Racun Icang – Cerpen Karya Amanina Rasyid Wiyani

Ilustrasi Cerpen Racun Icang (www.pinterest.com)
Ilustrasi Cerpen Racun Icang

Matanya yang berkaca-kaca. Memandang jelas dengan pasrah ke sekumpulan polisi. Senyum menyeringai itu tak memberi kesempatan sedikit pun rasa takut untuk unjuk diri—namun matanya. Silaunya. Lebih mampu menanamkan kesedihan di hatiku. Ia tidak bersalah. Perempuan itu tidak bersalah. Tak mungkin ia meracuni Tete Iyak

Aku percaya walau besok matahari terpecah menjadi sepuluh bagian sekali pun atau komandan raya akan menembak matiku di tanah. Jelas-jelas kepercayaan ini bisa jelas di antara pantulan matanya. Ia tidak berbohong. Ia cuma pandai untuk tegar.

“Abang Sein, perlawanan itu bernama diam. Kali ini diam akan menjadi perlawananku. Walau tubuhku ditikam seribu kematian atau disiksa dengan karet duri di sekujur badan. Kau tahu aku tetap hidup.” Itu kalimatnya yang kuingat sebelum kami berselisih paham soal harga beras yang melambung tinggi.

“Tete Iyak bukan mati karena Icang. Aku percaya itu Umam,” ungkapku ke Umam. Tentu dengan berbisik dan tetap berdiri setengah tegap.

“Kau bukan siapa-siapa di sini Sein. Sebentar lagi paling kalau tidak mati, dia diracuni kembali atau disiksa sampai—ya kau tahu perempuan.”

 

….

Aksi demonstrasi berjilid-jilid terjadi dalam tiga pekan terakhir. Menuntut agar pemerintah membebaskan sekitar 300 mahasiswa yang ditangkap karena memiliki buku-buku berhaluan kiri. Mereka dianggap sebagai dalang dari kekacauan negara. Meski kondisi yang sudah sedemikian kisruh, tidak ada tanda-tanda masyarakat melakukan perlawanan. Jadi tak lain, mahasiswa yang lagi-lagi perlu turun ke jalan.

Hari itu, sebuah tuduhan diarahkan kepada Icang. Perempuan kecil yang juga banyak berkelakar di berbagai aksi protes. Terutama sejak ayah dan ibunya tewas secara misterius sebagai wartawan yang turun di perbatasan negara dan meliput kekacauan yang terjadi antara masyarakat adat di perbatasan dengan kepala industri yang berniat membuka lahan.

Sejak hari-hari yang dipenuhi duka dalam hati Icang itu aku tak pernah lagi melihatnya sebagai perempuan kecil yang hanya suka berpuisi di panggung-panggung teatrikal saja. Tapi mahasiswa gila yang benar-benar menjadikan dendam kepada rezim dengan mengacungkan keberanian serta rasa nekat. Ia menulis banyak tulisan di surat kabar soal rasa gusrahnya yang berbuntut penangkapan dan penuduhan telah meracuni Tete Iyak.

Iya, Tete Iyak seorang pejabat publik daerah kami di Ambon yang dikenal akan keramah-tamahannya. Ia dianggap sebagai tetua sekaligus pejabat yang berintegritas selama berpuluh-puluh tahun. Saat banjir bandang terjadi akibat jebolnya bendungan Way Ela. Ia turun langsung mengeluarkan lebih dari separuh harta warisan dan menjual tanahnya untuk memberikannya pada para pengungsi.

Saat itu, Icang di kampus Waimena sedang mengisi diskusi soal bagaimana daruratnya pemerintah yang belakangan ini tidak tahu arah dan menimbulkan kebijakan yang sembrono selalu. Bahkan manipulasi penjualan rempah-rempah di Maluku terjadi kembali yang menyebabkan petani rempah seperti cengkeh dan pala mengalami kerugian.

Belum tuntas diskusinya. Aparat sudah mengerubungi mereka. Menjatuhkan tuduhan kepada Icang. Aku yang turut berada di dalam diskusi itu tidak bisa bertindak sedikit pun. Kami semua terdiam dan tidak bergerak. Begitu pun dengan Icang, entah mengapa di situasi demikian ia enggan bergejolak seperti biasanya.

Sebelum diseret oleh aparat. Icang memandang ke aku secara gusar. Siapa pun bisa membaca hal tersebut. Atau hanya aku saja karena bola mata yang sama yang pernah menatapku dengan tegas di suatu malam. Bercerita soal bagaimana kedukaannya menghadapi ibu serta ayahnya yang mati.

