Hari Peringatan, Setumpuk Lelah dan Bosan

Ilustrasi Hari Peringatan, Setumpuk Lelah dan Bosan (www.pinterest.com)
Ilustrasi Hari Peringatan, Setumpuk Lelah dan Bosan

Di Indonesia, ada ratusan hari peringatan. Kita lelah atau bergairah merujuk beragam kepentingan. Pembuat hari-hari peringatan bisa oleh pemerintah, institusi, atau komunitas. Hidup di Indonesia berarti hidup dalam peringatan-peringatan menghasilkan tema-tema hampir (tanpa) makna. Kita pun bosan dengan pemasangan spanduk atau poster berkaitan hari peringatan. Bosan bertambah bosan saat setiap hari peringatan orang-orang memberi tulisan “selamat hari…”. Foto dan gambar kadang ikut bikin sesak bagi penglihatan.

Kita mungkin boleh mengusulkan penghapusan atau pembatalan hari-hari peringatan di Indonesia. Usulan dialamatkan kepada pemerintah dan DPR. Konon, mereka boleh mengadakan rapat dan mengeluarkan keputusan agar di Indonesia tak keseringan mengadakan hari peringatan. Pada saat kita jenuh dan capek, menteri bernama Fadli Zon malah rajin menbuat hari-hari peringatan. Kita menunduk saja untuk malu atau bingung.

Sebaiknya Dihapus Saja

Sekian hari lalu, ada orang-orang mengadakan peringatan mengenai kunjungan ke perpustakaan. Apakah itu peringatan penting bagi martabat dan masa depan Indonesia? Jawaban boleh macam-macam meski menimbulkan polemik. Hari peringatan itu disambut oleh Kompas dengan mengadakan seri artikel mengenai perpustakaan dan pustakawan. Kita diminta jangan lelah memikirkan nasib perpustakaan. Di Indonesia masih ada perpustakaan. Konon, ribuan perpustakaan masih hidup dan memberi terang keaksaraan. Kita belum ingin bersedih dan cengeng memikirkan ribuan perpustakaan tutup, merana, dan hancur.

Kita tega memberi usulan hari peringatan itu ditiadakan saja. Setumpuk argumentasi dan bukti disediakan agar usulan itu terwujud. Kita mengaku bingung dengan hari peringatan berlebihan di Indonesia. Apakah peniadaan mengakibatkan Indonesia terpuruk atau memble dalam arus keaksaraan dan pengetahuan?

Penantian agar hari peringatan (kunjungan) perpustakaan ditiadakan mungkin terasa sendu sambil membaca puisi gubahan Triyanto Triwikromo berjudul “Penunggu Perpustakaan”. Puisi bukan pesanan pejabat di Perpustakaan Nasional. Begitupun Puisi tak cocok digunakan sebagai materi dakwah bagi jamaah bacaan di seantero Indonesia. Puisi boleh sekadar dibaca oleh murid dan guru tanpa harus menggunakannya untuk tugas parafrase. Para mahasiswa belum perlu memilih puisi itu demi pengerjaan skripsi. Puisi untuk dibaca sejenak saja.

Membaca Puisi Penunggu Perpustakaan Karya Triyanto Triwikromo

Triyanto Triwikromo menulis: tentu saja aku tak ingin terbakar bersama penunggu/ perpustakaan para pemberontak. meskipun kerap berlagak/ sebagai unta pemarah, mereka bukan seteru. meskipun penafsir/ undang-undang yang tolol, mereka tak pernah berkhianat. Larik-larik tak ada urusan dengan kebijakan-kebijakan perpustakaan di Indonesia. Puisi jangan terlalu berdampak bagi kita: pesimis dan merelakan kehancuran perpustakaan.

Mari kita lanjutkan membaca puisinya: “aku lebih suka tidur dalam kegelapan”/ “kalau begitu kau lebih suka bersekutu dengan setan”/ “ah, aku lebih kerap bersekutu dengan ular”/ “ular dari semak-semak coklat”/ “ular yang sangat mahir berbohong?”/ “ular yang terselip di rak buku perpustakaan”/ “ular yang membaca nubuat kapan tuhan mati”/ “ular yang tak pernah membaca kalam apa pun.” Berharaplah larik-larik itu tak ditulis dengan huruf berukuran besar di tembok perpustakaan atau taman baca di Indonesia. Puisi terasa menakutkan saat kita berbarengan ikut memikirkan perpustakaan di Indonesia. Kita pastikan nasib perpustakaan tak ditentukan oleh satu atau selusin puisi.

