Mencari Filsuf Tak Perlu Jauh-jauh, Ada Ki Ageng Suryomentaram dari Tanah Sendiri

Ilustrasi Filsuf Ki Ageng Suryomentaram (www.pinterest.com)
Ilustrasi Filsuf Ki Ageng Suryomentaram

Kita rajin betul mengimpor banyak hal: teknologi, budaya pop, istilah akademik, bahkan cara berpikir. Di seminar, kita tak segan menyebut genealogi pengetahuan, self as subject, atau deconstruction dengan penuh percaya diri—meskipun belum tentu paham betul maknanya. Mengutip Foucault memberi sensasi intelektual tersendiri. Heidegger terasa prestisius. Derrida tampak radikal. Nama-nama itu berkelindan dalam percakapan akademik kita. Sementara pemikir dari kampung sendiri jarang disebut, bahkan kerap dianggap tak relevan hanya karena tak masuk dalam daftar pustaka universitas luar.

Sudahi dulu pergumulanmu dengan jargon-jargon asing yang membuatmu tampak sibuk berpikir. Barangkali, yang selama ini dicari-cari tentang manusia, kesadaran, dan makna, justru telah dirumuskan dengan jernih oleh seorang anak raja yang memilih hidup sebagai rakyat biasa: Ki Ageng Suryomentaram.

Mengapa Kita Terlalu Mencintai Filsuf Asing?

Dalam banyak ruang akademik di Indonesia, menjadi intelektual seolah identik dengan kemampuan mengutip pikiran orang asing. Sebuah kalimat bisa terdengar ilmiah jika memuat istilah Prancis yang tak diterjemahkan, atau jika dibumbui referensi luar. Menyebut Foucault, misalnya, tidak hanya memberi efek keilmuan, melainkan juga seolah memberi status: ini orang serius, bukan orang sembarangan. Kebiasaan ini membentuk apa yang bisa disebut sebagai inferioritas epistemik. Sebuah kepercayaan bahwa pengetahuan yang valid selalu berasal dari luar, sementara yang lokal hanya punya nilai folklorik, bukan filosofis. Kita bisa membaca Discipline and Punish dari awal sampai akhir dan belum tentu pernah menyentuh satu lembar dari Kawruh Jiwa Suryomentaram, meski persoalan yang dibahas sama-sama tentang kebebasan dan manusia.

Kecenderungan ini bukan semata-mata soal selera akademik. Lebih dari itu merupakan warisan panjang kolonialisme intelektual. Selama bertahun-tahun, sistem pendidikan kita dibangun dengan bayangan bahwa modernitas hanya bisa dicapai dengan meniru yang Barat. Maka para pemikir yang tak lahir dari sistem itu—yang menulis dalam bahasa sendiri, yang tidak mematuhi struktur ilmiah formal—sering dianggap tak layak masuk dalam kurikulum.

Sialnya, kebanggaan terhadap pemikiran luar sering tidak disertai pemahaman utuh. Filsuf-filsuf Eropa dikutip lebih sebagai dekorasi daripada perdebatan yang sungguh-sungguh. Ada jarak antara pemahaman dan penghayatan. Yang tersisa hanyalah kebisingan teknis—diksi rumit, footnote panjang, dan kekaguman berlebihan pada nama-nama yang bahkan susah dieja.

Dalam iklim seperti ini, tidak mengherankan jika Suryomentaram nyaris tak dibicarakan di forum-forum intelektual. Ia terlalu sederhana. Terlalu jujur. Tidak memerlukan perangkat teori untuk mengerti apa yang ia sampaikan. Dan karena itulah, justru terasa mengancam.

Suryomentaram dan Tradisi Kawruh Jiwa

Ki Ageng Suryomentaram (1892–1962) lahir di Yogyakarta, anak dari Sri Sultan Hamengkubuwana VII. Meski berasal dari keluarga bangsawan, ia memilih meninggalkan gelar dan kehidupan keraton untuk hidup sederhana sebagai petani dan pemikir. Ia dikenal luas karena merumuskan Kawruh Jiwa. Sebuah ajaran tentang pemahaman diri dan kejujuran batin, yang lahir dari pengamatan mendalam terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Gagasan-gagasannya menjadi warisan penting dalam khazanah pemikiran Nusantara.

