Secangkir Kopi, Seribu Tahun Sampah

source : pinterest

Dari Estetika Kafe Menuju Gunungan Sampah

Jalan Kaliurang kembali hidup dengan pemandangan yang familier. Deretan kursi dan meja sudah penuh sejak pagi hari tadi. Di antara deru mesin kopi dan obrolan soal deadline tugas, ada satu pemandangan yang begitu lumrah hingga nyaris tak lagi disadari. Tampak beragam barisan cup plastik transparan dengan logo kafe yang berdiri rapi di atas meja, menunggu giliran masuk tempat sampah. Pemandangan itu tidak pernah benar-benar dipedulikan, bahkan tidak benar-benar dilihat.

Yogyakarta sering digambarkan sebagai surga bagi para penikmat kopi. Menjamurnya kedai kopi dalam satu dekade terakhir telah mengubah lanskap bisnis kota sekaligus membentuk pola hidup baru. Bagi banyak mahasiswa, kafe telah menjadi perpanjangan ruang belajar di luar kampus dan kos. Mereka berdatangan dengan laptop dan berbagai target yang ingin diselesaikan. Akan tetapi, aktivitas yang tampak produktif tersebut juga menghasilkan konsekuensi yang tidak kecil yakni akumulasi sampah kemasan sekali pakai yang terus bertambah setiap harinya.

Bersamaan dengan menjamurnya budaya ngopi dan ruang-ruang yang dirancang untuk menarik perhatian di media sosial, muncul persoalan lingkungan yang sering terabaikan. Setiap gelas plastik, sedotan, dan kemasan sekali pakai pada akhirnya berkontribusi pada tumpukan limbah yang terus membebani sistem pengelolaan sampah di Yogyakarta.

Esai ini tidak bermaksud menghakimi siapa pun yang menikmati secangkir kopi. Ngopi telah menjadi bagian dari budaya urban dan kehidupan sosial masyarakat. Namun, di tengah pesatnya pertumbuhan budaya tersebut, ada satu pertanyaan yang layak diajukan yaitu berapa harga sesungguhnya dari setiap tegukan kopi jika biaya ekologis yang ditanggung lingkungan turut diperhitungkan?

Cup plastik tidak muncul begitu saja sebagai standar industri kafe tanpa alasan. Ia menawarkan tiga keunggulan yang sulit ditolak: murah, praktis, dan yang sering luput dari perhatian, memiliki nilai estetika branding. Sebuah cup dengan logo kafe yang dirancang apik adalah medium pemasaran berjalan. Ketika pelanggan mengunggah foto kopi mereka ke Instagram dengan logo terlihat jelas, itu adalah iklan gratis senilai ribuan rupiah bagi pemilik usaha.

Di antara keindahan yang disusun itu, ada penghuni yang kelihatannya sepele: cup plastik. Benda yang menemani es kopi susu selama satu jam itu ternyata bisa bertahan ratusan tahun setelah kita membuangnya. Sebagian besar cup tersebut terbuat dari bahan yang membutuhkan sekitar 400 hingga 1.000 tahun untuk terurai.

Sialnya, plastik tidak benar-benar menghilang. Ia hanya berubah menjadi mikroplastik yang pelan-pelan menyusup ke tanah dan air, lalu masuk ke rantai kehidupan tanpa disadari.

Pengingat paling nyaring berbunyi ketika Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan, TPA resmi yang melayani Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul, ditutup karena overkapasitas. Ketika TPA tutup, sampah menumpuk di jalanan, sungai, dan lahan-lahan kosong. Di sinilah cup plastik kafe yang tampak estetik menemukan takdir akhirnya, bukan di museum desain, melainkan di tumpukan sampah yang menggunung.

