Jika Tak Lagi Boleh Mendedahkan Curahan, Bagaimana Kita Bangun dari Kejatuhan?

Membaca tulisan berjudul “Kian Kritis, Semestinya Kian Malas Sambat” saya terasa kian malas sebenarnya untuk membalasnya. Bukan karena tak lagi penting, tetapi sebenarnya setelah membacanya berulang, agaknya justru malah membuat saya semakin greget— karena melihat beberapa kurang lagi memahami maksud-maksud saya yang termaktub dalam sebongkah esai yang saya tulis sebelumnya.

Kang Penulis itu, pertamanya sungguh saya apresiasi atas tanggapannya. Sebab, saya sangat bersyukur dengan adanya tulisan responsif dari beliau ini. Beliau ini merupakan penulis yang telah jauh berpengalaman. Sedangkan saya, hanya sebatas manusia yang sedikit mengorbankan diri untuk dapat terus belajar dengan salah satunya lewat jalur menulis.

Sebenarnya fenomena yang terjadi kali ini— antara saya dan beliau merupakan potret dari sedikit yang dimaksudkan atas argument-argumen yang termaktub dalam esai saya sebelumnya. Pada tulisan saya sebelumnya, pada intinya ingin bercerita tentang sensitivitas saudara saya yang berada dalam ruang-ruang formal pembelajaran. Selain daripada itu, sebenarnya saya juga ingin sedikit merefleksikan atas fenomena yang saya sorot agar dapat menjadi bahan bermuram durja atas pemaknaan-pemaknaan berproses kita semua di kehidupan ini.

Anehnya, saya justru tak menduga. Dalam esai Kang Penulis, beliau menuliskan beberapa ihwal yang saya kira perlu lagi untuk memahami esensi dari esai saya dari sudut pandang legawa. Bila mana pernyataan ini kurang lagi dan sekelibat dipikiran terasa memaksakan, boleh saja, dari pembaca melihat dari sudut pandang lain juga. Toh, saya tidak penuh harap, pernyataan-pernyataan dari orang bodoh semacam saya diterima dengan mulus di hati dan fikiran panjenengan semua.

Entah benar atau tidak, saya menangkap pernyataan Kang Penulis ini beliau menyoal tentang “Esensi Kritik” yang lahir dalam fenomenal sebelumnya di tulisan saya yang terbit waktu itu. Kang Penulis mengatakan, bahwa kritikan yang terlontar dalam kelas dari saya seakan hanya butuh validasi saja. Bahkan, konon katanya saya mengutip dari epistemik Barat hanya untuk terlihat lebih keren. Lagi-lagi, Kang Penulis juga malah mengaitkan dengan konteks pejabat.

Terkait persoalan esensi kritik, sebenarnya tujuan saya pada waktu di kelas itu hanya ingin menanggalkan sebuah buah soal yang tiba-tiba muncul selepas presentator menjelaskan materi. Pada mulanya, keresahan saya mengapa hal ini justru mendapati kejadian aneh (Baca: laser mata). Mereka yang justru hanya berdrama dengan mencari pertanyaan dari akal imitasi justru damai-damai saja. Coba fikirkan sendiri.

Kemudian tentang validasi yang dilabelkan pada saya. Entah, mau bagaimana mereka memandang saya. Namun, sebenarnya saya tidak ada tujuan untuk haus terhadap hal-hal validasi. Justru saya dalam konteks waktu itu ingin sangat agar saudara sekelas dapat benar-benar berdiskusi secara mendalam. Ya tidak harus lama, tapi setidaknya kita adakan interaksi yang dapat membantu kita dalam mengembangkan proses diri menjadi manusia yang dianugerahi fikir, jiwa, dan karsa.

Keanehan dalil fenomenologis yang juga dikelindankan dengan pernyataan pejabat itu juga kiranya kurang pas. Sebab, konteks di sini adalah dalam ruang pembelajaran yang menuntut suasana dan budaya yang ada di sana benar-benar cermin dari sebuah pendidikan manusia yang selalu merasa hamba. Artinya, kritikan itu, bagi saya dalam hal ini juga diskusi merupakan salah satu entitas dari rendahnya dan keterbatasan manusia dalam memahami diri dan sekitarnya. Apa jadinya bila kritik tak lagi ada, apa jadinya bila belajar kritis saja tak dibolehkan perkembangannya Curiga dengan pejabat boleh, tapi apakah kita tak ubahnya selalu menutup pengetahuan-pengetahuan dari siapapun orang yang kiranya distereotipkan tak dapat dipercaya itu. Kiranya, terkadang kita saklek menutup kemungkinan dari sesiapa yang kita stigmakan negatif. Jika beliau— Kang Penulis mengatakan tak perlu begitu risau jika kritik hanya berbalas alienasi atau bahkan vonisan “sok aktif”, Maka bagaimana kita akan melihat kesalahan diri maupun liyan untuk dijadikan bahan evaluasi kehidupan.

Terlepas dari klaim “rengekan anak kecil yang merajuk cari perhatian”, “argumen saya paling benar”, dan “saya butuh validasi, saya rasan-rasan” mungkin yang perlu di sini adalah mari merenungi pendapat-pendapat kita sendiri. Bukan soal menang ataupun kalah.
Akan tetapi, tentang saling mempertajam tafsiran, menggugat asumsi, dan merayakan keraguan yang produktif dan bersahabat. Setiap tesis layak untuk diuji, begitu juga antithesis pun sangat perlu didengar, dan setiap sintesis hanya persinggahan sementara. Sehingga dalam jangka waktu tertentu, mesti ada sebuah sintesis yang masih kuat di tempatnya, ada juga yang berkembang dengan perbedaan pendapat lalu ataupun sekadar transformasi sintesis. Saya hanyalah partisipan dalam panggung kebersamaan diskusi— belajar melepas gengsi, belajar mendengar getir, belajar bahwa sebagian kebenaran tak pernah saklek pada argumen tertentu. Teruslah untuk “mengasukan diri”— belajar dan menyadari keterbatasan manusia  memanglah ada dan kita perlu berusaha melawan “mengakukan diri”.

Baca Juga

Ilustrasi Jouska Marhun
Ilustrasi Harga Naik Lagi (Dok.Pribadi)
DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777