Ki Ageng Suryomentaram merumuskan Kawruh Jiwa sebagai suatu filsafat batin Jawa yang berfokus pada “rasa” serta penghayatan diri. Ajarannya berakar dari praktik dan pengalaman hidup, bukan teks dogmatik: ia mengajak menyimak suara hati sendiri dan me-niteni (memperhatikan) gerak batin. Dalam tradisi ini, jiwa (rasa) dipahami sebagai inti keberadaan; memahami jiwa berarti mengamati perasaan tanpa ilusi.

Suryomentaram menegaskan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari doktrin tertutup, justru dari laku batin yang jujur dan reflektif. Ia pernah menggambarkan pencarian makna hidupnya sebagai laku renungan tanpa atribut duniawi. Kesimpulannya tentang “Aku bukan aku”–hidup kita justru bagian dari kehidupan orang lain. Dari sinilah tradisi Kawruh Jiwa lahir: pengetahuan praktis tentang jiwa manusia yang bersumber dari pengamatan atas diri sendiri dan orang lain, tanpa menghendaki status apalagi pemenuhan nafsu panjang.

Karep (Keinginan) sebagai Sumber Gemuruh Batin

Salah satu konsep sentral Kawruh Jiwa adalah karep (keinginan batin). Suryomentaram mengajarkan bahwa banyak penderitaan manusia bermuara dari kepinginan dalam diri–hasrat melekat untuk dipuji, dimiliki, atau dianggap penting. Misalnya, seseorang bisa gelisah terus-menerus mengejar jabatan atau popularitas untuk merasa bernilai. Menurut Ki Ageng, inilah akar kegelisahan: “manusia merasa tidak cukup, terus berlari mengejar sesuatu yang tak pernah selesai.”

Kunci Kawruh Jiwa adalah mengenali karep dan secara perlahan melepaskannya. Melalui kesadaran, seseorang tidak perlu “membunuh” keinginan, melainkan mengerti sifatnya yang senantiasa mulur-mungkret–mengembang ketika terpenuhi dan menyusut bila tak terpenuhi.

Dalam pengamatan Ki Ageng, kondisi hidup sebenarnya netral; rasa bahagia atau susah muncul tergantung ada tidaknya keinginan dalam diri. Sebagai contoh sehari-hari, kehilangan seorang istri menimbulkan kesedihan karena ada karep (berharap) agar ia tetap hidup; tetangga yang tak punya ikatan tak turut merasakan sedih. Begitu pula gaji yang diberikan boleh membawa bahagia bagi si penerima yang membutuhkannya, tapi mungkin tak berpengaruh bagi teman tanpa keinginan terhadap uang tersebut.

Pesan Suryomentaram jelas: keadaan luar itu netral, yang membuat kita senang atau susah adalah keberadaan keinginan batin kita sendiri. Dengan demikian, menahan atau mengatur karep–bahkan dengan menyadari penyebab setiap rasa susah–adalah jalan mencegah kegelisahan tiada henti.

Cakra Jiwa dan Lingkaran Pergulatan Batin

Walaupun tradisi Jawa mengenal gambaran cakra manggilingan–roda kehidupan yang terus berputar antara suka dan duka–Suryomentaram mengubah fokusnya ke cakra jiwa, yakni siklus batiniah yang dikendalikan oleh kesadaran. Ia mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak bergantung pada putaran nasib, malahan pada pemahaman akar perasaan.

