Di Bawah Redup Lampu Jalan
kita berserakan di antara redup lampu jalan
kuserahkan malam padamu
kuhaturkan taman mimpi indahku
tersesatlah mungkin aku dalam kebiruan
yang tak kau suguhkan di saat terakhir
di saat kita menjelma sepasang anak kecil
yang entah ke mana harus pulang
selain menengadah
di tengah kerisauan
Berlumut di Laut Pikiranmu
namun aku ingin bertanya
pada alam, pada bumi, pada rahim
dengan warna apa kau dilukiskan
bintang-bintang tenggelam
kabut-kabut tergenang
tersisa aku di tengah sekarat
yang menolak hanyut
dari wajahmu
kudayung mata ini
menuju sepimu
hingga sepiku
berlumut
di laut pikiranmu
Betapa Kita
betapa liar dan memabukkan
saat secangkir puisi darimu
kutenggak hingga hilang
seluruh kesadaran
betapa cinta seperti tinta hitam
yang tak bermakna apa-apa
tanpa mawar putih yang sedia
dijarah keluguannya
betapa kita adam dan hawa
yang mati di pukul dua
dicekik rindu yang buta
mengeja hatinya
Nun Jauh di dalam Aku
1/
nun jauh di dalam aku
terbitlah kapal-kapal
tanpa nahkoda
tak mengucap salam
tak mengetuk pintu
hanya meminta tempat
bila sewaktu-waktu
aku pasrah pada hidupku
dan aku mulai mengemis
memohon dan menjerit
agar kau memaksaku
meruntuhkan kemahabesaran
ego keperempuananku
2/
matikan aku dari mimpi buruk itu!
datanglah kau pujangga
di pelabuhan terakhirku
karamkanlah beribu kapal
yang berusaha merenggut
kemahatinggian cintaku,
hatiku, jiwa, dan tubuhku
yang kuhormati setengah mati
yang kujaga dengan hati-hati
betapa cinta bernilai tinggi
dan kuhargai di sisa hidup
yang kumiliki
