood-nya kadang berubah-ubah. Misalnya ketika mereka pengen semua materi soal dibahas. Sedangkan waktunya pasti nggak akan cukup kalau aku bahas semua soal. Aku siasati buat bahas soal yang salah dan yang paling nggak dimengerti aja. Itu aja bisa bikin mereka langsung nggak mood,” sambungnya.

Tanggung Jawab Guru Les yang Besar

Dengan menjadi guru les Bahasa Indonesia, Wahyudi merasa memiliki beban tanggung jawab yang besar. Seluruh peserta didik yang diajarnya harus dapat memahami semua materi yang ia sampaikan. Di dalam kelas, Ia sering merasa dibatasi oleh waktu yang ditentukan oleh yayasan tersebut. Sehingga, ia juga menawarkan alternatif kepada peserta didik yang belum paham materi, bebas bertanya langsung melalui WhatsApp pribadinya.

“Aku tawarkan lah ke mereka kalau ada soal yang belum dijelaskan, atau ada hal yang masih belum dimengerti bisa chat langsung. Nanti pasti aku jelasin di sana. Dengan begitu aku bisa memastikan semuanya paham materinya,” ujar Wahyudi.

Meski awalnya Wahyudi mengalami banyak kendala dalam proses mengajar, hal ini tak lantas membuatnya kapok. Ia malah mengaku senang karena dapat membagikan ilmu yang bermanfaat. Setelah masa kontraknya usai, ia berniat untuk memperpanjang kontraknya lagi di tempat yang sama. Berbekal pengalaman yang telah ia lakukan itu, ia dengan tegas mengaku lebih siap untuk terjun ke dunia pendidikan, sebagai guru les Bahasa Indonesia.

 

Penulis: Alvindest Martial
Editor: Muhammad Ridhoi

BACA JUGA: Menjadi Terapis Anak Autis Bukanlah Pekerjaan Praktis!

 

Baca Juga

Ilustrasi Pinterest
Picture of Alvindest Martial

Alvindest Martial

Pengrajin Aksara Amatiran