Pertunjukan Stand Up Comedy, Tempat Pelarian “Korban Penolakan” Seperti Saya yang Jadi Komika Setelah Gagal Menjalin Asmara

Cinta yang dulu indah, ternyata harus pupus dengan rasa sakit dan trauma luar biasa. Namun, saya sembuh berkat komunitas stand up di Jogja.
putus cinta dan move on ke stand up jogja

Pertunjukan Stand Up Comedy bukan hanya bercerita tentang kejadian lucu. Ini adalah usaha untuk sembuh, move on dari kisah cinta yang gagal seperti yang sudah saya alami.

Dalam momen tertentu, kisah cinta memang menyenangkan. Hati berbunga-bunga, terus isi kepala akan membayangkan kemesraan dengan pasangan. Seolah-olah dunia hanya milik berdua.

Pengalaman ini saya rasakan saat sedang jatuh cinta pada sosok perempuan yang tidak sengaja bertemu di kegiatan pengabdian masyarakat waktu masih berstatus sebagai mahasiswa.

Cinta Lokasi di Kegiatan KKN

Sebelum menyandang gelar sarjana, saya pernah melakukan kegiatan KKN di sebuah desa yang terletak di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Bagi saya, ini merupakan sebuah pengalaman yang menyenangkan sekaligus menyakitkan.

Tepat di Juni 2022, saat itu saya masih semester enam dan menempuh pendidikan di salah satu kampus negeri di Kota Surabaya. Jawa Timur. Kampus tersebut mengadakan kegiatan yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswanya yakni KKN (Kuliah Kerja Nyata).

Kegiatan tersebut menjadi salah satu syarat untuk para mahasiswa agar bisa mendapatkan gelar sarjana. Ini bukan hanya tentang perolehan nilai akademik semata, tetapi juga sebagai pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Untuk pemilihan kelompok KKN, waktu itu kampus yang menentukan. Jadi saya tidak bisa memilih sendiri. Kelompok saya berjumlah tujuh belas orang, dengan komposisi 6 cowok dan 11 cewek. Dan saya terpilih sebagai ketua kelompok.

Saat KKN berlangsung, kebetulan di desa tempat saya melakukan kegiatan tersebut juga didatangi oleh para mahasiswa dari dua kampus lain yang berbeda. Sehingga suasana di desa tersebut jadi lebih ramai.

Warga desa dan para perangkat desa juga menerima dengan baik kedatangan para mahasiswa. Apalagi mereka sudah menyiapkan basecamp untuk tempat mahasiswa tinggal dan sudah menyiapkan tempat di sebelah kantor desa untuk para mahasiswa berdiskusi guna menyiapkan kegiatan yang akan dilakukan di desa tersebut.

Dalam satu momen saat rapat bersama, saya terpesona dengan salah satu perempuan yang berbeda kampus dengan saya, yang juga melakukan kegiatan KKN di desa yang sama. Sebut saja si “A”. Dia merupakan atlet beladiri. Selain parasnya, saya juga tertarik dengan kepribadiannya yang ramah dan baik hati. Dari situ, saya memberanikan diri untuk mendekatinya, dan sampai meminta nomor Whatsappnya.

PDKT Selama Satu Tahun

Kegiatan KKN berlangsung selama empat puluh hari, saya selalu menyempatkan diri untuk menemuinya. Baik saat waktu program kerja dilaksanakan maupun saat waktu jeda istirahat berlangsung.

Bahkan, saya sering memberikan permen untuk dia sebagai tanda penyemangat saat dia sedang jenuh melakukan kegiatan KKN. Begitu juga sebaliknya, dia sering memberikan saya kue saat saya sedang bosan melakukan kegiatan KKN. Bagi saya, kejadian itu sangatlah romantis mengingat saya adalah seorang jomblo sejak kecil, hehehe….

Setelah kegiatan KKN selesai, para mahasiswa kembali ke kota asalnya masing-masing. Begitu pun saya yang harus berpisah dengan si “A”, yang kala itu sudah saya anggap sebagai bidadari dari surga.