“Abang Sein, menurutmu apakah kita tetap perlu berlaku baik saat kau melihat langsung kemunafikan itu di depan matamu? Dan bagaimana seharusnya dendam itu berarus?” tanya Icang dengan getir.

Kala itu aku tak lekas menjawab. Kami masih menikmati harum wangi udara pukul tiga dini hari. Baru setelah paru-paruku dipenuhi dengan oksigen yang cukup untuk berbicara panjang. Kututuri, “Icang. Kita percaya apa soal Tuhan. Manusia memiliki sisi gelap dan sisi terangnya masing-masing. Sama seperti bulan, saat sebagiannya menjadi indah tampak di muka bumi. Sebagian lagi dipenuhi hawa gelap yang dingin. Baik hanyalah pandangan yang dibangun oleh masyarakat. Jika hatimu masih bergejolak, penuhi saja panggilan itu. Dan perang yang sama biarkan aku menemanimu untuk perang tak bernama itu. Aku akan jadi tombakmu, Icang. Mempercayaimu hingga garis lurus menjadi bengkok.”

Kalimatku hari itu memang demikian manisnya. Tak lain hanya untuk menghibur Icang yang sudah dipenuhi hawa kepasrahan dalam napasnya. Ketidaktenangan dan amukan amarah itu ia tahan begitu kuat di dalam hati. Pun sama tercerminkan ketika tubuhnya yang bahkan tidak lebih dari setinggi bahu aparat itu berjalan menyerah. Tak jelas dan kami masih tak paham apakah penangkapannya memang berhubungan dengan ayah ibunya.

Semata-mata pertanyaan di benak kami memang begitu penuhnya, apakah hanya penuduhan soal Tete Iyak saja atau lebih dari itu ia digeret ke bui yang dingin. Saat kutemui ia satu bulan setelah lapak diskusi yang digelar. Tubuhnya sudah seperti ranting yang kering kerontak, tak bersisa daging dan makinlah habis lemak di sekujur badannya. Ia tampak tak terurus untuk seorang perempuan manis dengan senyum lebar seumpama sabit.

Sinar ceria nan serius di mukanya tampak meredam dan redup. Ia jelas kelaparan dan tidak ada siapapun yang berupaya melihatnya. Gadis kecil yang tumbuh dari keluarga idealis itu tetap menjaga kokoh warisan idealisme.

“Sudah sampai mana penyelidikan?” Tanyaku ke Icang dalam kunjungan.

“Entah bang Sein, aku tak peduli.”

“Tidak ada yang mengunjungimu hingga hari ini?”

“Ya menurutmu, apakah aku memiliki adik atau saudara? Kan tidak.”

“Kau tidak kesepian?” Tanyaku mendadak secara spontan seolah-olah kunjungan ini seperti kami sedang duduk di warung kopi.

“Bang Sein, kesepian adalah kewajiban setiap manusia. Berpasangan atau tidak, manusia tetap kesepian. Dalam penangkapan atau tidak. Berkawan atau tidak, manusia hanya akan kesepian. Bersapa, beraktivitas, hingga berjuang dengan berani pun akan tetapi kesepian. Begitu pula— bila aku denganmu sebagai kekasih atau tidak—aku tetap kesepian. Bukankah demikian? Justru karena kita akan selalu menyesap sepi sebagai kopi pahit, maka sediakan perlawanan sebagai cangkirnya.”

Shit, perempuan itu pandai menggiring kalimat. Padahal aku sedang tidak mengungkitnya sedikit pun. Matanya bergejolak padu dengan riang gembira bercampur sedih gulana.

Aku cuma tahu obrolan soal kesepian itu berlanjut. “Namun Icang, kau tak sempat kah merasa ingin mengusir kesepian yang mengamuk itu? Kau pasti tahu kan gejolaknya? Dan sampai kapan kau akan berdiam diri dan tidak membela diri di sini?”

“Kesepian itu bang Sein, semacam diri kita yang lain. Ia bukan siapa-siapa selain diri kita yang suka merayu, menggoda, dan meminta untuk bertemu. Kalau tidak dituruti, ia akan menggila. Kesepian itu kekasih kita Sein,” ungkapnya. Kalimat itu masih kuingat dengan erat. Kugenggam dengan hangat bahkan selepas pulang kunjung. Ia masih menyisakan kalimat-kalimat yang kuat di hatiku.

“Dan seperti yang kubilang terakhir kali. Aku akan tetap diam. Diam ini adalah perlawanan.”

