Luka Sosial dan Puisi Lainnya Karya Jasmine Noor

Ilustrasi Puisi Jasmine Noor (www.pinterest.com)
Ilustrasi Puisi Jasmine Noor

MENGELUPAS MENGULITINYA

pena di tangannya

lebih berkilat dari pedang seremonial

menorehkan kalimat

yang membuat meja kayu itu

bergetar

kertas bergetar

suara bergetar

seperti belati dicabut dari sarungnya

ia tertawa haha-haha-haha

menyobek udara yang penuh cemooh

dan membiarkan penindasan

menunduk ke lantai

 

tatapan meremehkan runtuh

satu per satu

seperti cat dinding yang mengelupas

mengulitinya

pecah

ambruk

selamanya

 

(2025)

__

 

/ LUKA SOSIAL /

tu—

buh

= museum trauma =

pajangan: memar / rahim / ingatan

(dipajang di etalase kota,

dilihat—enggan dibela)

 

ko—

ta

/ penjara tanpa jeruji /

menyimpan sisa jerit

di bawah aspal

aroma besi & darah—

ditutupi alasan feminisme

 

ia—

menyetel api kecil di dada

(klik)

nyala itu tak padam

menjalar

menjalar

menjalar

/ obor /

bagi tubuh-tubuh lain

yang masih dipersekusi.

 

(2025)

__

 

PEREMPUAN YANG MENUKAR TIDURNYA

kau akan mati. kita akan mati, jika tiada suara yang menghantam tembok ini. maka perempuan itu berdiri menukar tidurnya. berjaga di pintu keadilan. menuturkan kematian wajah-wajah yang diarsipkan tanpa kubur. tentang tumbuh seorang anak dengan nama bapak yang kini menjelma sirkuit tanda tanya. membawa luka mereka

sebagai senjata. mengiris kebisuan seperti pisau di daging busuk. mengeluarkan bau

yang tak lagi muat di hidung penguasa. setiap suku kata adalah peluru tanpa mesiu. menembusi ketakutan. mengakari seluruh badan. menjadi satu-satunya dayung saat

sampan harapan dibiarkan karam. wahai penguasa. berapa nyawa lagi harus tumbang. sebelum kau menyebutnya pelanggaran? berapa rahim harus kau jahit dengan kawat berduri. agar mulut kami tak melahirkan kebenaran? sedetik saja. jenguk matanya. yang memanggul seribu jeritan. biar sejarah tahu. kebohongan dipelihara melebihi hewan kesayangan.

 

(2025)

__

 

PEREMPUAN DAN AGAMANYA

jilbab disebut pagar

seakan rambutnya adalah maling

doa terkunci di mulut

karena lidahnya dianggap racun

 

kitab-kitab dibaca

hanya dari satu arah:

suara lelaki

yang memonopoli surga

 

perempuan itu menunduk

mendengar namanya dipotong-potong

menjadi syarat

dikalungi fatwa

berbelas larangan

 

ia mengutuk udara

menahan sesak

menuliskan ayat baru

dengan napasnya sendiri.

 

(2025)

___

 

JEJAK LELUHUR DI PUNDAK PEREMPUAN

kain tenun di pundak

tak sekadar motif

peta luka

adalah jejak leluhur

yang dilipat industri pariwisata

 

nyanyian tua

terkubur

deru mesin

& baliho pemilu

 

tanah leluhur

dilego meteran

terbungkus sertifikat

dibagi rata oleh investor

 

ia menjahit kembali

identitasnya

dari sisa-sisa benang

lalu menjualnya mahal

ke butik pusat kota

biar modernitas

belajar membayar hutang.

 

(2025)

__

 

Baca Juga: Senin, Selasa, Jakarta dan Puisi Lainnya Karya Bintang Prakasa

Baca Juga

Picture of Jasmine Noor

Jasmine Noor

lahir di Semarang, 12 Juli. Alumnus Pendidikan Agama Islam di salah satu universitas di sekitar Tangerang Selatan, Jasmine Noor kini mengabdikan diri sebagai guru dan tutor. Jasmine telah menunjukkan kecintaannya pada kata-kata sejak kecil, berkat peran serta ibunya. Di tengah kesibukannya, Jasmine tetap aktif menulis puisi dan kini tengah bertumbuh bersama komunitas menulis Puan Beraksara. Karya-karyanya telah menghiasi beberapa buku antologi puisi, seperti Suluk Api Malang Sumirang (2022), Rintik Hujan (2022), dan Goresan Puan (2024). Karya-karyanya juga dapat ditemukan di berbagai media. Jasmine dapat dikunjungi di laman Instagram dengan nama pengguna @jsmnoor