Jadi Mahasiswa Kritis Itu Capek, Kalau Teman Sekelasnya Sensitif

Jujur saja, sebagaimana judul pada tulisan ini. Jadi mahasiswa kritis itu ga asik, apalagi kalau teman sekelasnya sensitif. Tak hanya sekali-duakali, saya mencoba melontarkan pertanyaan setelah presentator membuka sesi tanya jawab di kelas perkuliahan. Sudah nawaitu banget mengungkapkan antusiasme atas topik materi yang disampaikan oleh presentator dan bahkan tak jarang presentator pun tidak sungguh-sungguh menguasai serta mendalami pemaparan materinya. Acap kali saya melihat mereka seolah hanya sedang bertadarus, tidak begitu jauh berbeda dengan aksi membaca UUD di upacara bendera hari senin waktu sekolah dulu.

Sekurang-kurangnya saya berusaha mematuhi prosedur diskusi tak tertulis, mengangkat tangan lalu memperkenalkan diri dan mengujarkan pertanyaan. Sayangnya penyambutan baik tidak selalu muncul.  Akan hadir kemudian  salah seorang dari mereka yang menampikkan laser mata, menatap dengan sinis. Seakan-akan tatapannya membualkan pesan tersirat, “Dih, anak ini lagi, sok aktif banget sih, sok banget jadi mahasiswa kritis, pertanyaannya membuat beban saja”. 

Terkadang para presentator ini lebih enakan kalau pertanyaan dari temannya bertelur dari akal imitasi, atau sebelumnya sudah melalui kesepkatan terlebih dahulu agar dramanya berjalan dengan lancar. Namun, saya tidak berkehendak semacam itu, kalau perilaku seperti ini terus terwariskan, maka pembelajaran justru tidak lagi substansial. Proses belajar jadi kehilangan maknanya dan diskusi pun terkesan hanya formalitas akting ala akademia.

Kerap mereka terkadang merasa resah ketika berdiskusi secara mendalam, atau setidaknya menjelaskan ulang agar teman-teman kelas dapat memahami dengan baik. Tindakan ini tidak saya niati untuk menjatuhkan marwah mereka. Justru, ini adalah bentuk maujud belajar bersama, menanyakan apa, mengapa, dan bagaimana materi mampu mencapai tujuan akhirnya, syukur-syukur bermanfaat di kehidupan nyata. Alih-alih meningkatkan kepekaan kognitif, hal semacam ini malah masih terstreotipkan sebagai  sesuatu yang tidak wajar bagi mereka yang sensitif terhadap tradisi akademisi yang seharusnya terjadi.

Panggung Sandiwara

Ihwal ini mungkin tidak hanya saya yang mengalaminya, bukan sekadar omon-omon semata. Laku “sandiwara akademik” ini kita warisi terus menerus, ruang-ruang kelas hanya akan terus menjadi panggung sandiwara bagi mereka yang sensi terhadap diskusi. Presentasi berjalan dengan skenario yang sudah rapi misalnya ada aktor yang berperan sebagai seorang tadarus materi tanpa stimulus pikir dan hati, ada pula figuran penanya basa-basi, dan sisanya merupakan penonton setia yang sebagian hadir, dan secercah lainya absen hayati, sebab sibuk dengan gawai sendiri. 

Sembari itu, tak pelak dengan polosnya saya mengangkat tangan, perkenalan, dan melontarkan pertanyaan yang berangkat dari ketidakpahaman yang jujur. Tanpa sadar, mungkin inilah batu loncatan yang tidak sengaja ngosak-asik “zona nyaman”. Lain halnya dengan pertanyaan akal imitasi, pertanyaan jujur adalah laku legitimasi yang menyokong pembelajaran yang berarti, tetapi entahlah, apakah kita sudah memaknai lema “belajar” dengan senang hati.

Jangan sekali-kali “belajar” kemudian berangkat dari persepsi  proses transfer pengetahuan satu arah. Belajar adalah proses dialektika yang membangun makna melalui interaksi nyata, tanya-jawab reflektif, bahkan sampai-sampai menjurus pada perdebatan intelektual epistemik. Tanpa hal-hal tersebut, mungkin yang terjadi hanyalah indoktrinasi pengetahuan, bukan lagi mendasar pada makna apa itu “pendidikan”.

