Penggali Kubur – Cerpen Karya Depri Ajopan

Ilustrasi Cerpen Penggali Kubur (www.pinterest.com)
Ilustrasi Cerpen Penggali Kubur

Jenazah itu baru saja dikebumikan. Namus bermenung sendirian di pemakaman itu setelah orang-orang pergi. Airmatanya jatuh ke tanah pekuburan beberapa titik. Sebagai tukang penggali kubur, ia merasa kehilangan sosok kawan sejati yang satu profesi dan saling mengerti dengannya. Ia tahu sendiri akan susah mencari pengganti almarhum Lisman yang cocok diajak untuk bekerja sama sebagai penggali kubur. Apalagi orang-orang di daerah ia tinggal sekarang, kehidupan mereka tergolong makmur. Jadi, mana ada yang bersedia bekerja sebagai penggali kubur seperti dirinya. Ia sendiri datang dari Pulau Jawa ke Sumatera karena diajak seseorang yang berhati baik, makanya ia bisa tinggal di daerah itu sebagai pekerja. Kalau tidak, mana ada ceritanya ia bisa tinggal di komplek elit. Selain penggali kubur dan tukang urut, sebagai kerja tambahan ia juga bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah Pak Sakib, orang yang membawanya. Ia dapat tempat tinggal di rumah itu. Hasil pekerjaannya hanya bisa untuk minum kopi setiap hari di warung, dan beli rokok. Untungnya makannya ditanggung Pak Sakib. Ia sangat bersyukur sekali, karena ia tidak sering kelaparan lagi seperti dulu. Sekarang hidupnya yang getir diuji lagi dengan kepergian kawannya untuk selamanya. Ia terus menumpahkan kesedihannya waktu masih berada dalam pemakaman itu, dan ia bicara pada kawannya seolah Lisman masih hidup.

“Kalau aku mati nanti, dan dikuburkan di sini sepertimu kawan, siapa yang bersedia menggali kuburku?” Ia menyaksikan sendiri tadi waktu pemakaman itu, hampir keseluruhan ia yang bekerja, semua yang membantu malas-malasan, termasuk ketika mengaminkan doa.

“Aku tahu akan ada, tapi yang benar-benar ikhlas melakukannya dari hati yang tulus, sulit sekali didapatkan. Apalagi aku orang asing di sini,” ia mencium tanah pekuburan itu, yang saja ditaburi bunga. Kali ini airmatanya tertumpah deras, tak kuasa lagi ia membendungnya. Ia menangis sesenggukan disaksikan burung-burung yang berkicau.

“Kau sudah lihat Lisman, mereka yang turut membantuku menguburmu hanya sekadar basa-basi. Untung masih ada aku di sini. Bagaimana kalau aku yang mati nanti? Apakah mayatku tidak diurus dibiarkan membusuk begitu saja? Atau barangkali walaupun diurus, tapi dengan cara serampangan.” Tentu saja tidak ada jawaban. Dengan langkah yang berat, dan pikiran kacau ia pergi meninggalkan kubur itu. Sesampai ia di rumah, ia duduk menyepi di dalam kamar, mengingat kenangan yang indah dengan kawannya Lisman, semasa ia masih hidup. Ia yang baru saja dihibur Pak Sakib, pemilik rumah di mana ia tinggal sekarang, tidak mampu membuat ia bisa berdamai denga hatinya selama beberapa hari

* * *

Seseorang datang mengetuk-ngetuk pintu rumah, ada yang mencari Namus minta tolong untuk diurut. Namus memaksakan dirinya tegar mengusir kesedihan yang menyelimuti hatinya. Setelah ia melaksanakan tugasnya mengururut orang itu, dan ia diberi upah. Orang itu mengajaknya ngobrol panjang. Obrolan mereka sudah melompat jauh ke mana-mana. Terkahir orang itu bertanya,

“Apakah Pak Namus punya keluarga di Jawa?” pertanyaan yang menusuk jantungnya seperti itu, pernah juga ditanyakan orang yang tinggal di komplek tersebut, ketika ia sendirian di dalam rumah dan saat gerimis turun.

“Tidak, saya tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini Pak,”  ia jawab lantang karena ia kesal mendengar pertanyaan seperti itu.

“Keluarga saya satu-satunya iyalah pemilik rumah ini yang peduli dengan saya,” ia mengambil sebatang rokok dan menghisabnya. Lalu ia bercerita awal ia bertemu dengan Pak Sakib, yang mengajaknya ke Sumatera setelah melihat kehidupannya yang memprihatinkan. Ia pun dipersilakan tinggal di rumah itu.

“Kenapa bapak mau jauh-jauh datang ke sini hanya untuk jadi tukang penggali kubur?” Semakin tajam pertanyaan yang harus dijawabnya.

“Saya kan ada pekerjaan sambilan, Pak.”

“Ya, tapikan pekerjaan bapak, pekerjaan rendah semua, termasuk menggali kubur , kenapa harus jauh-jauh ke sini? di Jawa jugakan bisa.”

“Siapa bilang penggali kubur pekerjaan rendah Pak.” Namus menggerutu. Kali ini ia benar-benar menunjukkan rasa tak suka dengan pertanyaan itu, juga tak senang dengan orang itu.

“Kalau penggali kubur bukan pekerjaan rendah, tentu banyak peminatnya, dan untuk sampai ke sana memerlukan persaratan yang berbelit-belit.”

“Maksud bapak?” Namus tak mengerti.

“Ya, minimalnya S1 atau S2 dan punya pengalaman minimal 2 tahun. Ini kan tidak, siapa saja bisa asalkan dia punya kekuatan fisik seperti bapak.” Namus heran cara berpikirnya Pak Lindung, orang yang baru saja ia urut. Bagi dia pekerjaan rendah itu, mereka yang bekerja dan menghalalkan segala cara termasuk para koruptor.

“Sekali lagi bapak merendahkan pekerjaan saya, saya siap berkelahi dengan bapak,” Namus langsung berdiri menunjuk wajah orang itu. Ia berani bertarung untuk membela harga dirinya yang dihina, dan memang ia merasa wajib ia melakukan itu.

“Sekarang silakan bapak keluar sebelum kesabaran saya habis, dan jangan lagi pernah datang ke sini minta bantuan saya untuk mengurut badan bapak yang sakit itu,” suaranya semakin menggelegar meyerupai guntur. Lindung bergegas pergi meninggalkan rumah, awalnya dengan hati yang panas. Dalam perjalanan ia berpikir jernih. Akhirnya menyesali semua ucapannya yang membabi buta, membuat Namus merasa sakit hati. Ia sadar seorang Namus yang direndahkannya begitu berarti bagi orang-orang.

 

Baca Juga: Lelaki yang Menghilang Dalam Sunyi – Cerpen Karya Pitrus Puspito

Baca Juga

Picture of Depri Ajopan

Depri Ajopan

lahir di Desa Lubuk Gobing, Sumatera Barat, 7 Desember 1989. Lulus program S1 Universitas Negeri Padang Prodi Sastra Indonesia. Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional serta di media daring. Ia bergiat sebagai anggota Komunitas Suku Seni Riau dan mengajar di Pesantren Basma Darul Ilmi Wassa’dah, Kepenuhan Barat Mulya, Rokan Hulu, Riau.