Lalu, saya pun berpikir keras begaimana agar bisa tetap berkomunikasi dengan si “A” meskipun dipisahkan dengan jarak dan waktu. Akhirnya saya menemukan solusi: berkabar secara rutin via WhatsApp. Mengingat saat itu saya benar-benar bucin dengan dia-meskipun belum ada kejelasan hubungan yang pasti.

Lambat laun, komunikasi saya dengan si “A” semakin intens hingga berjalan selama satu tahun dan suatu hari saya ada keinginan untuk menyatakan perasaan ke dia. Apalagi, keinginan itu semakin kuat saat dia sering meminta saya membuat story di sosial media tentang pencapaian-pencapaian dia di bidang beladiri. Dari situ, saya mulai terbawa perasaan. Anehnya, saya juga sudah menganggap diri saya sendiri sebagai pacar si “A”, walaupun saya tahu bahwa saya belum pernah confess. Keyakinan itu didasari atas perasaan cinta saya yang begitu mendalam ke dia. Asooy…..

Mengarungi Kota Demi Menyatakan Cinta

Tapi seiring waktu berjalan, saya pun tak kunjung siap untuk menyatakan perasaan ke si “A”. Alasannya, saya minder dengan kondisi fisik saya yang mempunyai warna kulit kecoklatan seperti sawo matang. Sedangkan, si “A” warna kulitnya sangat cerah, yang menurut saya wajahnya mirip seperti artis Natasha Rizki, wkwkwkw. Bukan bermaksud merendahkan diri sendiri. Tapi, saya benar-benar merasa tidak pantas jika berpacaran dengan si “A”. Saya takut dituduh menggunakan pelet oleh orang lain bila benar-benar berpacaran dengan dia.

Keadaan mental saya pun semakin terpuruk karena menahan perasaan cinta yang terlalu lama kepada si “A”. Sampai saya tersadar bahwa menahan perasaan cinta yang terlalu lama itu tidak baik untuk diri saya sendiri. Akhirnya, saya memutuskan untuk menyatakan perasaan cinta kepada si “A” suatu saat di momen yang tepat.

Singkat cerita, datanglah momen yang tepat itu, di Agustus 2023. Tepatnya, saat si “A” sedang wisuda. Saya nekat datang jauh-jauh dari Kabupaten Sidoarjo dengan mengendarai motor untuk bertemu dengan si “A” di kampusnya. Kebetulan, kampusnya terletak Kabupaten Jember, dekat dengan desa tempat saya melakukan kegiatan KKN-lokasi di mana pertama kali kami bertemu.

Saya menempuh perjalanan sekitar enam jam dan hanya berbekal uang sebesar Rp 350.000. Uang tersebut pun sebagian besar terpakai untuk membelikan si “A” hadiah berupa bucket berisi bunga, cokelat, serta tas kecil. Sisanya saya pake untuk biaya operasional di Kabupaten Jember. Nominalnya, bisa dihitung sendiri lah, ya. Wkwkwk.

Perjuangan Cinta yang Berakhir Getir

Saya bertemu si “A” yang sudah ditemani kedua orang tuanya (Maklum kegiatan wisuda, hehehe). Awalnya, saya ragu untuk menyatakan perasaan cinta ke si “A”. Tapi akhirnya, saya paksa diri saya dengan pertimbangan: kalau saya tidak tembak si “A” maka saya akan semakin menderita. Terus saya mengajak si “A” untuk duduk di depan perpustakaan kampusnya. Dia menghendaki ajakan saya. Dan di situlah momen paling menegangkan dalam hidup saya. Sebab, akhrinya saya benar-benar memantapkan hati untuk confess kepada si “A”.

Di momen itulah saya bicara panjang lebar tentang perasaan cinta saya ke si “A”. Namun sialnya, kalimat yang pertama kali keluar dari mulut si “A” tak lebih baik dari kenyataan yang pahit, “maaf aku sudah punya pacar.”

