Saat Saya Bertanya kepada Simbok Soal Menikah

source: pinterest

Sore itu, saya bertanya kepada Simbok mengapa dahulu ia memutuskan untuk menikah. “Bukankah lebih asyik membujang? Hidup bebas. Tanpa beban. Tiada tanggungan,” desak saya. Tanpa berlama, Simbok segera menimpali, “Nanti kalau tua, siapa yang mau mengurus kalau nggak kawin dan punya anak?” Saya manggut-manggut. Mengiyakan, meski agak sangsi dan membatin, “Oh, berarti aku ini—anaknya—cuma buat jadi caregiver?” Wah, jadi makin mikir, kalau nanti saya mati duluan, lalu bagaimana? Siapa yang bakal merawat Simbok kelak?

Tapi sejujurnya, saya lebih penasaran dengan petikan kalimat Simbok “kawin dan punya anak”. Apakah Simbok kawin hanya buat punya (bikin) anak? Mesti saja saya tak cukup berani untuk menanyakan hal demikian kepada simbok. Apalagi, sebagai orang Jawa, masalah seperti ini masuk ranah saru alias tabu.

Meski anaknya ini telah berjanggut lebat lagi berkumis tegas, pun juga tentu paham dengan hal “begituan”, tetap saja, Simbok tidak akan sekali-kali terang-terangan speak up. Simbok lebih lebih ingin bersikap normatif, persis piyantun Jawa yang telah berumur.Karenanya, saya tidak meneruskan kesangsian itu, kecuali dengan menuliskannya lewat catatan ini. 

Menurut kesangsian saya, kawin (berhubungan seksual) sebetulnya lebih dari sekadar melanjutkan keturunan. Saya pikir, menikah adalah bagian penting dalam fase eksistensial manusia. Begawan psikoanalisis, Sigmund Freud, sebagaimana dinukil dalam bagian awal buku Man’s Searching for Meaning karya Viktor Emil Frankl, menyebut bahwa hasrat seksual (sexual desire) merupakan penyebab utama manusia mengalami frustasi.

Freud seperti ingin bilang kalau manusia tidak ingin stres, atau ingin beroleh obat stres, maka berhubungan seksual lah. Sementara, dalam perspektif masyarakat Timur yang cenderung religius, hubungan seksual hampir-hampir hanya bisa diterima jika berlangsung di dalam arena pernikahan. Maka, pada pupusannya, kita bisa menyebut bahwa menikah merupakan jalan untuk merawat kewarasan.

Pandangan Freud yang terdengar berani itu sebetulnya bisa menjadi pembenaran akademis untuk segelintir orang yang menikah dengan alasan “menyelamatkan diri dari perzinahan”. Bagaimanapun, nafsu seksual pada masing-masing orang seringkali memiliki konstelasi dan penjinakan yang beragam. Meski influencer kesehatan seperti dr. Tirta telah sering menyarankan olahraga sebagai jurus menundukkan nafsu seksual, tetap saja teknik itu tak melulu efektif. Karenanya, sebagian orang memilih menikah demi bisa mengamankan diri dari serangan hasrat seksual yang kadang datang mendadak. 

Namun, di sisi lain, timbul pertanyaan apakah sungguh-sungguh pernikahan dapat menyelamatkan orang dari tekanan mental. Alasannya sederhana: Bukankah setelah menikah orang justru punya beban tambahan—ekonomi, sosial, personal, juga familial? Telah jamak kita ketahui, orang sambat soal masalah rumah tangga. Sebagian berkeluh soal pasangannya yang mulai tak romantis, anak-anak yang nakal, mertua yang hobi merecoki,juga impitan biaya pendidikan anak yang mencekik karyawan bergaji u-em-er. Lantas, apakah semua beban itu bukannya berpotensi menyulut rasa frustasi? Apakah dengan berhubungan seksual lalu semua beban itu sirna dina seketika?

Memperbincangkan masalah sepersonal pernikahan dan hubungan seksual memang tidak pernah sederhana seringkas melemparkan sebutir kerikil ke halaman depan rumah tetangga. Sebagai bagian dari perjalanan eksistensial, seperti telah disebut di muka, pernikahan bahkan beroleh stempel sakral.

Bahkan, dalam perspektif Jawa, fase pernikahan diabadikan di dalam tembang Macapat “Gambuh”. Pada fase ini, manusia diibaratkan telah men-jumbuh-kan hasratnya dengan sang jodoh dan lekas membina balai rumah tangga. Setelahnya, setali pasangan itu akan merasakan “manisnya” berumah tangga sebagaimana termuat dalam bait-bait tembang “Dhandhanggula”. 

Ya tapi, apa iya selalu manis?

Baca juga: Kepada Shei dan Puisi Lainnya oleh Anugerah Pratama

Baca Juga

Ilustrasi Jouska Marhun