BIRAM – Cerpen Karya Sang Rindu

Ilustrasi Biram (www.pinterest.com)
Ilustrasi Biram

Fajar mulai meraba nyenyat, bahkan malam seakan taat dan perlahan tanggalkan semat. Di bawah kaki langit, tepat pada rumah tua di sudut kota dengan dingin yang menyengat, Djimakit sedang sibuk bergulat bersama kuas dan harkat.

“Berhenti menatapku dengan tatapan mencemooh. Apa kamu lupa, So? Kamu dan aku sama-sama makan dari hasil lukisan ini; karya yang kamu sebut tak senonoh ini.” Djimakit beri aksentuasi pada akhir kalimat, sengaja biarkan rasa muaknya tertambat.

Tentu saja jemu itu sampai pada Somayah, sang adik dalam balut kain kelabu ari; yang jatuhnya bahkan tak sampai mata kaki. Maka meski hawa itu tersinggung, pada ambang pintu dia bergeming dan tatap Djimakit sambil abaikan pening. Lebih tepatnya, acuh pada warna merah molek di bidang lukis kakaknya; kontras dengan kusam dan ibanya.

“Tidakkah menurut Mas kita terlalu miskin? Pewarna yang Mas pakai mungkin lebih mahal dari satu genggam nasi.”

“Lalu kamu mau?” tanya Djimakit skeptis. Dijedanya jemari merengkuh kuas, beralih menuntut jawab atas rasa tak puas. “Apa perlu Mas mengemis di pasar atau di kaki orang-orang Belanda itu? Apa sekalian Mas habiskan seumur hidup di kapal yang tidak pulang-pulang dari waktu ke waktu?”

“Iya! Pergi sana, Mas!” Satu pekikkan pecah dari hawa di ambang pintu. “Pergi sana seperti pemuda lainnya! Jadilah kacung atau apa saja ketimbang melara di depan benda yang kamu sebut karya!” berang Somayah, merajam tepat di tempat Djimakit memupuk hati. Namun, sebelum balas serta tuntutan balik kakaknya naikan, Somayah kembali menyalak, “Merah pada kuas Mas itu lebih pekat daripada warna kainku, dia bahkan lebih merona dari darah dan air mataku. Kita ini miskin, Mas! Gairahmu sama seni itu hanya mencekik kita tanpa permisi.”

Sentakkan itu berhasil turunkan hening. Senyapnya mengisi langit-langit dan sela-sela retakan pada dinding. Somayah memilih angkat kaki dan tinggalkan kakaknya seorang dalam geming yang panjang. Di lain sisi, Djimakit tak merasa berhak menahan langkah adiknya dan berakhir terdiam sambil nikmati sensasi pilu atas fakta yang Somayah keluhkan.

Memang benar adanya. Sebanyak apa pun warna dan perpaduan yang Djimakit torehkan dari kuasnya, rasa yang akan dikecap hanya kepedihan, sebab mereka melarat dari tulang hingga atma. Warna apa pun akan sama di hadapan kemiskinan yang mulia, seakan telak harganya dipukul rata.

Sementara pikirnya mengudara, Djimakit sadar bila sosok cantik dalam kubangan darah karyanya menatap lara. Ada lekuk pinggang berbalut batik yang belum tuntas diberi arah, seolah menuntut Djimakit selesaikan apa yang dia mulai dan pinta.

“Persetan dengan kemiskinan yang biadab,” gumamnya getir, berakhir mengambang di langit-langit ruang yang akrab dengan aroma anyir. Djimakit kembali genggam kuasnya kala berkata, “Ayo, Cantik. Kita selesaikan ini dan buktikan kalau kamu bisa hasilkan sekarung beras dan lebih indah lebih dari sekadar pelikku.”

Kali ini Djimakit tak hanya angkat kuasnya, tetapi bawa sembilu menembus kulit dan dia tadahkan sebagian dari dirinya yang mengalir dengan warna merah merona. Amisnya menembus asa dan dipakai Djimakit sebagai pewarna untuk sosok cantik pada karyanya. Sapuan warnanya benderang dan akan membuat dara mana pun cemburu pada ronanya.

Tamat.

 

Baca Juga: Rekayasa Jilid Kedua – Cerpen Karya Yuditeha

Baca Juga

Ilustrasi Matahari dan Mantel dalam Cerita (www.pinterest.com)
Moctar Lubis
Picture of Sang Rindu

Sang Rindu

Salam dan rayu. Hawa ini bereksistensi dengan nama pena Sang Rindu. Merupakan salah satu di antara jiwa-jiwa yang penat dengan kota Jakarta, sehingga menghibur diri dengan menulis dan membaca. Dari sana lahirlah minatnya pada cerita pendek dan sajak, kemudian Rindu tekuni dan kini karya-karyanya dapat ditemukan pada beberapa laman media. Rindu dapat ditemukan pada laman Instagram bernama @leterindu.