Di situ tiba-tiba air mata saya menetes. Saya menangis. Saya merasa seolah-olah saya adalah pria paling gagal di dunia hanya karena telah ditolak perempuan yang sudah saya idam-idamkan untuk menjadi pasangan sehidup semati. Tetapi walaupun ditolak, hadiah yang sudah saya siapkan tetap saya berikan kepada si “A”, meskipun rasanya agak nyesek, huhuhu…

Tidak lama dari kejadian itu, akhirnya saya pulang ke Kabupaten Sidoarjo dengan kondisi sedih. Selama di jalan, sebenarnya saya belum bisa menerima dengan kejadian yang telah saya alami. Tapi mau bagaimana lagi, kenyataan harus diterima meskipun itu pahit.

Saya mengalami kesedihan yang begitu mendalam akibat kejadian itu. Paling parahnya adalah saya mengalami depresi yang mengganggu aktivitas sehari-hari saya. Berbagai cara sudah saya lakukan untuk mengobati depresi tersebut. Mulai dari pergi ke psikolog untuk memperbaiki kondisi psikis. Pergi ke tempat-tempat wisata untuk menenangkan pikiran. Hingga nongkrong di warung kopi sambil bermain game selama berjam-jam supaya bisa melupakan  si “A”. Tapi tetap saja: luka dalam hati tak pernah bisa terobati.

Cinta Ditolak Komedi Bertindak

Akhirnya, di Maret 2024 bertepatan dengan momen kelulusan saya dari kampus, saya memutuskan merantau ke Yogyakarta. Agendanya, mencari pekerjaan di kota tersebut sembari menyembuhkan depresi yang telah saya alami. Di Yogyakarta, kebetulan saya diterima bekerja sebagai advertiser di perusahaan yang bergerak di bidang penjualan produk-produk kesehatan.

Di tengah-tengah kesibukan saya sebagai pekerja, saya memutuskan untuk mengikuti komunitas Stand Up Indo Jogja sebagai ajang untuk mengistirahatkan diri dari rutinitas pekerjaan. Ternyata, setelah saya aktif menjadi komika di komunitas Standup Indo Jogja dan belajar tentang kesenian Stand Up Comedy, depresi yang telah saya alami selama bertahun-tahun akhirnya sembuh dengan sendirinya.

Salah satu senior di komunitas Standup Indo Jogja pernah memberi tahu saya bahwa Stand Up Comedy adalah seni untuk mengenal diri sendiri serta berdamai dengan keadaan diri sendiri. Dari situ, saya mulai paham bahwa menerima keadaan diri sendiri dan berdamai dengan pengalaman pahit di masa lalu ternyata ampuh untuk menenangkan jiwa dan pikiran. Apalagi, waktu saya melakukan pertunjukan Stand Up Comedy di atas panggung, saya bisa mencurahkan isi hati saya yang sudah lama saya pendam selama bertahun-tahun.

Sebagai penutup, kelebihan lain menjadi seorang komika adalah bisa menghibur orang lain sekaligus membuat mereka tertawa. Apalagi, materi yang disampaikan relate dengan keadaan yang dialami oleh penonton, maka penonton akan semakin tertawa terbahak-bahak. Jika itu terjadi, maka komika akan bahagia dan lebih sering menulis materi serta aktif mengadakan pertunjukan Stand Up Comedy.

 

Penulis: Primanda Andi Akbar
Editor: Muhammad Ridhoi

BACA JUGA: Bangga Punya Kakek Tentara Veteran, Tapi Nelangsa Karena Tak Dianggap Negara

Baca Juga

Ilustrasi Matahari dan Mantel dalam Cerita (www.pinterest.com)
Picture of Primanda Andi Akbar

Primanda Andi Akbar

Lulusan S1 Ilmu Politik Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Sehari-hari bekerja di bidang kreatif dan digital.