Jungkir Balik Perkuliahan Daring

Sumber: pinterest

Sungguh senangnya bukan main, terkhusus bagi mahasiswa begitu dikabari bahwa perkuliahan akan dilakukan secara daring karena dosen memiliki agenda lain. Namun, tidak semua dari mereka merasakan manis madu informasi tersebut. Sebagiannya pun ada yang resah, terutama para mahasiswa yang sudah cukup serius bersemangat untuk berangkat belajar. 

Kejadian semacam ini tidak hanya terjadi saat bulan Ramadan saja, bahkan kerap terjadi pada perkuliahan di hari-hari biasa. Pembelajaran daring melalui platform seperti Zoom atau Google Meet sering dianggap kurang efektif dalam memberikan pemahaman mendalam kepada mahasiswa. 

Hambatan Komunikasi antara Dosen dan Mahasiswa 

Acap kali, saya mengamati pola yang sama, yaitu dosen menjelaskan materi, sementara mahasiswa menyimak dari masing-masing tempat. Namun, dalam laku tersebut, ada-ada saja mahasiswa yang melakukan tindakan-tindakan absurd. Mereka biasanya ada yang sambil tiduran, membuka aplikasi media sosial, atau melakukan kegiatan lain sehingga mengaburkan keberadaannya dalam proses pembelajaran tersebut.

Hal tadi kentara ketika dosen mengajukan pertanyaan atau menunjuk mahasiswa secara acak. Sayangnya, respons yang diberikan cenderung lambat, ragu-ragu, atau bahkan absen suaranya. Perkara ini menunjukkan bahwa komunikasi keduanya tidak berjalan secara optimal. 

Dosen sedang serius berbicara, tetapi jarang mendapat respons agresif yang menandakan mahasiswa memahami atau paling tidak mendengarkan. Sampai saban waktu, pernah juga, perkuliahan berlangsung secara monoton dan berujung pada formalitas belaka. Kehadiran terpenuhi, materi tersampaikan, tetapi tidak dengan proses diskusi atau pendalaman yang bermakna.

Meninjau Kembali Makna Pembelajaran yang Bermakna

Konon katanya, digitalisasi pembelajaran adalah bentuk emas kemajuan intelektual. Namun, pada kenyataannya pembelajaran daring tidak selalu dapat dijadikan tolok ukur kemajuan peradaban. 

Saya sepakat bahwa fleksibilitas waktu dan kemudahan akses adalah nilai tambah dari pembelajaran daring. Akan tetapi, juga tidak bisa dipungkiri sentuhan terhadap emosi dan kognisi mahasiswa menjadi pekerjaan rumah kiranya. Ini bukan berarti tujuannya untuk menafikan digitalisasi, melainkan lebih ke arah mempertanyakan kembali defenisi optimalisasi “pembelajaran bermakna”.

Sempat, Goleman menyiratkan dalam bukunya Social Intelligence (2007) bahwa ketika dua orang berinteraksi secara langsung, terjadi tarian saraf sosial yang memperkuat pemahaman. Mimik muka, bahasa tubuh, dan dengung suara memberikan sinyal-sinyal yang membantu otak memproses informasi sekaligus merangsang kognitif yang lebih baik. 

Dalam interaksi tak langsung, dosen sulit melihat apakah mahasiswa tampak bingung, antusias, atau kurang fokus, jikalau teknisnya tidak disiplin. Tetapi sebaliknya, dalam interaksi empat sampai puluhan mata, mahasiswa justru dapat menangkap makna lebih dalam dari penjelasan dosen melalui ekspresi dan gestur.

Mungkin, terjadinya hal ini disebabkan kamera yang mati dan mikrofon yang dibisukan, sehingga membuat interaksi terbatas pada suara dan salindia. Dosen tidak bisa mengetahui apakah mahasiswa benar-benar menyimak atau sekadar hadir secara kotak nama. Akibatnya, proses penyesuaian gaya mengajar berdasarkan respons mahasiswa menjadi sulit dilakukan dan tanda tanya muncul mengenai eksistensialnya.

