“Udah bagus dapet yang good looking gini, eh malah dibuang.”
Eits, tapi ini bukan tentang pacar. Inilah kata-kata yang mungkin keluar dari lembaran jepretan idol K-Pop nan cantik dan ganteng kalau foto bisa bicara.
Saya sendiri adalah penikmat K-Pop garis keras. Dengerin lagu? Pastinya iya. Lihatin foto mas-mas Korea yang ganteng? Iya, dong. Ikutin berita K-Pop? Sayalah pengamat akun-akun portal berita K-Pop itu. Beli merchandise dan pernak-pernik dari grup yang saya suka? Ya, kalau lagi ada duit aja, sih.
Berbicara tentang merchandise K-Pop, ada satu ekosistem yang dikenal sebagai komunitas SBT (sell, buy, trade). Komunitas ini menjadi ruang bagi penggemar untuk menjual, membeli, dan menukar berbagai koleksi, mulai dari album, photocard, hingga merchandise resmi lainnya.
Namun, di balik aktivitas tersebut, tersimpan logika kapitalisme yang cukup kuat. Menghabiskan ratusan ribu hingga jutaan rupiah demi selembar photocard merupakan hal yang lumrah di kalangan penggemar. Sementara itu, agensi hiburan terus merilis merchandise baru dalam waktu singkat, menciptakan siklus konsumsi yang nyaris tanpa henti. Akibatnya, relasi penggemar dengan idola tidak hanya dibangun melalui musik dan afeksi, tetapi juga melalui praktik konsumsi yang terus-menerus didorong oleh industri.
Namun, setinggi apapun harganya, 10 detik kemudian label sold out sudah terpampang di laman pre-order. Belum lagi kalau masuk ke Indonesia yang mata uangnya lemah dan pajaknya setinggi langit. Makin-makinlah harga merchandise itu. Benar-benar jadi fans K-Pop sama dengan menjadi budak kapitalisme.
Usut punya usut, masalah ini bisa merambat ke banyak arah. Kapitalisme dan perilaku konsumtif ini tidak hanya bersinggungan dengan ekonomi, tetapi juga dengan lingkungan. Nyatanya, masalah ini ikut menarik perhatian dari Kementerian Lingkungan di Korea Selatan. Per tahun 2022, tercatat produksi sampah dari dunia K-Pop meledak di luar kontrol hingga naik 14 kali lipat dari tahun 2017.
Dari tahun 2017 yang menghasilkan 55,8 ton sampah meroket hingga mencapai angka 801,5 ton di tahun 2022. Dari yang awalnya saja sudah sangat banyak, kini melonjak menjadi sangat sangat sangat banyak. Hal ini mungkin terdengar absurd karena apa sih yang terjadi di industri K-Pop sampai-sampai menjadi ibu dari begitu banyak sampah plastik?
Baca juga : Saat Saya Bertanya Kepada Simbok Soal Menikah
Dari Album Musik Menjadi Mesin Produksi Sampah
Dalam pemahaman umum, album musik sering dipersepsikan sebagai produk sederhana berupa keping CD yang disertai lembar lirik lagu. Namun, asumsi tersebut tidak sepenuhnya relevan dalam industri K-Pop kontemporer. Di ekosistem K-Pop, album tidak hanya berfungsi sebagai medium distribusi musik, melainkan juga sebagai komoditas budaya yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman konsumsi yang lebih luas.
Menariknya, CD yang secara tradisional menjadi elemen utama sebuah album justru kerap menempati posisi sekunder. Nilai album K-Pop lebih banyak terletak pada berbagai elemen pendukung di dalamnya yang menggabungkan fungsi estetis, kolektibel, dan emosional bagi para penggemar.
Album K-Pop memiliki banyak pernak-pernik kecil di dalamnya, seperti photobook, stiker, poster, postcard, dan takhta tertingginya dipegang oleh photocard. Photocard adalah secarik kertas tebal dengan foto idola kita di atasnya (makanya biasa disebut juga kertas ganteng). Photocard yang didapatkan dalam setiap album bersifat acak, sehingga ada aliran adrenalin yang didapatkan setiap unboxing album.
“Semoga photocard-nya dapet biasku!” menjadi mantra yang dilafalkan setiap fans sebelum membalikkan photocard yang didapatkannya. Kalau dapat photocard bias, ya puji Tuhan. Kalau dapat photocard anggota lain, ya nggak masalah juga sih sebenarnya. Namun, tidak jarang juga ada fans yang rela membeli album sampai mendapatkan photocard yang diinginkan. Ketika sudah mendapatkan photocard yang diinginkan, album sisaan itu hanya memiliki dua kemungkinan: dijual lagi atau dibuang.
Album K-Pop pun tidak terbatas pada 1 versi setiap 1 judul, tetapi bisa mencapai hingga 3 versi. Setiap versi ini letak perbedaannya hanya terdapat pada konsep foto, palet warna, dan aspek-aspek sekunder lainnya. Karena aspek fundamental dari sebuah album adalah tentang lagunya, bukan? Namun, inilah yang mendorong fans untuk membeli lebih banyak album dari judul yang sama. Padahal, entah berapapun album yang dibeli, isi lagu yang ada di dalamnya tetap sama.
