Kalbu Yang Tak Terbakar dan Puisi Lainnya Karya Muna Assyahidah

Ilustrasi Kalbu Yang Tak Terbakar dan Puisi Lainnya
Kalbu Yang Tak Terbakar dan Puisi Lainnya

Kalbu Yang Tak Terbakar

Aku memanggul senyap dengan dada terbuka,
mendengar waktu bergetar di sela napas.
Segalanya tampak rapuh, namun aku tak rubuh —
karena di balik retak, ada cahaya yang diam-diam tumbuh.

Pengorbanan bukan tentang hilang,
tetapi tentang bertahan di antara yang runtuh.
Tentang menyalakan diri perlahan,
agar yang lain tak kehilangan arah.

Aku belajar dari luka,
bahwa darah pun bisa menjadi puisi,
dan tangis, bila sabar menunggu,
akan menjelma menjadi doa yang berkilau di langit pagi.

Maka biarlah aku terbakar,
asal api ini menyala tanpa amarah.
Karena kekuatan sejati bukan di tangan yang mencengkeram,
melainkan di hati yang tetap lembut —
meski dunia menuntut keras.

Jalan Yang Belum Bernama

Aku sudah berjalan terlalu lama,
hingga langkahku mulai lupa rasanya bergegas.
Mereka bilang, mimpi itu di ujung jalan,
tapi tak seorang pun tahu
seberapa jauh ujung itu berada.

Kadang aku berhenti, bukan karena lelah,
melainkan karena sunyi terasa lebih ramai
dari keramaian yang tak mengerti arah.
Aku menatap tanah—
tempat segala keyakinan itu ditanam,
dan menuliskan namaku di sana,
agar tidak hanyut bersama hembusan angin.

Pernah aku menukar tidur dengan harap,
dan harap dengan kecewa,
namun setiap subuh datang membawa suara yang sama:
“Coba sekali lagi.”

Aku mencoba tak lagi sibuk mencari cahaya;
aku belajar menyala pelan-pelan,
seperti lilin kecil
yang tetap tegak
meski angin lewat tanpa salam.

Dan jika suatu hari aku sampai,
biarkan aku menangis,
bukan karena tiba,
tapi karena akhirnya mengerti—
bahwa semua luka ini adalah peta,
dan Tuhan menuntunku
melewati jalan
yang belum bernama.

 

Yang Menyala di Tengah Retak

Di antara langkah dan luka,
aku menadah waktu
yang merembes dari dada,
bocor bagai embun menitik di senja.

Ada hari-hari yang tak sempat kusebut doa,
karena bibirku sibuk menahan runtuhnya bumi.
Di punggungku, beban bertransformasi menjadi musim,
berganti tanpa jeda, menari di tulang-tulang lelah.

Perjalanan ini menulis kalut yang mendalam
yang tak selalu bisa kusebut “tumbuh.”
Kadang hanya patah yang belajar
melintasi riak-riak langkahku sendiri.

Aku pernah ingin berhenti,
namun tanah di bawah kakiku
terlanjur hafal irama langkahku,
maka aku terus berjalan—
bukan karena kuat,
tapi karena tak ada pelabuhan lain untuk jatuh.

Mungkin ini yang disebut hidup:
kehilangan sedikit demi sedikit,
hingga akhirnya menemu diri
yang tak lagi sama,
namun elok dalam sunyi yang menyelimutinya.

 

Orkestra Sunyi

Di lorong-lorong gelap waktu,
aku menenun langkah dari debu dan rindu.
Badai berbisik, hening menabuh gongnya,
menguji akar jiwaku yang tak tampak.

Setiap luka adalah sungai yang menyalakan bintang,
setiap ragu adalah awan yang menaburkan cahaya.
Aku berjalan tanpa arah, namun tak tersesat,
karena keyakinan adalah kompas yang menembus diam.

Dan ketika puncak menampakkan wajahnya,
aku belajar: penerimaan bukan hadiah,
tapi mahkota yang tumbuh dari keteguhan hati.
Aku memeluk letihku,
aku mencium bayangan masa lalu,
dan dalam dekap sunyi itu, aku menjadi utuh.

Lautan waktu mengalir di bawah kakiku,
dan aku berdiri di atasnya,
jiwa terbuka, dada tenang.
Segala perjuangan, segala jatuh,
telah menyatu menjadi nyanyian agung:
aku hadir, aku teguh, aku diterima
oleh alam, oleh jiwa, oleh semesta.

 

Baca Juga: Gerimis di Dalam Dompet dan Puisi Lainnya Karya Maria Utami

Baca Juga

Ilustrasi Framing Media dan Konstruksi Realitas yang Dibingkai (www.pinterest.com)
Picture of Muna Assyahidah

Muna Assyahidah

Wanita asal bali ini memiliki kecintaan terhadap dunia sastra, oleh karenanya ia menuangkan ide dan pemikirannya lewat kata-kata dan mengabadikannya dilaman instagramnya @eunia.muna. beberapa karya puisinya juga berhasil di bukukan melalui antologi puisi bersama penulis hebat lainnya seperti kesendirian ( 2024 ) secangkir kenangan ( 2024 ) sebuah janji ( 2024 ) Diary isi hati ( 2025 ).