Ritus Bintang Jatuh, Cerpen Karya Sifaul Khuluf

 

Kami suka dengan bintang yang mengambang di langit. Laksana cermin, mata kami berbinar-binar memandang para bintang. Sinar mereka indah berpendar luar biasa menyinari sekelilingnya. Meski tampak begitu jauh, para tetua kami bilang, bahwa kami kelak juga akan menjadi bintang. Kami percaya, bintang yang ada di langit itu pasti suatu saat akan turun menjemput kami. Kakekku, dulu dijemput oleh sebuah bintang, ia menceburkan dirinya ke bintang itu dan dibawa berkeliling dunia. Nenekku beda lagi ceritanya, dia bersahabat dengan bulan. Bulan hanya menawarkan pada nenek, tumpangan untuk memancing di danau desa. Nenekku suka menyendiri dan menerima saja ajakan itu. Dia mengaitkan sebongkah tanah liat di mata kailnya dan mulai menunggangi bulan sabit itu di atas danau. Ia memancing dan mendapatkan berbagai jenis ikan danau. Nenekku merasa bernostalgia setiap kali menceritakan kisahnya dengan bulan sabit itu kepadaku. Ayah dan Ibu lain lagi, mereka suka pergi ke kota. Mereka berkata akan kembali lagi ke desa suatu hari nanti menjemputku yang sekarang bahagia bersama nenek. Mereka juga mendamba pada bintang-bintang di langit. 

Layaknya suatu folklor. Aku juga memiliki kisah sendiri tentang bintang. Ketika itu langit gelap. Otomatis bintang tak terlihat. Aku benci awan, ia selalu menutupi bintang. Bahkan kalau tidak kuat, dia akan menangis dan menjatuhkan bulir-bulir air matanya ke tanah. Semua orang harus tunduk pada hujan kecuali dia punya jas hujan tentu saja. Aku terkejut bunyi gemuruh menyambar-nyambar indera telingaku. Kutanya nenek di kamar tidurnya, ia tidak mendengar suatu apa. Karena penasaran aku pergi keluar dan menelusuri jalanan sunyi nan lengang desa. Setelah kucari-cari aku melihat kobaran api yang memecah kepekatan malam di sebuah lapangan tak jauh dari desa. Ternyata itu sebuah bintang. Bintang bernama Clara turun ke desaku. Kilatan cahaya merahnya menembus awan. Pasti karena itu ada bunyi gemuruh tadi. Ia meringis, katanya di garis edar miliknya  masuk bintang yang lain bernama Chiro dan menyenggolnya hingga keluar jalur. Clara terlempar ke bumi dan mendebam ke tanah. 

“Tolong aku! Kembalikan aku ke langit,” Clara menunjuk ke atas awan yang berlubang ditembusnya sembari menangis.

“Kenapa kau jatuh?” aku bertanya pada Clara, si bintang jatuh.

“Awalnya baik-baik saja. Namun aku terlalu cepat hingga inti tubuhku terbakar hebat. Garis edar itu tak dapat lagi menahan tubuhku. Dan Chiro, bedebah itu, menabrakku dan terpelantinglah aku,” Clara melanjutkan tangisnya.

“Mari kubawa ke Lyra.”

“Siapa itu Lyra?”

“Dia yang dapat mengerekmu kembali ke garis edar.”

Aku menggandeng tangannya menuju rumah Lyra yang ada di tengah hutan pinus. Sinar Clara mulai redup. Yang semula putih menyilaukan mata berubah jadi kuning dan kini merah hampir padam. Retakan di tubuhnya itu menandakan ia sekarat. Dan nyanyian burung di antara pohon-pohon hutan pinus itu tak lagi dapat menghiburnya. Setelah masuk dan menyusuri hutan pinus yang sunyi-nyepi sampailah kami di rumah Lyra. Teman semasa kecil ku. Ia ahli astrologi, ilmu tentang bintang-bintang. Melihat Clara yang sekarat, Lyra membaringkan bintang yang malang itu di sebuah ranjang kayu.

“Yang pertama harus dilakukan adalah membuat sebuah ketapel seukuran teman bintangmu dan menancapkannya ke tanah. Lusa garis edar itu akan terlihat dari sini, dan kita bisa luncurkan temanmu itu kembali ke langit,”

“Pasti butuh ritual?” aku menebak kebiasaan Lyra yang sering meminta ritual. Ia mirip ahli nujum suka minta yang aneh-aneh. Dulu kakekku pernah mati, kebetulan dia punya hutang pada seorang rentenir untuk keperluan membangun kandang sapi untuk rajakaya kami. Kakekku gagal melunasinya sebelum mati. Rentenir itu tidak terima dan meminta Lyra untuk menghidupkan lagi kakekku. Dimulailah ritual. Awalnya kami sekeluarga tidak tahu bahwa rentenir itulah yang dikorbankan sendiri. Tepat setelah kakekku melunasi hutangnya, si rentenir dan kakekku, mati seketika itu juga sampai sekarang tidak hidup lagi.

