Tak Ada Tempat Untuk Luka, Bahkan Pascakematian itu Sendiri

Ilustrasi Tak Ada Tempat Untuk Luka, Bahkan Pascakematian itu sendiri (www.pinteres.com)
Ilustrasi Tak Ada Tempat Untuk Luka, Bahkan Pascakematian itu sendiri

Peringatan: tulisan ini mengandung narasi bunuh diri (suicide) yang dapat memicu perasaan tidak nyaman.

Dunia terus bergerak cepat dan menuntut kesempurnaan. Tak semua luka terlihat dan tak semua penderitaan mendapat ruang untuk dipahami. Dua kisah nyata menjadi intro dari tulisan ini: pertama, seorang mahasiswa dari Universitas Udayana yang mengakhiri hidupnya dan justru menjadi bahan olok-olokan oleh teman-temannya di grup WhatsApp setelah ia tiada. Kedua, seorang mahasiswi UIN Raden Mas Said Surakarta pengidap bipolar yang akhirnya memilih mengakhiri hidupnya setelah bertahun-tahun berjuang memaknai hidup. Keduanya adalah potret getir dari realitas yang jarang kita hadapi dengan jujur bahwa banyak jiwa yang hancur bukan hanya karena penyakit yang dideritanya, tetapi karena dunia gagal memberi mereka tempat untuk sembuh.

Minggu lalu, Timothy, mahasiswa Universitas Udayana dinyatakan meninggal dunia. Belum diketahui pasti motif yang melatarbelakangi dirinya hingga melakukan bunuh diri. Namun, peristiwa ini mendapat sorotan publik usai mencuatnya tangkapan layar isi grup WhatsApp yang diduga teman-teman Timothy di kampus. Percakapan dalam tangkapan layar tersebut dinilai tak pantas dan nirempati, ada banyak dugaan jika Timothy adalah korban bullying atau perundungan oleh teman-temannya.

Dilain tempat, Hanna, mahasiswi UIN Raden Mas Said Surakarta melakukan aksi bunuh diri pada Jum’at, 17 Oktober 2025. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit oleh pihak kampus dan tim medis. Namun, nyawanya tidak berhasil diselamatkan. Hanna merupakan penyintas bipolar sejak beberapa tahun terakhir. Di tengah kondisi mental yang selalu bergejolak, ia terus bertahan dengan meminum obat-obatan sebanyak enam kapsul sehari. Sayangnya, ia merasa menyerah dan keinginan untuk mengakhiri hidupnya kembali muncul. Hal ini tersirat pada buletin terbitan Serambi Kata edisi 10 Oktober 2025 berjudul Kesunyian di Tengah Malam yang ditulis langsung oleh Hanna.

Kematian yang Tak Dihormati

Timothy masih menjadi sasaran perundungan setelah ia tiada. Dalam percakapan grup WhatsApp yang diduga adalah teman-temannya, tersebar celetukan yang tidak mengenakkan, candaan keji dan komentar nirempati. Seolah kematian pun tidak cukup mengakhiri perundungan.

Percakapan yang kadung tersebar di media sosial mengundang kemarahan publik. Dengan gamblang menunjukkan hilangnya empati dan rasa kemanusiaan. Hal itu kemudian dikonfirmasi oleh pihak kampus melalui keterangan resmi yang diunggah di Instagram @univ.udayana. Pihak kampus telah menugaskan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) Universitas Udayana untuk menyelidiki sejumlah mahasiswa yang terlibat dalam percakapan di grup WhatsApp itu dan akan menjatuhkan sanksi tegas kepada mereka karena telah mencederai martabat civitas akademika.

Perbuatan tersebut tak hanya mencerminkan kurangnya empati, melainkan juga memperkuat stigma bahwa penderita gangguan mental seakan menjadi bahan lelucon. Padahal, setiap statistik kasus bunuh diri yang kita baca adalah persoalan nyawa-seorang anak, saudara, teman, atau mereka pelajar yang pernah bercita-cita dan punya masa depan.

Luka yang Tak Terlihat

Bipolar bukan sekadar perubahan suasana hati. Ini adalah kondisi medis yang kompleks dan melelahkan. Seseorang bisa berada di pucuk euforia dalam satu waktu, lalu terjerembab dalam jurang keputusasaan di waktu lain. Mereka yang mengidap  bipolar bukan hanya melawan gejala internal, tapi juga stigma eksternal: dianggap berlebihan, tidak stabil, atau “drama”. Akibatnya, banyak dari mereka yang menyembunyikan kondisinya, menelan obat-obatan dalam diam, atau bahkan memilih tidak mencari bantuan sama sekali.

Pada kasus Hanna, semasa kuliah ia aktif dalam berbagai komunitas sosial dan kemahasiswaan.Tujuannya tak hanya mengembangkan potensi diri, melainkan juga bentuk afirmasi untuk mempertahankan eksistensinya dalam meneguhkan makna hidup di tengah pergulatan emosi yang tidak stabil.