Matinya Rasa Ingin Tahu

Setelah saya bermuram durja, ditemukanlah pemahaman bahwa fenomena ini bukan sekadar masalah sensitivitas persona, melainkan gejala dari normalisasi atas penggerogotan ruh akademika. Alhasil cita-cita mewujudkan generasi mahasiswa kritis hanyalah mimpi siang bolong yang dihadapkan dengan realita tak ideal di ruang kelas. Sekurang-kurangnya, dalam upaya membaca realita akademik ini. Perlu disadari bahwa tidak ada yang paling benar atau paling salah, pun tidak ada pula yang paling sempurna. Sisi lain, lebih memprihatinkan lagi jika hal ini terus digencarkan, yang mati bukan hanya mood presentator saja, tetapi juga rasa ingin tahu mahasiswa yang secara tidak langsung terbungkam.

Barangkali, pertanyaan perlu sedikit diraba, tapi jangan terlalu melunak dalam esensi bertanya. Kita bisa memilih diksi yang lebih halus, tanpa mengelus-elus putri malu kegarangan matanya. Mengemas pertanyaan dengan apik, atau mengawali dengan afirmasi positif sebelum menampikkan sanggahan. Api rasa ingin tahu itu harus tetap terjaga, dan rangkul bahu dalam pembelajaran terus menyala.

Bukan berarti semua itu karena sok tahu, tapi sebab kita ingin mencari tahu. Bukan pula upaya cari-cari nilai dan muka, karena proses berkuliah adalah proses menggali pengetahuan. Jangaan sampai pertanyaan teridentifikasi sebagai bentuk ketidaksolidan terhadap kelompok presentator, pun tidak seharusnya hanya presentator yang menjawab. Keterlibatan aktif mahasiswa lainnya juga tak kalah penting. 

Meruntuhkan Stigma, Membangun Tradisi Diskusi

Tak ada yang tahu, bisa jadi kita menemukan jawaban yang kelak kita butuhkan melalui lontaran pertanyaan yang selama ini terstreotipkan sebagai beban. Barangkali ini karena kesibukan kita dalam membangun citra, terlalu khawatir dengan penilaian buruk yang tidak membangun, atau bahkan terlalu takut penampilan tidak sempurna. Sebaliknya, kita dapat menggali pemahaman yang belum pernah kita sentuh dan menemukan ilmu yang belum kita ketahui.

Ruang kelas seharusnya tidak lagi menjadi ajang pembuktian siapa yang paling pintar dan mendapatkan IPK yang tinggi. Sebab kelas perlu menjadi ruang diskusi yang mengasah, menanam, dan menyiram benih-benih pemikiran agar tetap segar bersama. Membangun ruang dinamika sebagai mahasiswa kritis yang tidak tunggal. Supaya kita tidak lagi memaknai pertanyaan dan penjelasan ulang sebagai momok akademik yang menakutkan sekaligus menjatuhkan. Tradisi ini akan kokoh jika kita semua bersedia melewatinya secara bersama, tanpa saling menyalahkan.

Menukil dari Sayyid Quthb, “Ketika hidup ini hanya untuk diri sendiri, maka ia akan terasa sangat singkat dan tak bermakna”. Jika belajar hanya untuk diri sendiri tanpa mau beranggar pikiran dengan orang lain, bagaimana kita mengaktualisasikan pembelajaran bermakna. Kendati demikian, mari bubuhkan niat belajar dalam hati. Manusia tidak dilahirkan dalam keadaan berilmu, dan orang berilmu tidak seperti orang tak berilmu (Syekh Az-Zarnuji dalam Alala, 2017).

Editor: Amanina Rasyid Wiyani 

Baca Juga

Ilustrasi Cerpen Pria Mencari Lamaran Pekerjaan (CanvaAI/Prompter Ridhoi)
Picture of M. Azka Ulin Nuha

M. Azka Ulin Nuha

(Juru Tulis Jaduman Nyembarang Kendal dan Siswa Tadris Bahasa Indonesia. Bisa disapa @maaun_banyu...