Murid Kawruh Jiwa dilatih mengenali “situs” terjadinya rasa susah, yaitu keinginan yang belum terpenuhi, sampai muncul kesadaran terhadapnya. Konsep Langgeng Bungah Susah muncul dari sini: seorang pelajar KJ akan tetap “senang” meski dilanda susah, karena ia tahu persis penyebab kegalauannya. Setelah akar itu tersingkap–misalnya dengan tanya “mengapa aku kecewa?”–rasa susah tidak lagi membelenggu, ia berubah menjadi kondisi bahagia karena telah ada pemahaman. Dengan kata lain, melacak “cakra” keinginan di dalam jiwa dan mengungkap kenapa ia membatasi kebahagiaan dapat memutuskan lingkaran penderitaan. Dalam konteks ini, ilmu jiwa tidak sekadar ajaran pasrah; ia justru membebaskan pikiran dari cakra manggilingan dengan menuntun diri mencapai “pencerahan” dalam arti Jawa–rasa ikhlas karena mengenali kondisi diri secara utuh.

Kejujuran Batin dan Me-niteni Rasa

Di puncak Kawruh Jiwa terletak kejujuran pada diri sendiri. Ki Ageng selalu mendorong praktik batin yang bersifat introspektif. Metode utamanya disebut me-niteni rasa–mengamati emosi secara teliti sebelum bereaksi. Ketika seseorang marah atau kecewa, ajaran Suryomentaram mengarahkan kita untuk berhenti sejenak dan bertanya: “Mengapa aku merasa seperti ini? Apakah aku sedang ingin dianggap benar? Atau menang sendiri?”. Dengan cara ini, setiap orang belajar mengenal dirinya melalui rasa yang hidup di dalamnya, bukan sekadar berdasarkan nasihat eksternal. Kebahagiaan pun diartikan sebagai hasil kejujuran mengenali diri: meresapi perasaan tanpa kamuflase mental. Seperti dikatakan salah seorang pengajarnya: “Kebahagiaan lahir dari kejujuran mengenali diri dan keberanian menyelami batin tanpa ilusi”.

Ki Ageng menegaskan, kita tidak diminta melemah atau pasrah tanpa usaha, melainkan diminta berlaku jujur pada kenyataan batin sambil tetap berikhtiar. Ketenangan sejati bukan diperoleh dari menguasai dunia dalam–menjaga kedamaian hati di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Inilah landasan etika Kawruh Jiwa: merangkul nrimo ing pandum (menerima takdir dengan lapang dada) yang muncul dari pemahaman penuh terhadap diri sendiri. Ia juga mengingatkan agar kita menjadi manusia seutuhnya–tidak silau oleh gelar atau status, tidak dibutakan ambisi, dan tidak tercekik oleh kepemilikan berlebihan.

Pemikiran Suryomentaram menjawab kegelisahan sehari-hari dengan sederhana: pulanglah kepada rasa sejati dalam diri. Ia mengajarkan bahwa masalah manusia modern–kecemasan, stres, pencarian identitas – sejatinya akarnya terletak pada nafsu dan pretensi yang tak sehat. Dengan menerapkan ajaran ini, seseorang belajar mengalihkan fokus dari tuntutan eksternal ke refleksi batin: “apakah ambisi itu memang kepunyaanku, atau sekadar beban yang diciptakan pikiran?” Dalam praktiknya, Kawruh Jiwa mendidik sikap mawas diri melalui dialog batin, sehingga orang bisa ‘melihat aku mengawasi keinginan’ dalam dirinya. Hal ini memunculkan kebahagiaan abadi, karena dengan membiarkan diri jujur kepada rasa sendiri, kita tak lagi menjadi budak hasrat dan mampu menerima hidup apa adanya. Dalam kehidupan sehari-hari, ajaran ini relevan untuk mengatasi kecemasan dan ketergantungan sosial–dari ketakutan gagal hingga tuntutan penampilan–dengan cara sederhana: jujur menelaah isi hati, kendalikan keinginan, dan terima kenyataan yang ada.

Penulis: Sayyid Muhammad

Editor: Arizqa Novi Ramadhani

Baca Juga: Pengumuman (Menghibur) Indonesia

Baca Juga

Picture of Sayyid Muhamad Abdulloh Almustofa

Sayyid Muhamad Abdulloh Almustofa

Santri penuh waktu, mahasiswa separuh waktu, insyaallah warga negara Indonesia seumur hidup. Dapai dijumpai di Instagram @syd9_