Rabu, 10 September 2025 kemarin, Universitas Gadjah Mada (UGM) menjamu acara bedah buku bertajuk Bang Nung Book Roadshow 2025 di Gedung Grha Sabha Pramana (GSP). Sesuai judulnya, gelaran tersebut dimaksudkan untuk membedah buku biografi Pramono Anung Wibowo yang ditulis oleh Candra Gautama dan Wisnu Nugroho.
Tak ketinggalan Rektor UGM, Ova Emilia, secara khusus hadir untuk memberi sambutan pada acara yang bisa dibilang b aja. Pram dan istrinya, Hani, turut hadir dalam pembukaan bedah buku itu secara daring. Keduanya menampakkan citra pasangan romantis di hadapan para mahasiswa yang memburu doorprize dan buku gratis. Sebagaimana lazimnya teks biografi, isi buku itu bisa ditebak: sepak terjang Pram alias Bang Nung dari masa sulit hingga sukses jadi pejabat. Seluruh detail hidupnya dikemukakan dengan narasi positivistik sembari tetap menyisipkan narasi tokenisme: Di balik pria sukses, selalu ada wanita hebat. Alur itu dikemas dalam frasa “Panggung Depan, Panggung Belakang” yang dimaksudkan untuk membentuk kesan Pramono sebagai politisi yang “bersih” dan “apa adanya”.
Nggak Hanya Sekali Lho Ya
Bukan kali pertamanya UGM menjadi tuan rumah gelaran bedah buku para politisi. Setidaknya, dalam kisaran setahun terakhir, tiga biografi politisi sudah dibedah di kampus yang memang melahirkan banyak politikus ini. Buku biografi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan tajuk “Anak Papua Membuka Jalan untuk Negeri” sempat diulas beberapa waktu lalu. Bahlil waktu itu bahkan juga sempat hadir secara langsung ke GSP dan beroleh panggung orasi.
Kemudian, selang beberapa bulan kemudian, giliran buku biografi Erick Thohir yang diulas di MM FEB UGM. Rasa-rasanya, UGM ini—mungkin juga kampus lain—adalah pasar strategis untuk menjual buku-buku biografi yang digratiskan itu. Mestinya, mahasiswa patut curiga—minimal sanksi. Jangan-jangan, UGM yang punya reputasi akademis bagus sejatinya cuma jadi ladang glorifikasi—atau Bourdieu menyebutnya dengan fetisisasi (penjimatan)—bagi para politisi.
Ada Udang Apa di Balik ini Semua ?
Kita tidak pernah tahu ada agenda apa yang berkelindan di balik acara-acara berselimut “pembudayaan literasi” semacam itu. Misalnya saja, pada kasus Pram, dia memang berulang kali bilang kalau sebenarnya dia enggan maju di Pilkada DKI Jakarta. Tapi nyatanya, dia maju juga. Hasilnya pun menakjubkan: menang satu putaran. Retorika Pram yang enggan jadi pejabat eksekutif bisa saja cuma silat lidah di luar saja. Apalagi, ia tetaplah petugas partai (PDI-P), yang sebagaimana kata Ganjar Pranowo, harus tegak lurus arahan ketua umum.
Jadi, penulisan biografinya yang disokong penerbit arus utama sekaliber Kepustakaan Penerbit Gramedia (KPG) bisa saja ditengarai sebagai upaya pemolesan citra. Siapa yang bisa memastikan bahwa Pram tak bakal maju dalam gelaran Pilpres 2029 nanti jikalau sang ketum Megawati memberi dhawuh? Mestinya, UGM memikirkan hal-hal seperti ini. Potensi masa depan harusnya diantisipasi sejak dini.
Apalah arti reputasi akademik mentereng jikalau praktiknya cuma jadi alat politisi untuk melakukan self branding? Harusnya, kampus segede UGM ingat kalau penulisan biografi selalu punya bias hiperbolis. Sosok yang mewajah jelas ingin di-hype-kan, diteladan, juga dicap baik oleh para pembacanya. Untuk kasus biografi politisi, ini nggak beda sama kampanye pakai cara halus dan seolah intelektual.
Keterlaluannya, itu semua dilakukan sejak jauh hari sebelum kick off pemilu dimulai. Apa nggak celaka? Lagi pula, dari mana ongkos penerbitan untuk buku gratis sebanyak itu? Dengan kualitas premium, mestinya ongkosnya mahal. Tapi, kok bisa gratis? Snack-nya aja nggak kaleng-kaleng. Tersedia doorprize juga. Apalagi di masa efisiensi seperti sekarang.
Jangan-jangan uang rakyat lagi yang dipakai! Tidakkah kamu mikir, UGM?
Penulis: M. Khoirul Imamil M
Editor: Imam Gazi Al Farizi