Namun meski ia bergelayutan kuat dalam benakku. Ada rasa ragu yang mulai berakar. Umam menyatakan bahwa Sein terlibat jelas dengan rencana pembunuhan Tete Iyak. Racun yang sama ditemukan jejaknya di dalam tas Icang yang ia bawa untuk diskusi. Namun apa yang diucapkan Umam itu jelas bisa saja direkayasa.

“Tidak Mam, Icang tidak akan melakukan demikian. Korupsi seribu rupiah dari kas bendahara saja ia begitu ketatnya. Ini mau meracuni orang?” bantahku.

“Sein, Sein, justru karena ketatnya ia pada hal-hal kecil, kau tak heran kalau ia bisa lebih nekat untuk hal yang besar? Orang macam Icang, yang hidupnya cuma diisi luka dan dendam, bisa saja menganggap bahwa satu kematian pejabat adalah harga yang pantas. Kau tahu sendiri soal kebenciannya atas rezim. Kau terlalu percaya pada matanya Sein, pada senyum kecilnya. Tapi senyum itu bisa jadi topeng yang menipumu, bukan?

Umam mencondongkan tubuhnya ke arahku. Suaranya semakin rendah, tapi setiap kata yang ia ucapkan justru makin menekan.

“Dan tas itu, Sein. Jejak racun di dalamnya bukan sekadar kebetulan. Kau kira aparat sengaja meninggalkan bukti yang mudah dipatahkan? Atau… jangan-jangan Icang sendiri yang ingin kau melihatnya, supaya kau tetap menjadi pembela paling setia, bahkan setelah semua orang berhenti percaya.”

“Kau tahu apa juga soal Tete Iyak Sein, kakekmu itu tidak sepenuhnya baik. Jika melihat Tete Iyak saja kau kabur padahal dia jelas adalah pejabat yang tak mungkin tangannya bersih. Lantas kau melihat Icang dengan pandangan lugu yang sama? Kau itu dibutakan oleh perasaanmu sendiri. Rasional lah.”

”Tapi meski begitu dia kawan kita—”

“ —dia melakukan kriminal Sein. Kawan atau bukan. Membunuh itu kriminal dan namanya yang sudah terlanjur baik di kampus pun mengotori komunitas kita. Kau urus saja Icang. Aku harus mengurusi pers yang kian datang untuk bicara soal Icang.”

Perdebatan antaraku dengan Umam tidaklah usai. Kami masih bersitegang setelahnya. Dan meski begitu keyakinanku akan Icang tidak jadi menurun. Aku masih percaya padanya. Akan tetapi, ia tetap diputuskan bersalah dan harus menjalani kurungan selama 15 tahun. Betul, selama 15 tahun.

Di tahun-tahun yang panjang itu, Icang menghabiskan hari-harinya dalam penjara. Sementara aku memutuskan untuk menyimpan dendamnya dengan caraku sendiri. Di tanah di mana dulu Tete Iyak hidup dan bertempat tinggal.

Sampai hari di mana Icang dibebaskan. Di usianya yang ke 36 tahun. Aku menyambutnya dengan kesegaran. Memeluknya penuh riang. Mengatakan dengan jelas padanya betapa kerinduan melihatnya bebas adalah nestapa paling dalam. Tetapi Icang berbeda, ia menjadi seorang perempuan pendiam. Tidak tampak lagi gejolak yang membara dari kelopak matanya. Tidak ada lagi suara yang nyaris parau dari tenggorokannya. Saat kutanya apa yang ingin ia lakukan setelah bebas.

Ia hanya menjawab, “diam bang Sein. Cukup diam saja. Semakin banyak berbicara hanya menyebabkan kematian dan dendam akan pudar. Dengan diam kau menyimpan segalanya.”

Suatu waktu aku mengajaknya pergi makan di suatu warung dekat kampus. Kulihat ia mulai berpakaian rapi sewajarnya seorang perempuan di usia kepala tiga.

“Kau tidak benar-benar meracuni Tete Iyak kan Icang?” Tanyaku mencoba meyakinkan.

Icang menatap serius. Ia tak menjawab. Ia diam. Menarik napas panjang dan menjawab.

“Semua orang butuh racunnya masing-masing, Sein. Kadang, yang kita sebut obat hanyalah racun yang kita pilih untuk bertahan. Tete Iyak juga punya racunnya. Aku pun begitu.”

 

Baca Juga: BIRAM – Cerpen Karya Sang Rindu

Baca Juga

Picture of Amanina Rasyid Wiyani

Amanina Rasyid Wiyani

mahasiswa Ilmu Informasi dan Perpustakaan Universitas Airlangga tahun ketiga. Dapat disapa melalui akun instagram @rasyid.amanina