Beda Jalan Menuju Sukses: Mahasiswa Kupu-Kupu dan Kura-Kura

Ilustrasi Mahasiswa Kupu-Kupu dan Kura-Kura (www.pinterest.com)
Ilustrasi Mahasiswa Kupu-Kupu dan Kura-Kura

Menjadi mahasiswa merupakan nikmat Tuhan yang harus disyukuri. Bagaimana tidak? Ribuan siswa tingkat menengah atas bersaing tiap tahunnya menuju kampus yang diimpikan. Kemudian, setelah mendapat identitas “mahasiswa” itu, semua akan menentukan jati dirinya masing-masing. Di perguruan tinggi, mahasiswa akan mengenal berbagai organisasi yang biasa disebut Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Ada juga organisasi yang menaungi mahasiswa daerahnya dan masih banyak lagi.

Mungkin mahasiswa yang aktif sejak SMA akan memilih gabung ke organisasi internal ataupun eksternal kampus. Sedangkan, mahasiswa yang sedari awal fokus kuliah akan memilih menjadi mahasiswa yang sibuk dengan tugas-tugas dari dosen. Adanya perbedaan kesibukan dari mahasiswa ini memunculkan dua istilah yaitu mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) dan mahasiswa kura-kura (kuliah rapat-kuliah rapat).

Membahas dua istilah ini tak akan ada selesainya. Karena sebenarnya setiap dari keduanya memiliki nilai positif dan negatif. Disini saya mencoba melihat kedua sisi tanpa menyudutkan salah satunya. Karena kesuksesan tidak dilihat dari sisi apakah dia mahasiswa kupu-kupu atau kura-kura. Kalau bisa menyeimbangkan akademik dan pengembangan diri, maka dialah yang akan mencapai sukses itu.

Mahasiswa Kupu-kupu Dipandang Sebelah Mata

Mahasiswa kupu-kupu selalu dianggap pasif karena mereka sangat jarang mengikuti organisasi, bahkan tidak sama sekali. Sedangkan mahasiswa kura-kura memiliki label mahasiswa aktif yang sibuk akan kehidupan organisasinya, yang kebanyakan dari mereka mengabaikan akademiknya. Sekali lagi: “kebanyakan” bukan berarti semuanya.

Mahasiswa kupu-kupu sering dipandang negatif. Banyak yang mengatakan “kuliah kok ngga disambi organisasi, ya kalian ngga akan dapat pengalaman apa-apa,” “minimal ikut organisasi daerah (orda) biar ada relasi.” Memang benar. Mahasiswa kupu-kupu cenderung lebih fokus terhadap akademik, lebih banyak belajar mandiri karena mereka beranggapan bahwa tidak semuanya bisa dikerjakan di keramaian.

Sedangkan mahasiswa kura-kura memiliki kesibukan di organisasi. Mereka sering mengikuti kepanitiaan dan lebih suka bekerja sama dalam tim. Hal ini menjadikannya cakap dalam komunikasi dan memiliki banyak relasi. Namun, tak sedikit juga yang putus di tengah perkuliahan karena banyaknya mata kuliah yang mengulang sebab seringnya absen dalam perkuliahan.

Mahasiswa golongan pertama tadi memiliki waktu yang teratur walaupun mungkin kurang relasi dan pengalaman sosial. Mereka bisa menyelesaikan perkuliahannya sesuai target karena tidak ada beban lain selain mata kuliah yang ditanggung tiap semesternya. Namun, sangat disayangkan juga jika mahasiswa kupu-kupu tidak memanfaatkan waktu yang sangat banyak di luar jam perkuliahan.

Saya pribadi termasuk golongan pertama. Saya pun memiliki alasan tersendiri memilih menjadi bagian dari golongan itu. Banyak juga teman saya memilih jalan hidup seperti saya. Namun, tidak sedikit juga yang memilih golongan kedua. Saya menghargai semuanya dan saya berteman baik dengan semuanya. Saya paham kalau mereka tidak akan mengambil keputusan tanpa adanya alasan.

Dosen pun memiliki tipe mahasiswa yang disukai masing-masing. Ada dosen senang dengan mahasiswa yang unggul akademiknya, terutama tugas dan ujian. Ada pula dosen yang menyukai mahasiswa aktif dalam diskusi kelas karena kecakapannya sudah terlatih dari organisasi yang diikuti.

Masih Dioposisikan Hitam-putih

Mahasiswa yang lebih memilih fokus belajar dan jarang ikut organisasi sering dikatakan tidak berkembang. Ini menjadikan mereka merasa tidak menjadi “mahasiswa sejati” karena dianggap kurang pengalaman lapangan. Padahal, mereka sebenarnya bisa unggul dalam bidang akademik, penelitian, atau karya ilmiah—hanya saja jalur pengembangannya berbeda.

Di lain sisi, mahasiswa kura-kura sering dijadikan panutan karena aktif di berbagai kegiatan. Namun, anggapan ini menciptakan tekanan sosial agar mereka selalu tampil produktif dan tidak boleh gagal. Karena jika suatu saat nilai akademik menurun, mereka akan merasa kehilangan jati diri.

Maka, kembali lagi pada poin utama yakni pentingnya memanajemen waktu dan sadar akan prioritas. Jika bisa menjalani keduanya, kenapa tidak?

Namun, jika dilihat dari kacamata agama, perlu ditengok kembali manfaat dan mudharat di antara keduanya. Jika organisasi yang diikuti bisa menambah kedekatan pada Tuhan, bukankah lebih baik? Akan tetapi jika semakin menjadikan individu lalai akan kewajibannya, maka jelas dipastikan lebih banyak mudharatnya.

Kedua golongan mahasiswa ini hanyalah cara berbeda dalam menapaki dunia kampus. Setiap dari kita seharusnya sudah bisa menentukan dimana seharusnya kita berada. Menjadi mahasiswa kupu-kupu tidak seburuk itu. Bisa mengerjakan setiap tugas yang diberikan setiap selesai kelas, memanfaatkan weekend dengan kumpul keluarga, dan menjadikan waktu luang untuk mendekatkan diri pada Yang Kuasa merupakan privilege tersendiri baginya. Namun, akan sangat disayangkan jika tidak bisa memanfaatkan waktu luang yang sangat banyak itu.

“Sukses di kampus bukan tentang seberapa sering kita rapat atau pulang cepat, melainkan seberapa bermakna langkah yang kita pilih.”

Penulis:

Editor: Arizqa Novi Ramadhani

Baca juga: Bola Sudah Bicara, Kita Saja yang Pura-Pura Tuli

Baca Juga

Ilustrasi Pinterest
Picture of Shilfina Hidayah

Shilfina Hidayah

Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang ig: @inishilfinaaa_