Gerimis di dalam Dompet
Gajiku adalah selembar kertas pucat yang pemalu,
datang sebulan sekali dengan langkah ragu-ragu.
Angka-angkanya serupa bisikan yang nyaris tak terdengar
oleh riuh pasar yang memanggil-manggil namaku.
Di sana, harga-harga berteriak lebih lantang dari doaku;
cabai, telur, dan beras menjadi hakim yang tampil garang.
Nominal di kertasku semakin menunduk, semakin ciut,
merasa begitu fana di antara tagihan-tagihan yang abadi.
Dompetku adalah tanah retak yang merindukan hujan deras,
tapi gajiku hanyalah gerimis yang datang untuk pamit.
Ia hanya sempat membasahi permukaannya saja,
sebelum kembali menguap, diculik oleh kebutuhan.
Meninggalkan kembali tanah yang dahaga,
dan doa yang sama untuk hujan di bulan depan.
Yogyakarta, Agustus 2025
Luka yang Dibawa Pulang
Tubuh kami adalah mesin yang paling setia,
tak pernah menuntut suku cadang apalagi uang pensiun.
Selalu dipaksa berlari tanpa jeda,
tanpa selembar jaminan atau asuransi sebagai payung.
Jika suatu hari sebilah besi panas menyapa jari,
atau uap kimia memeluk lengan tanpa permisi,
luka itu adalah aib kecil yang harus kami sembunyikan,
sebuah rahasia yang wajib sembuh esok pagi.
Di rumah, kami obati sendiri perihnya di sudut sepi,
dengan betadine doa juga perban harapan.
Sebab kami tahu, jaminan paling pasti di negeri ini
bukanlah polis asuransi, melainkan sisa tenaga di tubuh kami.
Maka esok lusa, luka itu akan kami balut rapat-rapat,
disembunyikan di balik seragam kerja yang sama.
Siap kembali menjadi mesin yang taat,
yang lupa caranya merasa sakit, juga lupa caranya menjadi manusia.
Yogyakarta, Agustus 2025
Kursi Tanpa Nama
Di ruang rapat, aku adalah kursi tanpa nama.
Aku ada, tapi barangkali hanya sebagai pengisi hampa.
Suaraku adalah gema yang tak pernah sampai,
angin yang numpang lewat di antara kalimat-kalimat penting mereka.
Mereka memanggilku dengan nama jabatanku,
bukan nama yang dulu dibisikkan Ibu di telingaku.
Wajahku adalah latar belakang dalam foto-foto perusahaan,
sebuah ornamen agar ruangan tak tampak terlalu kesepian.
Akulah jeda di antara tawa dan agenda mereka,
sebuah paragraf sunyi yang tak pernah mereka baca.
Tapi aku terus di sini, mencatat dalam hati
setiap janji yang mereka ucap dengan fasih,
dan setiap pengkhianatan yang tak pernah mereka akui.
Kursi ini mungkin tak punya nama,
tapi ia punya ingatan yang amat setia.
Yogyakarta, Agustus 2025
Matahari yang Tak Pernah Ditegur Sapa
Aku berangkat saat mentari masih bersembunyi di balik selimut fajar.
Aku pulang saat ia sudah lama tenggelam di peraduan malam.
Kami tinggal di bawah langit yang sama, katanya,
tapi kami adalah dua orang asing yang tak pernah sempat bertegur sapa.
Waktu ibaratkan tali yang diikatkan di leher kami,
ditarik oleh angka-angka di slip gaji yang pucat pasi.
Masa muda kami layaknya komoditas yang ditukar
dengan upah tak seberapa, sebuah barter paling jujur
sekaligus paling sekarat.
Malam hari, di depan cermin aku bertanya pada bayanganku:
“Untuk siapa sebenarnya seluruh lelah ini?”
Ia tak menjawab, hanya menunjuk mataku
yang semakin cekung, semakin mirip dengan malam itu sendiri.
Yogyakarta, Agustus 2025
Pagi yang Sakit
Pagi ini, demam berbaring di kening mungil anakku,
tapi jam di dinding adalah Tuhan kecil yang tak kenal haru.
Tangannya yang hangat memelukku, tak mau lepas.
Hatiku retak, terbelah antara cinta dan cemas yang tak lunas.
Di ujung telepon, aku mengeja permohonan izinku
dengan suara yang kubuat setabah batu.
Lalu kudengar jawaban itu, sebuah vonis yang lebih dingin dari lantai:
“Bisa, tapi gajimu dipotong setengah hari ya, Mbak.”
Sebuah kalimat keramat yang memisahkan antara ibu dan upah.
Aku menatap wajah lelap anakku yang pucat,
lalu menatap dompetku yang isinya sudah hampir kiamat.
Di negeri ini, bahkan cinta seorang ibu pun
harus tunduk pada hitungan angka yang tak kenal ampun.
Dan sakit, ternyata adalah kemewahan
yang tak semua orang sanggup untuk membayarnya.
Yogyakarta, Agustus 2025