Puisi menambah pusing dan bingung untuk kepastian peniadaan hari peringatan berkaitan perpustakaan. Kita kurangi pusing dan bingung dengan membaca buku kecil. Buku itu berjudul Pedoman Penjelenggaraan Perpustakaan Sekolah Sederhana (1972). Buku yang disusun oleh Lembaga Perpustakaan, Departemen P & K, Buku tipis dalam kepentingan ikut mengesahkan “Tahun Buku Internasional”.

Album Kliping Nestapa Perpustakaan

Bahwa Ajip Rosidi mengingatkan usaha-usaha dan situasi Indonesia masa 1970-an: “… menjediakan buku-buku batjaan jang sehat untuk mengisi perpustakaan sekolah-sekolah. Tapi walaupun bukunja sudah tersedia dan di kalangan guru-guru sekolah pun sudah mulai timbul kesadaran tentang pentingnja perpustakaan di sekolah dan pentingnja buku di dalam kehidupan modern, namun nampak sekali kurangnja tenaga ahli perpustakaan jang terdapat di sekolah-sekolah.” Tulisan dimulai dengan pengharapan, disusul keluhan-keluhan. Sejak dulu, perpustakaan di Indonesia memang belum mendapat doa-doa lestari sampai kiamat.

Buku itu sumber kenangan. Kita mengenang lemari di kantor guru ditempeli kertas bertuliskan: “perpustakaan”. Sekian orang mengingat ruang kecil, pengap, dan lusuh dianggap sebagai perpustakaan di sekolah. Masa lalu itu buku mendapat stempel “perpustakaan….” dan tempelan kertas di sampul buku memuat beragam keterangan. Perpustakaan itu kartu dan keharusan mengisi di buku besar mengenai tanggal peminjaman dan pengembalian. Kenangan perpustakaan itu jarang memancarkan gairah, indah, dan sumpah atas nama lakon keaksaraan.

Kenangan-kenangan jelek ditambah berita-berita di koran. Di pelbagai kota dan kabupaten, kantor arsip dan perpustakaan biasa mengajukan tambahah dana. Duit besar digunakan dalam membangun pagar, menambah fasilitas, pengecatan, pemasangan mesin pendingin udara, dan pembelian alat-alat mahal. Pihak perpustakaan menggunakan uang besar seringkali sia-sia agar terjadi peningkatan kunjungan perpustakaan. Sekian berita bikin jengkel terus bertambah. Kita belum mau membuat album kliping nestapa perpustakaan.

Perpustakaan Masih Penting

Pada masa lalu, nasib perpustakaan mengikutkan istilah-istilah. Kenangan kita berlanjut dengan membuka Kamus Istilah Perpustakaan (1990) susunan Lasa H. Kamus tipis, tak sampai 100 halaman. Kamus berguna pada masa lalu, belum tentu penting untuk abad XXI. Di halaman 47, kita membaca masalah International Standard Book Number atau ISBN. Keterangan dicantumkan oleh Lasa: “Bahasa internasional dan komunikasi serta transaksi perbukuan juga sebagai bahasa informasi. ISBN merupakan hasil keputusan rapat perwakilan perbukuan negara-negara Eropa: Inggris, Swedia, Jerman Barat, Belanda, Prancis, dan Amerika Serikat serta utusan dari UNESCO tahun 1986. Keputusan itu diusulkan ke International Standard Organization (ISO) dan diterima sebagai nomor standar perbukuan secara internasional pada tahun 1970.” Kamus itu membuat kita mengetahui petunjuk setelah ada keluhan dan debat ISBN bagi institusi perbukuan di Indonesia dan Perpustakaan Nasional.

Perpustakaan masih penting. Hari peringatan (kunjung) perpustakaan boleh tidak penting. Kita masih menanti terjadi penghapusan hari-hari peringatan di Indonesia. Pada masa depan, kita cuma memerlukan satu hari saja dalam peringatan saja untuk buku, pustakawan, perpustakaan, dan aksara. Tema tak usah berganti setiap tahun. Setiap peringatan belum mewajibkan pejabat hadir dalam acara besar memberi sambutan dan nasihat. Hari peringatan sederhana saja demi pengiritan dan menghindari kemubaziran. Begitu.

 

Baca Juga: Pengumuman (Menghibur) Indonesia

Baca Juga

Sumber: Cover Kumpulan Puisi Catatan Pekarangan Acak
Picture of Bandung Mawardi

Bandung Mawardi

Pedagang buku bekas, FB Kabut