Nah, dari kedua hal tersebut, terlihat kan, betapa CD tidak punya harga diri di dunia K-Pop? Bahkan ada berita yang mengabarkan kalau peristiwa membuang CD dari banyaknya album yang dibeli itu sudah lazim.
Ditambah lagi ada acara bernama fancall/fansign yang menjadi kesempatan bagi fans untuk bertemu dengan idola secara tatap muka maupun lewat video call. Siapa sih yang nggak mau ketemu dan ngobrol langsung dengan idolanya? Saya sendiri kalau diberi kesempatan buat ikut acara ini, saya maju paling depan. Sayangnya, sistem yang diberlakukan untuk mengikuti acara ini bobrok minta ampun. Untuk memenuhi keinginan hubungan parasosial ini, para fans harus membeli album sebanyak mungkin. Semakin banyak album yang dibeli, semakin besar kemungkinan untuk bisa memenangkan undian berhadiah grand prize ini.
Gara-gara harus membeli album sebanyak mungkin, album-album ini akhirnya malah menumpuk di tong sampah. Di Korea Selatan, sudah banyak kali ditemukan satu kardus penuh berisi album ditelantarkan begitu saja di tempat sampah. Coba kita ilustrasikan secara kasar. Ada ratusan grup K-Pop yang sedang aktif saat ini. Anggaplah satu grup minimal melakukan comeback sebanyak dua kali dalam setahun. Bayangkan juga berapa banyak fans yang berlomba-lomba untuk memenangkan undian fancall/fansign. Kalau sampah album yang dihasilkan bisa diakumulasikan, mungkin bisa menyaingi tingginya Gunung Everest.
Sampah-sampah ini pun tentu memiliki dampak buruk bagi lingkungan. Dari produksinya saja, untuk membuat sebuah CD menghasilkan 500 gram emisi karbon. Sudah memproduksi banyak emisi karbon, ujung-ujungnya menjadi sampah yang ikut menyumbang jumlah emisi karbon. Mau didaur ulang pun sulit, karena CD terbuat dari bahan polikarbonat yang perlu diolah secara khusus supaya tidak merilis gas beracun. Bahkan, ada seorang ahli yang mengatakan bahwa penjualan album grup terkenal menghasilkan karbon emisi yang setara dengan keliling Bumi sebanyak 74 kali.
Baca Juga : Kepada Shei dan Puisi Lainnya oleh Anugerah Pratama
Ketika Fans Melawan Industri yang Mereka Cintai
Dari tadi, tulisan ini mungkin terlihat seperti menyudutkan dan sangat mengkritik pihak fans. Namun, ini semua lebih daripada itu. Isu lingkungan ini tak lain dan tak bukan adalah akal bulus dari agensi yang mata duitan. Merilis berbagai versi album untuk satu album yang isi lagunya sama? Harus membeli album sebanyak-banyaknya untuk bisa ngobrol dengan idola? Apa lagi kalau semua ini bukan trik marketing dari agensi? Fakta yang terpampang jelas di depan mata dan tidak akan berubah, industri K-Pop hanya akan selalu memanfaatkan loyalitas fans. Membeli album yang semestinya menjadi bentuk dukungan fans pada idola dijadikan ladang mencari uang jalur eksploitasi.
Melihat masalah ini pun, fans K-Pop tidak hanya diam saja. Ada sebuah gerakan bernama Kpop4Planet, gerakan oleh para fans K-Pop yang peduli terhadap isu lingkungan. Menariknya, seorang penikmat K-Pop sekaligus aktivis lingkungan asal Indonesia, Nurul Sarifah menjadi co-founder gerakan ini bersama rekannya dari Korea Selatan, Lee Dayeon. Mereka berdua membangun Kpop4Planet pada tahun 2021 dan telah bekerja sama dengan banyak fandom K-Pop di seluruh dunia. Kpop4Planet juga telah berhasil melakukan berbagai kampanye lingkungan dengan ribuan peserta yang ikut peduli terhadap isu-isu yang diangkat.
Salah satu kampanye yang sedang berjalan berhubungan dengan kritik sampah album K-Pop juga sedang dijalankan dengan tajuk Plastic Album Sins. Kampanye ini sudah diikuti oleh 11.378 orang yang menuntut para agensi untuk berhenti memanfaatkan fans dan ikut bertanggung jawab atas dosa sampah yang mereka buat.
Jujur saja, sebagai seorang fans, saya rasa masalah ini cukup rumit. Di satu sisi kami ingin mendukung idola kami, tapi di satu sisi aksi ini bisa berdampak buruk bagi lingkungan. Di satu sisi kami sadar sedang dieksploitasi oleh industri, tapi di satu sisi kami dengan sukarela tetap mengeluarkan uang demi mendapatkan barang yang diinginkan. Namun, hal yang tetap menjadi akar permasalahan ini adalah kapitalisme industri. Kapitalisme yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan maksimal. Kapitalisme yang tidak peduli dan lepas tangan akan dampak yang telah dihasilkannya.
Baca juga : Saat Saya Bertanya Kepada Simbok Soal Menikah
Editor : Amanina Rasyid Wiyani
