Rumah itu berdiri di ujung gang kecil, sedikit menyendiri dari deretan rumah-rumah lainnya. Beberapa bagian atap terlihat rapuh dan warna dindingnya sudah memudar. Siapapun yang melihat rumah itu pasti akan tahu bahwa rumah itu sudah tua. Dari luar, rumah itu terlihat biasa saja, seperti rumah tua kebanyakan. Namun, ada satu ciri khas yang membuatnya berbeda, yakni sebuah jendela besar bagian belakang yang menghadap ke arah barat.
Di balik jendela besar itu, hampir setiap sore, seorang lelaki tua duduk di atas kursi rotan. Namanya Pak Surono. Usianya sudah delapan setengah dasawarsa. Rambutnya memutih, tubuhnya membungkuk, namun sorot matanya tetap jernih dan menenangkan. Ia adalah seorang pensiunan guru sekolah menengah atas. Sejak istrinya meninggal lima tahun lalu, ia tinggal sendirian di rumah tua itu. Anak-anaknya merantau ke luar kota, jarang pulang, dan hanya sesekali menelepon.
Bagi Pak Surono, jendela besar itu bukan sekadar celah cahaya. Dari situlah ia menyaksikan dunia yang mungkin sudah terasa asing baginya. Jarak beberapa puluh meter dari rumahnya, rel kereta api terbentang. Setiap hari, suara kereta api melintas terdengar jelas dari rumahnya. Baginya, deru mesin itu mirip suara lonceng sekolah di masa lalu. Mengingatkan bahwa hidup selalu berjalan ke depan, meski ia merasa dirinya seperti diam di tempat.
Setiap pukul empat sore, ia sudah duduk di kursi rotan. Menatap keluar dengan segelas kopi hitam diatas meja di sampingnya. Tangannya yang mulai keriput itu, nampak gemetar ketika mengangkat segelas kopi untuk diseruput. Hal itu sudah biasa. Dari luar jendela, ia melihat rel kereta yang memanjang ke arah selatan. Suara kereta terdengar lebih dulu, lalu badan besi panjang itu muncul dan melaju dengan cepat.
Pak Surono tidak pernah bosan menatapnya. Ada sesuatu yang ia rasakan, tetapi ia tak bisa mengungkapkannya. Mungkin karena setiap penumpang di dalamnya punya cerita masing-masing. Ada yang pulang, ada yang pergi, atau mungkin hanya sekedar singgah. Semua nampak tergesa-gesa, sementara dirinya tetap di tempat yang sama.
Kadang ia membayangkan, murid-muridnya dulu mungkin pernah menumpang kereta itu. Ia teringat wajah Banu, murid bandel yang suka pura-pura izin ke toilet padahal semua orang di kelas tahu bahwa ia hendak ke kantin. Atau mungkin wajah Nana, gadis cerdas dan pendiam yang bercita-cita jadi dokter. Semua itu sudah puluhan tahun berlalu, tapi suara roda besi kereta beradu dengan rel seakan membuka kembali kenangan masa lalu.
Sore itu, saat kereta lewat, matanya menangkap sesuatu di pojok jendela. Selembar kertas kecil kusut, terselip di celah kayu. Pak Surono mengambilnya dengan hati-hati. Tulisan di dalamnya singkat.
“Saya sering melihat bapak dari kereta. Terima kasih sudah duduk disana setiap sore.”
Pak Surono terdiam. Hatinya berdegup lebih cepat. Ia menoleh ke arah rel. Kembali sepi. Ia mengamati kertas itu lama sekali, seakan takut bahwa tulisan di dalamnya akan menghilang dalam sekejap.
Ada rasa aneh dan hangat secara bersamaan menjalar di dadanya. Perasaan yang sudah lama tak ia rasakan. Entah siapa yang menulisnya, tapi kalimat itu seperti mengembalikan sesuatu yang hilang dari dirinya: rasa bahwa keberadaannya masih dilihat, meski oleh orang asing.
Kertas itu ia kembalikan ke tempat asalnya. Ia kembali duduk dan menatap rel kereta yang terbentang. Matahari mulai menghilang, suara jangkrik mulai bersahut-sahutan. Entah mengapa, sore itu rasanya berbeda. Sunyi, tapi tak lagi sepi.
Keesokan harinya, ia duduk di tempat yang sama, menunggu kereta lewat seperti biasa. Saat suara mesin kereta mendekat, hatinya berdegup kencang. Ia berharap ada sesuatu yang tertinggal di pojok jendela. Tapi nihil. Begitupun hari-hari selanjutnya. Semua berlalu begitu saja.
Hingga pada suatu sore yang gerimis, ia menemukan lagi secarik kertas kusut, terselip di tempat yang sama. Tulisan di dalamnya sedikit lebih panjang:
“Hari ini sangat melelahkan. Tapi melihat seseorang duduk di dekat jendela memberi saya rasa tenang, seperti tahu bahwa dunia belum sepenuhnya berubah.”
