Hidup di Solo: Hati Tetap Tenang Meski Kampus Ramai dan Jalanan Macet

Ilustrasi Kota Solo (www.pinterest.com)
Ilustrasi Kota Solo

Solo bukan hanya kota budaya, melainkan juga kota pelajar. Ribuan mahasiswa baru berdatangan setiap tahun untuk menempuh studi di kampus-kampus ternama: Universitas Sebelas Maret (UNS), Institut Seni Indonesia (ISI), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Poltekkes, dan berbagai kampus swasta lainnya. Mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia, membawa cerita, semangat, serta gaya hidup yang beragam. Kehadiran mahasiswa ini menjadikan Solo semakin ramai, menambah denyut kehidupan, sekaligus meningkatkan kepadatan kota yang dulu dikenal lengang.

Bagi warga lokal, kehadiran mahasiswa ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, mereka membawa rezeki. Kos-kosan penuh, warung makan laris, laundry tak pernah sepi, ojek online semakin lalu-lalang di jalan. Kehadiran mahasiswa menjadi roda penggerak ekonomi kecil dan menengah, memberi napas baru bagi banyak keluarga yang menggantungkan hidup dari jasa kos, warung makan, atau usaha kecil lainnya.

Di lain sisi, dampak kepadatan yang timbul juga tak bisa dihindari. Mahasiswa ikut mengisi jalanan dengan sepeda motornya. Kawasan kampus seperti Kentingan dekat UNS atau Pabelan dekat UMS menjadi titik-titik yang langganan macet di jam masuk dan pulang kuliah. Jalanan yang dulu dikenal sepi kini penuh kendaraan. Belum lagi harga properti yang merangkak naik. Warga lokal yang sebelumnya bisa menyewa rumah dengan harga terjangkau, kini harus berhemat lebih ketat karena bersaing dengan mahasiswa pendatang yang sanggup membayar lebih.

Tetap punya kehangatan melalui slow living

Meski diwarnai hiruk-pikuk, Solo tetap punya cara untuk menyerap perubahan ini. Kota ini tidak kehilangan jiwanya: ritme slow living yang khas. Di tengah kepadatan, orang Solo tidak terbiasa tergesa-gesa. Selalu ada jeda untuk sekadar menarik napas, berbincang dengan tetangga, atau duduk di bangku kayu sambil menyeruput teh panas dan menariknya. Mahasiswa pendatang lambat laun terbawa arus.

Mahasiswa yang semula terbiasa hidup dengan ritme cepat, diburu target dan dikejar waktu, perlahan belajar untuk menurunkan tempo. Mereka menemukan ciri bahwa Solo mengajarkan kesederhanaan. Alih-alih nongkrong di kafe modern tiap malam, banyak mahasiswa justru lebih suka berakhir di wedangan murah meriah. Wedangan bukan sekadar tempat makan, tapi ruang pertemuan sosial yang cair.

Di sana, obrolan bisa bermacam-macam. Mulai dari cerita ringan tentang tugas kuliah yang menumpuk, gosip tentang dosen, hingga diskusi serius tentang politik kampus atau rencana masa depan. Semua mengalir santai tanpa harus merasa terburu-buru. Saya sendiri merasa di wedangan inilah, banyak mahasiswa menemukan kehangatan hidup: bahagia sesederhana segelas teh manis hangat dan gorengan seribu rupiah.

Suasana slow living juga terasa di pagi hari. Banyak mahasiswa memilih jalan kaki ke kampus sambil menikmati udara segar, sesuatu yang jarang bisa dilakukan di kota metropolitan. Ada yang sarapan nasi liwet, bubur ayam khas Solo, atau sekadar sego kucing di warung kecil sebelum kuliah dimulai. Kadang, ada yang duduk sejenak di taman kota atau di tepi jalan sekadar meresapi suasana sebelum memulai aktivitas akademik. Semua hal sederhana itu memberi ruang untuk menyadari bahwa hidup tak selalu harus ngebut.

Selain itu, Solo juga punya banyak ruang publik yang mendukung ritme pelan ini. Taman Balekambang, Lapangan Manahan, dan alun-alun kota yang menjadi tempat mahasiswa melepas penat. Di sore hari, ramainya lalu lintas diimbangi dengan pemandangan warga berolahraga, anak kecil bermain, atau pedagang kaki lima yang menjajakan makanannya. Kehidupan terasa penuh, tapi tetap hangat.

Dinamika yang pas antara hiruk-pikuk dan kedamaian

Tentu kepadatan membawa tantangan baru. Lalu lintas lebih sibuk, biaya hidup naik, dan kota jadi lebih riuh dibanding beberapa dekade lalu. Namun, justru di situlah letak uniknya Solo. Kota ini mampu memadukan keramaian modern dengan filosofi alon-alon penting kelakon. Mahasiswa yang datang tidak hanya belajar ilmu di ruang kelas, tapi juga belajar cara hidup yang lebih tenang. Mereka menemukan bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dengan seberapa cepat sesuatu diraih, melainkan bagaimana proses itu dijalani dengan sabar dan bermakna.

Solo pada akhirnya menjadi ruang belajar ganda. Ia mengajarkan pengetahuan akademik melalui kampus-kampusnya. Di sisi lain, ia mengajarkan kearifan hidup melalui keseharian yang sederhana. Mahasiswa belajar bahwa kebahagiaan bisa lahir dari hal-hal kecil: obrolan ringan di wedangan, jalan kaki di pagi hari, atau duduk santai menunggu hujan reda di emperan toko. Semua itu menjadi pengalaman batin yang tak kalah penting dibanding gelar sarjana.

Memang benar bahwa Solo semakin padat oleh pendatang baru, utamanya mahasiswa. Namun di balik keramaian itu, kota ini tetap menjaga ritmenya yang pelan tapi penuh makna. Solo seolah berkata: tak apa sibuk, tak apa ramai, asal jangan lupa meluangkan waktu untuk menikmati hidup. Inilah keindahan Solo, tempat di mana mahasiswa bukan hanya belajar pengetahuan akademik, melainkan juga seni menikmati hidup dengan sederhana, sebuah pelajaran yang barangkali lebih langka dari apa pun yang bisa mereka temukan di kota lain.

Penulis: Maridza Aghnia

Editor: Arizqa Novi Ramadhani

Baca Juga: Melihat Disparitas UIN Jogja dan UGM dari Wajah Hidangan Snacknya

Baca Juga

Picture of Maridza Aghnia

Maridza Aghnia

mahasiswa yang lebih sering berdebat sama kantong kosong ig : @idzachiv_