“Tak ada kenaikan tanpa pengorbanan bahkan bila perlu mengorbankan yang lain,” Lyra berkata dingin. 

“Apa maksudmu?”

“Kau harus berkorban, Sobat.”

Si Lyra pasti sudah gila! Buat apa aku harus mati demi menyelamatkan bintang yang sedang tersungkur ini. Tapi…

“Sobat,” Clara memanggilku dari ranjang pesakitannya, “Bila kau bersedia, sungguh akan kubawa kamu terbang bersamaku ke angkasa, kita akan saling memeluk sembari menerjang atmosfer bumi yang menjegal mimpi manusia. Tapi jangan khawatir, sinarku akan menjagamu dari gesekan udara jahat Bumi. Lalu kau akan jadi bintang bersamaku. Akan kutempatkan kamu di garis edar persis di sebelahku.”

Siapa yang tidak mau jadi bintang? Bukankah memang perlu pengorbanan, mengorbankan yang lain maksudku tentu saja. Baik akan aku lakukan. 

Ritual itu dilaksanakan. Yang pasti aku tidak perlu berkirim surat dengan orangtuaku di kota. Cukup aku saja yang tahu, cukup aku saja yang jadi bintang. Kakekku tak berhasil jadi bintang selama hidupnya, nenekku bahkan hanya dapat bertemu bulan, dan siapa yang tak mau jadi bintang? Aku ulangi siapa yang tak mau jadi bintang?

Ritual itu berupa penyembelihan. Aku disembelih di hutan pinus yang sepi itu dan tentu saja ruhku pergi meninggalkan jasad. Aku mencium tubuhku tepat di bagian kening yang telah terbujur kaku, dan ketika aku kembali bersama Lyra ke rumahnya dalam bentuk ruh sontak saja Clara, si bintang jatuh itu, segar kembali. Ia berterima kasih padaku, menjabat tangan Lyra dan kemudian berbisik-bisik kepadanya. Aku melayang-layang bagai hantu, tapi aku bukan hantu, aku calon bintang. Dengan bantuan seorang pemahat desa, ketapel raksasa itu jadi juga. Dan lusa tepat ketika garis edar milik Clara terlihat, kami mempersiapkan segalanya. 

Clara memegangku sinarnya berpendar kembali dan kami melesat jauh menembus udara. Kurasakan sedikit panas di sekujur ruhku. Clara mempertegas sinarnya dan semakin terang benderanglah dia. Cahaya itu membentuk tabir. Clara berbisik di telingaku, “Ini tabir bintang, akan melindungimu dari udara panas yang menjegal mimpi-mimpi manusia.”

Sampailah kami di luar bumi, tempat di mana bintang-bintang mengitari dunia dan membuat iri hati manusia. Aku bertanya pada Clara yang saat ini tengah mempersiapkan kembalinya dia dengan mencengkramkan tanganya di garis edar yang berbentuk seperti benang itu, “Jadi akan kemana kita?”

“Pertama-tama aku harus mengejar Chiro. Dan membuangnya dari garis edarku.”

“Pentingkah itu?”

“Hanya ada satu bintang untuk satu garis edar.”

Clara kehilangan senyumannya. Setelah dirasa cukup kuat cengkramannya ia melaju keras. Aku lupa berapa kecepatannya. Tapi kurasa melebihi kecepatan cahaya karena aku linglung pada saat itu, aku belum jadi bintang, masih bentuk ruh, samar-samar kulihat Chiro dan ia sempat menengok ke arah belakang namun belum sempat berbalik badan ketika Clara menabraknya dan terlemparlah ia jauh semakin jauh dari pandangan kami dan akhirnya hilang ditelan kehampaan semesta. Tabrakan Clara dan Chiro membuatku mual, aku semakin kehilangan kesadaran. Kelopak mataku memberat, dan ruhku jadi semakin dingin. Mungkin aku akan jadi bintang sebentar lagi, aku pandangi Clara  dan ia senang sekarang terfokus pada garis edar yang telah dimilikinya kembali.

Aku kemudian menanyai diriku sendiri. Masihkah aku ingin jadi bintang?

Surabaya, 8 Mei 2026

 

Baca Juga

Picture of Sifaul Khuluf

Sifaul Khuluf

Sifaul Khuluf adalah mahasiswa antropologi yang sedang bingung mikir skripsi. Di waktu senggangnya ia menulis untuk kebahagiaannya sendiri. Terkadang ia berpikir bahagianya perlu dibagikan ke orang lain juga.
DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777

DEWA777