Pak Surono tersenyum tipis. Ia seperti merasakan tulisan itu seolah-olah hidup. Ia membacanya berulang kali. Kemudian menempelkannya di dinding dekat jendela, di samping foto kenangan bersama murid-muridnya yang sudah pudar warnanya. Ia merasa kembali dilihat.
Sejak saat itu, ia selalu menunggu secarik setiap sore di tempat yang sama dengan perasaan baru. Surat itu kadang ada, kadang tidak. Tiap kali ada, ia akan membacanya pelan-pelan seakan-akan sedang mendengarkan seseorang bercerita langsung di hadapannya.
Isi kertas-kertas itu selalu sederhana. Cerita tentang perjalanan, tentang rasa lelah, atau tentang seseorang yang duduk di gerbong paling belakang karena suka melihat langit senja dari jendela kereta.
Waktu terus berjalan. Daun-daun di halaman mulai menguning dan berjatuhan. Tubuh Pak Surono makin renta. Meski begitu, setiap sore ia tetap selalu duduk di kursi rotannya, dengan gelas kopi yang selalu menemaninya.
Suatu sore yang cerah, dengan pemandangan pelangi setelah hujan deras. Pak Surono menerima surat yang membuatnya berhenti dan berpikir lama sebelum membaca. Kertasnya agak lembab karena hujan dan terdapat sedikit luntur di beberapa kata. Tapi ia masih bisa membacanya dengan jelas:
“Bapak tahu? Saya ingin tenang seperti Bapak. Dunia saya penuh suara berisik dan langkah yang tergesa. Tapi setiap kali melihat Bapak di balik jendela itu, saya merasa hidup ini bisa dijalani dengan pelan. Mungkin bisa sambil dinikmati.”
Pak Surono menatap kertas itu sangat lama. Ada sesuatu yang bergerak di dalam dadanya. Antara haru atau sedih. Ia kembali teringat masa-masa dulu saat ia masih mengajar. Dulu ia sering menasehati murid-muridnya untuk berhenti sejenak, menatap sekeliling, dan belajar dari kesunyian. Tapi kini, justru dirinya belajar dari seseorang yang tak ia kenal, bahkan tak tahu wujudnya.
Hari berganti minggu. Surat-surat datang makin jarang. Kadang dua minggu sekali atau bahkan tidak datang sama sekali. Hingga suatu sore, ia sadar sudah sebulan tidak ada surat yang mampir di pojok jendela itu. Meski begitu, ia tetap terus menunggu. Entah sampai kapan.
Langit sore tampak muram, terlihat akan memuntahkan hujan sebentar lagi. Seperti biasa, Pak Surono duduk di kursi rotannya menghadap ke arah rel kereta yang terbentang. Saat kereta melintas, ia memperhatikan tiap jendela gerbong dengan seksama, berharap melihat sosok yang selama ini menulis surat-surat itu. Tapi kereta melaju terlalu cepat.
Ketika suara kereta itu menghilang, ia menarik nafas panjang. Ada rasa hampa dan sedih yang datang bersamaan. Tapi kali ini ia tidak menyangkalnya. Ia tahu, segala sesuatu memang datang dan pergi pada waktunya.
Malamnya, sebelum tidur, ia membuka kembali kotak kecil dari kayu tempat ia menyimpan semua surat yang ditemukannya. Ada tujuh kertas di dalamnya. Ia membaca ulang semua satu per satu, lalu menutup kotak itu perlahan. Kemudian ia simpan rapi di sebuah rak seberang kasurnya. Di ujung bibirnya ia tersenyum tipis.
Beberapa hari setelahnya, jendela itu masih terbuka lebar seperti biasa. Kursi rotan tetap di tempatnya, ditemani gelas sisa kopi di atas meja. Tapi, tak ada lagi sosok yang diam menghadap rel kereta disana.
Sesekali angin menggerakkan tirai, membuat kertas di dinding tertiup pelan. Di dekat jendela, ada satu kertas baru yang belum sempat dibaca. Tulisan di dalamnya:
“Terima kasih Bapak. Kereta sore ini jadi perjalanan terakhir saya melewati rumah Bapak. Dunia saya mungkin harus pindah arah, tapi saya tidak akan lupa dengan jendela yang menghadap barat dan seseorang yang duduk di baliknya.”
Kereta melaju dengan cepat, menyisakan suara besi yang terdengar samar. Kembali sunyi. Jendela yang menghadap barat tetap terbuka, menatap matahari yang perlahan tenggelam di ujung langit dengan semburat warna senja yang indah.
Dan mungkin, di suatu tempat di luar sana, seseorang masih mengingat lelaki tua yang duduk di balik jendela setiap sore menatap dunia. Bukan untuk menunggu siapapun, melainkan untuk belajar menikmati dunia dengan mencintai kesunyian itu sendiri.
