Tiada Duka Atasmu
Penyair lain memungut puisi dari bibir kekasihku.
Juliet, seharusnya kau tak mati karena cinta.
Seketika aku tak begitu membenci Rita.
Kekasihku menjadi muza bagi puisi-puisi lain,
tapi persetan dengan sirine ambulan dan mobil polisi
yang mengiung kencang di kepalaku,
aku masih bisa mencium bau hujan yang kering,
aroma roti mentega baru keluar dari oven,
dan semerbak wangi citrus dari lelaki meja sebelah
memakai earphone,
sibuk dengan Sherlock Holmes.
Pecinta paling Hebat ialah Orang Gila
Bagaimanapun memikirkannya,
bagiku cinta seperti dongeng, dan
lebih baik begitu saja.
Hanya orang gila mengisahkan
cinta tanpa cela—tapi memang
begitulah kita: memilih berlama-lama
tinggal di kepala yang lebih megah
dari ayat-ayat semesta.
Pecinta paling hebat ialah orang gila;
dilukiskannya puisi merah muda,
meletus di malam kembang kempis
ketika bulan meleleh madu
nan manis,
meleleh ke laut matanya sendiri,
tenggelam di rahasianya sendiri.
Mawar Merayu
Satu-satunya yang membuatku
tetap berjalan
di labirin mawar berduri,
ialah wangi janjimu
di antara bunga-bunga ini.
Masih kucari pohon mana
berbuah nanti
dari pasti yang kauberi.
Perlihatkan padaku tanda
lebih terang dari gemerlap bintang,
biar ku berlari
memetik arti teka-teki.
Atau, sebenarnya,
janji yang kautanam
tak pernah sungguh kaupupuk-siram,
sedang aku hanya berputar
di antara belukar
harapanku yang sukar?
Perlihatkan padaku tanda
lebih tajam dari kapak berdarah,
biar apa pun akhirnya,
‘kan kubabat memawar merah,
beraninya menutupi
muslihatmu yang madah.
