Sudah tidak diragukan lagi, Universitas Gadjah Mada alias UGM adalah kampus beken terbaik di Yogyakarta—atau bahkan di Indonesia. Universitas yang banyak melahirkan tokoh nasional sekaliber RI1 atau RI2 ini memang punya kualitas yang lebih daripada kampus-kampus tetangganya. Saking pinunjul-nya, keunggulan UGM bahkan kentara dari hal sepele alias remeh-temeh. Say tidak akan berbicara soal akreditasi, reputasi dosen, prestasi mahasiswa, atau profil lulusan yang mesti diulik lewat serangkaian data, ke-beyond-an UGM terlihat terang-benderang dari suguhan snack-nya
Bedanya Suguhan Snack di UIN dan UGM
Rabu pekan lalu, saya mengikuti Bang Nung Book Roadshow di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM. Ratusan mahasiswa antri di meja registrasi sembari menerima snack konsumsi. Dengan wajah kotak yang cukup elegan, panitia menyuguhkan tahu bakso, dua roti kelas premium, satu teh kotak, serta air mineral merk ternama. Sebagai mahasiswa “ring tiga”, suguhan ini cukup menggantikan jatah makan siang. Lumayan, uang lima belas ribu bisa
dialokasikan untuk jaga-jaga di akhir bulan nanti.
Sementara, sehari sebelumnya, saya mengikuti seminar nasional bertajuk “Rethinking About Gender: Breaking Stereotypes, Building Understanding” di UIN Sunan Kalijaga. Embel-embel “seminar nasional” yang menyediakan snack gratis pada mulanya membuat imajinasi membumbung tinggi. Setidak-tidaknya, bayangan saya adalah panitia memberikan snack paket arisan RT: tahu bakso jumbo, lemper, roti cokelat dengan isian pisang, serta segelas
air mineral kemasan.
Setibanya di lokasi, saya terperangah. Di meja registrasi, selepas mengisi daftar hadir, panitia menyodorkan snack yang bahkan seketika langsung membuat mata berasa butuh insto. Snack memprihatinkan itu terlihat begitu telanjang sebab hanya dibungkus mika plastik dengan stapler sebagai perekatnya. Isi-isiannya segera ketahuan: bolu kukus mini yang sudah gepeng, makaroni goreng bungkus kecil, serta tahu bakso seukuran cilok. Tak ada air mineral. Katanya, “atas nama cinta lingkungan”. Alih-alih menumbuhkan nafsu makan, suguhan tersebut justru membuat saya beristighfar.
“Ini emang kurang dana apa gimana?” gumam saya nyangkem.
Saya seketika trenyuh mendapati pengalaman ini. Oh, betapa menderitanya jadi mahasiswa UIN. Acara sekaliber seminar nasional ternyata hanya mampu menyuguhkan panganan yang saya taksir harganya tak mencapai lima ribu rupiah. Rupanya saya harus banyak-banyak merasa bersyukur karena dulu tidak lulus SPAN-PTKIN (jalur prestasi masuk UIN) dan malah diterima UGM. Andai saja waktu itu diterima UIN dan kuliah di kampus religius ini, saya kira tubuh saya bakal lebih kerempeng ketimbang sekarang.
Sekalipun Snack, Tapi Ayolah ..
Teruntuk kawan-kawan UIN, jujur saya miris lagi iba. Saya rasa, program makan bergizi gratis (MBG) sepatutnya masuk ke kampus-kampus juga. Rasanya kontraproduktif saja, kalau generasi belianya digenjot supaya cukup gizi tapi para calon intelektualnya masih harus berjuang dengan snack layak. Lagi pula, fenomena yang saya temui terjadi di UIN Sunan Kalijaga, salah satu PTKIN bergengsi di tanah air. Merujuk perangkingan Webometrics, hingga Juli lalu, UIN Sunan Kalijaga lah PTKIN terbaik di Indonesia. Lantas, bagaimana kondisi per-snack-an di kampus-kampus UIN lain yang belum seunggul UIN Sunan Kalijaga?
Disparitas kontras antara UGM dan UIN Sunan Kalijaga dalam hal snack ini sejatinya sekadar satu qarinah simbolik saja. Snack merepresentasikan bagaimana sebuah universitas mengelola sumber daya, membangun citra, dan menciptakan rasa dihargai bagi mahasiswa. Sejatinya, mahasiswa yang merasa diperhatikan dalam detail sederhana seperti halnya snack akan lebih mudah menumbuhkan rasa bangga dan loyalitas terhadap kampusnya. Sebaliknya, jika universitas bersikap emoh mengurus hal-hal remeh-temeh, jangan heran jika mahasiswa cenderung tak punya jiwa korsa terhadap almamaternya.
Namun, semua tentu bergantung pada kebijakan negara dalam mendistribusikan anggaran untuk tiap-tiap kampus. Menurut data Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, anggaran belanja universitas memang sangat bervariasi tergantung status, jumlah mahasiswa, dan besarnya jaringan kerjasama. Universitas besar seperti UGM memperoleh banyak dukungan, baik dari pemerintah maupun mitra industri. Merujuk sumber tahun 2023, UGM memiliki pagu anggaran mencapai 3,3 triliun. Sementara, UIN Sunan Kalijaga hanya berada di kisaran sepersepuluhnya. Jadi, buat mahasiswa UIN yang masih maba, apa mending tahun depan mereka pindah ke UGM aja?
Penulis : M. Khoirul Imamil M
Editor : Imam Gazi Al
