Pengumuman (Menghibur) Indonesia

Ilustrasi Pengumuman (www.pinterest.com)
Ilustrasi Pengumuman

Hari-hari mengejutkan dalam politik Indonesia tak ada jaminan untuk merangsang kita tertawa. Marah pun tertahan. Indonesia sedang salah tingkah. Keputusan untuk tertawa dianggap menghina dan melawan kesopanan. Memberi air mata justru bukti kecengengan tanpa dampak mengubah keadaan. Hari-hari salah tingkah membuat kita pilih-pilih dalam mengikuti perkataan dan perbuatan para tokoh yang mengaku mengabdi Indonesia.

Di setiap detik, kita tak dipaksa mengikuti berita-berita politik. Kita boleh menggunakan 2 jam atau setengah hari untuk membaca novel. Kesadaran atas waktu agar tak dihebohkan politik memang pantas mengarah ke kenikmatan bacaan fiksi. Hadapilah seribu kejadian di Indonesia dengan bacaan! Seruan agar kita tak jatuh dalam kecemasan dan kegilaan.

Menunda Kiamat Buku di Indonesia

Di Indonesia, ribuan orang membaca dan ketagihan novel-novel gubahan Tere Liye. Gairah menikmati cerita memastikan Indonesia bukan negara miskin pembaca. Mereka menjadi kebenaran selebrasi keaksaraan (fiksi) di Indonesia. Di tangan mereka, novel memberi cerita dan hikmah tanpa harus dilanjutkan membaca buku-buku bertema politik atau biografi (presiden, menteri, jenderal, pengusaha, dan artis). Pilihan membaca novel saja sudah “kebaikan” dan amalan menunda Indonesia dari “kiamat” buku.

Sekian hari lalu, Tere Liye ikut “menghibur” babak perombakan kabinet dilakukan Prabowo Subianto. Ia membuat tawaran terbuka kepada tokoh pernah ambisius mencipta Indonesia berkoperasi. Pada situasi berbeda, ia selalu dituntut publik berkaitan perjudian berlatar masa kekuasaan Joko Widodo. Pengarang ingin berbuat baik dan berpahala, bukan berharap bisa menjadi menteri dalam Kabinet Merah Putih.

Pengumuman diunggah Tere Liye di media sosial terbaca ribuan orang: “Jika butuh hiburan, selingan mengisi waktu kosong, saya bisa mengirimkan buku-buku berikut: (1) Teruslah Bodoh Jangan Pintar; (2) Negeri Para Bedebah; (3) Negeri di Ujung Tanduk; (4) Si Anak Pemberani; (5) Selamat Tinggal.” Novel-novel itu diberikan secara gratis agar tokoh dipanggil Pak Budi mau menghubungi pihak manajemen.

Tere Liye tak ragu-ragu untuk berbuat kebaikan saat ada tokoh-tokoh sedih tak lagi menjadi menteri. Novel bisa menjadi bacaan hiburan. “Tawaran ini juga buat menteri-menteri lain yang kena reshuffle.” Di pengumuman, ia tak mencantumkan secara jelas nama Bu Sri. Panggilan untuk Pak Budi saja cuma mengarah satu orang, tak sekalian tokoh berinisial BG.

Pengumuman yang Menghibur

Pengumuman itu hiburan meski mengandung kritik atas situasi politik dan ulah para tokoh mengaku bekerja demi Indonesia. Pengarang terkenal dengan novel-novel laris ingin “mendekatkan” bacaaan kepada kaum politik, elite, atau sosok-sosok merasa penentu beragam kebijakan di Indonesia. Tawaran pengiriman novel-novel secara gratis mungkin ejekan kepada para tokoh diketahui memiliki harta miliaran rupiah.

Kita masih menemukan pengumuman “menghibur” bermisi Indonesia sebagai “negara buku”. Di Kompas, 6 September 2025, kita membaca artikel pendek memuat foto artis. Kita melihat foto tokoh, bukan buku. Sejak lama, tokoh itu mengajak Indonesia tertawa. Kini, ia bertanggung jawab ikut menjadikan Indonesia membaca.

Tokoh itu bernama Ernest Prakasa. Di Kompas, kabar baik terbaca: “Sejak maret 2025, ia membuat program ‘3 Buku di Tanggal 1”. Ernest membagikan tiga buku kepada pengikutnya di Instagram setiap tanggal 1. Pengikutnya hanya perlu menulis buku karya penulis Indonesia dan yang diinginkan dan menceritakan alasannya.” Ia mau berbuat baik. Kita beri pujian tanpa harus mendoakan ia kelak menjadi menteri. Berbuat baik tidak harus berakibat masuk politik dan meraih jabatan-jabatan mentereng.

Perkataan artis sering berbagi tawa itu dikutip: “Tidak perlu buku ilmiah untuk membuka wawasan. Novel sekalipun bisa mengajarkan banyak hal.” Indonesia memang memiliki ribuan judul novel, sejak awal abad XX. Indonesia bergelimang novel! Para pembaca memiliki beragam selera. Mereka kadang “saling ejek” membuktikan sebagai pembaca novel-novel bermutu atau memihak cap “laris”. Sengketa sesama pembaca masih “menghibur” ketimbang kita mengikuti omongan-omongan para tokoh di legislatif dan eksekutif mudah mencipta seribu sengketa. Sekian hari lalu, omongan anak menteri pun menimbulkan sengketa atas pemaknaan CIA dan kemiskinan.

Agar Indonesia Terus Bergelimang Bacaan

Kita insaf ajakan Tere Liye dan Ernest Prakasa agar membaca novel-novel itu pengesahan Indonesia membutuhkan fiksi, bukan bualan-bualan dan sumpah dalam lakon kekuasaan. Kita boleh memberi ajakan kepada Tere Liye dan Ernest Prakasa. Dua tokoh terkenal itu mengetahi makna dan dampak membaca novel. Mereka mendingan membaca buku lawas berjudul Renungan Indonesia (1947) berisi surat dan catatan Sutan Sjahrir. Sejak masa kolonial, Sutan Sjahrir sudah memberi anjuran agar kaum pergerakan politik demi mewujudkan Indonesia tekun membaca novel. Bergerak di jalan perlawanan demi memuliakan Indonesia perlu pijakan sastra. Sutan Sjahrir membuktikan sebagai pembaca novel. Ia pun membuat tulisan-tulisan hasil pembacaan dan pengamatan sastra di Indonesia berjalin dengan sastra di dunia.

Buku tentu tak diberikan secara gratis kepada Tere Liye dan Ernest Prakasa. Buku lawas sudah langka berharga mahal. Dua tokoh terkenal itu bisa membeli dengan harga terjangkau untuk edisi lawas terbitan Pustaka Rakjat. Sulit membaca tulisan berejaan lama, mereka bisa mencari di lokapasar penerbitan ulang Renungan Indonesia oleh sekian penerbit telah mengubah ke ejaan “disempurnakan”. Harga tampak murah ketimbang edisi lawas sering jadi rebutan para kolektor. Kita menunggu Tere Liye dan Ernest Prakasa khatam buku Renungan Indonesia, berlanjut membuat pengumuman “menghibur” di media sosial agar Indonesia terus bergelimang bacaan. Begitu.

 

Baca Juga: Puisi (Mengingat ) Indonesia

Baca Juga

Picture of Bandung Mawardi

Bandung Mawardi

Pedagang buku bekas, FB Kabut