Kelemahan Perkuliahan Daring 

Mengaca dari penelitian yang dilakukan oleh Zahara dan kawannya (2023) terhadap mahasiswa PGSD Universitas Nusantara PGRI Kediri menunjukkan bahwa mahasiswa merasa diuntungkan dengan kuliah daring, terutama pada bulan Ramadan karena tidak perlu datang ke kampus. Namun, penelitian itu juga mencatat bahwa pengurangan jumlah pertemuan tatap muka berpotensi menurunkan kualitas pembelajaran. Materi yang seharusnya didiskusikan secara mendalam menjadi terbatas karena waktu yang dipangkas.

Penelitian lain oleh Pasaribu (2022) tentang pembelajaran piano daring menemukan bahwa siswa sering salah memahami teknik bermain karena tidak ada demonstrasi langsung dan koreksi secara real-time. Temuan-temuan tadi menunjukkan bahwa pembelajaran daring kurang efektif jika tujuan utamanya adalah pemahaman yang mendalam dan keterampilan bermakna.

Dari dua penelitian tersebut, kiranya dapat ditarik pemahaman, bahwa kelemahan utama pembelajaran daring bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada berkurangnya interaksi manusiawi yang dibutuhkan dalam proses belajar. Mahasiswa mungkin dapat mengakses materi kapan saja, tetapi tanpa interaksi yang memadai, pemahaman yang diperoleh cenderung kurang menstimulus kognisi.

Jalan Tengah Perkuliahan Daring

Sebentar, jangan risau, fenomena tadi tidak bisa seabrek ditandaskan pada laku pembelajaran daring. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kualitas interaksi antara dosen dan mahasiswa. Mahasiswa disarankan mengaktifkan kamera selama kuliah berlangsung. Dengan kamera menyala, dosen dapat melihat ekspresi dan respons mahasiswa. Hal ini memungkinkan dosen menyesuaikan kecepatan dan ketangkasan di saat menjelaskan penyampaian ilmu. Mahasiswa juga akan merasa lebih terlibat karena sadar bahwa kehadiran visual mereka terlihat. 

Sisi lain, dosen dapat mendorong mahasiswa untuk mencatat secara manual selama atau setelah kuliah. Menulis tangan membantu otak memproses informasi lebih dalam dibanding mengetik. Mahasiswa dapat diminta membuat ringkasan atau peta konsep dari materi yang disampaikan, lalu mengunggahnya sebagai bukti pemahaman. Kegiatan ini memaksa mahasiswa untuk mengolah ulang informasi, bukan sekadar menyimpannya sementara di gawainya.

Lebih jauh, dosen perlu merancang perkuliahan daring yang lebih interaktif. Metode ceramah satu arah sebaiknya dikombinasikan dengan kuis singkat, diskusi kelompok kecil melalui fitur breakout room, atau sesi tanya jawab yang terstruktur. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi didorong untuk aktif berpikir dan berpartisipasi.

Perlu juga untuk diperhati, jumlah pertemuan daring perlu dibatasi. Jika memungkinkan lebih baik luring diterapkan secara optimal. Pertemuan luring digunakan untuk sekadar diskusi mendalam dan praktik, sementara pertemuan daring untuk penyampaian materi dasar atau pengayaan. Dengan cara ini, kelebihan masing-masing metode dapat dimanfaatkan secara optimal.

Kendati demikian, efektivitas pembelajaran daring tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh sejauh mana interaksi antara dosen dan mahasiswa dapat lebih berkelindan. Jika interaksi itu lemah, maka pemahaman yang dicapai juga akan rentan-rendah. Oleh karena itu, perbaikan harus difokuskan pada upaya merekonstruksi cara komunikasi dua arah, bukan sekadar digitalisasi saja.

 

Penulis : M. Azka Ulin Nuha
Editor: Amanina Rasyid Wiyani 

BACA JUGA: Kalbu Yang Tak Terbakar dan Puisi Lainnya Karya Muna Assyahidah

 

 

Baca Juga

Picture of M. Azka Ulin Nuha

M. Azka Ulin Nuha

(Juru Tulis Jaduman Nyembarang Kendal dan Siswa Tadris Bahasa Indonesia. Bisa disapa @maaun_banyu...