Sejumlah tulisan yang ia bagikan ke khalayak merupakan ungkapan keresahannya; berjibaku melawan gejolak psikologi yang silih berganti. Tujuannya adalah untuk mengikis perasaan negatif yang muncul sesaat. Namun pada akhirnya, di tengah tekanan yang semakin berat dan diperparah oleh kurangnya dukungan emosional, Hanna menyerah pada keputusasaan.

Hanna memilih jalan pintas dengan mengakhiri hidupnya. Satu keputusan tragis yang menunjukkan kompleksnya penderitaan mental yang tidak dapat disederhanakan hanya melalui aktivitas atau dukungan sosial. Meski keterlibatan dalam berbagai kegiatan sosial sering dianggap sebagai indikator kesehatan mental yang baik, hal itu tidak cukup kuat untuk menjadi tameng dalam menghadapi pergulatan internal yang dalam dan kronis.

Ketika Masyarakat Jadi Penyebab dan Penghukum

Rupanya kita sedang hidup di tengah masyarakat yang dengan mudahnya menyalahkan pesakitan. Mereka yang mengakhiri hidup dianggap lemah iman, tidak bersyukur, atau egois. Padahal, yang mereka butuhkan hanyalah tempat aman untuk mengakui bahwa mereka tidak baik-baik saja. Kita memaksa orang untuk kuat, tapi menertawakan mereka ketika roboh. Kita meminta mereka terbuka, tetapi menghakimi ketika mereka jujur. Maka jangan heran, jika pada akhirnya banyak orang memilih diam, sampai diam itu menjadi keheningan selamanya.

Lebih dari itu, kita juga terlalu terbiasa dengan respon reaktif: saat berita duka tersebar, menulis “rest in peace” di media sosial. Namun, kita tak pernah benar-benar mengubah sikap. Kita lupa bahwa keputusan itu bisa dicegah dan bahwa pencegahan bukan hanya tugas psikolog, melainkan juga kita semua: sebagai teman, keluarga, masyarakat.

Menumbuhkan Ruang yang Aman

Dalam diskursus kesehatan mental kontemporer, konsep safe space atau ruang aman tidak sekadar ruang fisik yang bebas dari kekerasan, melainkan iklim sosial dan psikologis yang memungkinkan individu mengungkapkan kerentanannya tanpa takut dihakimi, dikucilkan, atau direndahkan. Menyediakan ruang aman bukan hanya tindakan empati personal, melainkan bagian dari pendekatan psikososial yang lebih luas dalam pencegahan bunuh diri dan penanganan gangguan mental.

Menurut teori ekologi Bronfenbrenner (1979), perkembangan individu dipengaruhi oleh berbagai sistem yang saling terkait, mulai dari keluarga (mikrosistem), komunitas (mesosistem), hingga norma sosial dan kebijakan (makrosistem). Dalam konteks ini, menciptakan ruang aman berarti mereformasi berbagai sistem tersebut untuk lebih inklusif terhadap isu kesehatan jiwa. Ketika individu tidak merasa aman bahkan di lingkaran terdekatnya-seperti teman, keluarga, atau sekolah, maka peluang untuk mencari bantuan menurun secara drastis.

Sudah saatnya kita mengubah cara kita melihat dan memperlakukan orang yang terluka secara mental. Kesehatan jiwa harus menjadi bagian dari percakapan sehari-hari, bukan hal yang tabu. Kita harus mulai belajar mendengarkan tanpa menghakimi, hadir tanpa menggurui, dan menerima bahwa tidak semua luka harus terlihat untuk dianggap nyata. Dan yang terpenting, kematian akibat bunuh diri harus menjadi pengingat, bukan bahan lelucon. Jika seseorang memilih mengakhiri hidupnya, itu bukan karena mereka ingin mati-tapi karena mereka tidak mengerti harus hidup seperti apa lagi. Kekejaman setelah mereka pergi hanya memperpanjang penderitaan yang seharusnya bisa berhenti.

Dua kisah dari esai ini seyogyanya tidak sekadar cerita tragis yang berlalu begitu saja. Peristiwa ini harus menjadi pemantik untuk mulai peduli, untuk tidak menertawakan luka, dan untuk memastikan bahwa setelah seseorang pergi, kita tidak menjadi alasan penderitaan mereka berlanjut.

Penulis: Safira el Hanum

Editor: Arizqa Novi Ramadhani

Baca juga: Putusan Adalah Sekumpulan Cerita dan Hal Remeh Temeh Lainnya

Baca Juga

Ilustrasi Puisi Museum Trauma (www.pinterest.com)
Picture of Safira El Hanum

Safira El Hanum

Asal Kabupaten Oku Timur yang sekarang sedang menempuh kuliah di Prodi Bimbingan Konseling Islam UIN Raden Mas Said Surakarta. Instagram saya: @eylhanum.