Baca Juga Tulisan Serupa : Niatnya Unboxing Album, Malah Jadi Unboxing Karbon

Mahasiswa, Tumbler, dan Kontradiksi Krisis Iklim

Tidak ada kelompok sosial yang lebih bertanggung jawab sekaligus lebih rentan dalam ekosistem kafe Yogyakarta dibanding mahasiswa. Mereka adalah motor penggerak ekonomi kafe tersebut, dengan kebutuhan kafein yang tinggi, waktu yang fleksibel, dan kebiasaan nongkrong berjam-jam, namun sekaligus menjadi produsen besar sampah kemasan plastik yang lahir dari budaya ini.

Ada dilema kelas yang tersembunyi di balik kebiasaan sederhana ini. Membawa tumbler atau botol minum pribadi ke kafe adalah tindakan yang secara logika sangat masuk akal, tetapi masih sering dianggap tidak praktis, merepotkan, bahkan stigmatis dalam lingkungan pergaulan tertentu.

“Ngapain bawa tumbler? Koyo wong bener.”

Begitulah kira-kira nada candaan yang beredar. Standar keren belum terlalu memasukkan tumbler sebagai aksesori yang layak dipamerkan. Sementara itu, cup branded dengan desain minimalis justru dianggap sebagai bagian dari identitas urban.

Yang paling menarik sekaligus paling bertolak belakang adalah fenomena berikut: mahasiswa yang paling vokal bicara soal krisis iklim di media sosial sering kali adalah orang yang sama yang masih menggunakan sedotan plastik saat memesan minuman di spot kopi favorit mereka.

Apakah ini bentuk kemunafikan? Mungkin tidak sesederhana itu.

Mahasiswa adalah korban sekaligus pelaku. Mereka tumbuh dalam sistem yang tidak pernah benar-benar mengajarkan bahwa konsumsi punya konsekuensi spasial, bahwa setiap cup yang mereka beli di Nologaten atau area permukiman padat mahasiswa pada akhirnya akan berakhir di suatu tempat di bumi yang sama dengan yang mereka pijak.

Yogyakarta memiliki cara unik untuk mengekspresikan kemumetannya terhadap persoalan sampah, yaitu melalui sebuah spanduk. Di sudut-sudut gang, di pinggir selokan, dan di tepi lahan kosong, kita bisa menemukan tanda-tanda yang ditulis dengan tangan atau dicetak dengan font tebal dalam bahasa Jawa: “Mbok ojo buang sampah neng kene, mengko kesurupan” atau “Semoga orang yang membuang sampah di sini stroke berkepanjangan.”

Spanduk-spanduk ini adalah bentuk perlawanan warga yang tidak punya akses ke kebijakan formal. Mereka menggunakan bahasa yang kadang penuh satire, kadang penuh amarah, untuk menegakkan norma yang gagal ditegakkan oleh sistem pemerintahan. Dalam banyak kasus, sampah yang paling sering mereka temukan di depan rumah mereka adalah sampah anorganik seperti botol air, styrofoam, dan tentu saja cup plastik kafe dengan sedotan yang masih menancap.

Ada ironi yang getir di sini. Kafe-kafe dengan estetika paling halus, dengan pencahayaan yang paling sempurna untuk foto, sering kali berada bersebelahan dengan gang-gang tempat spanduk-spanduk itu terpasang.

Baca Juga Tulisan Serupa : Niatnya Unboxing Album, Malah Jadi Unboxing Karbon

Siapa yang Harus Membayar Harga Segelas Kopi?

Akan tidak adil bila seluruh tanggung jawab diletakkan di pundak konsumen. Pemilik kafe juga berada dalam tekanan struktural yang nyata. Kemasan komposabel atau biodegradable bisa berharga tiga hingga lima kali lipat lebih mahal dibanding cup plastik konvensional. Dalam bisnis kafe yang margin keuntungannya tipis dan persaingannya sangat ketat, beralih ke kemasan ramah lingkungan tanpa insentif apa pun adalah keputusan yang secara finansial sulit dipertahankan.

Tetapi yang patut diapresiasi, sejumlah kafe di Yogyakarta mulai menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin. Beberapa kafe di kawasan Condongcatur dan Tugu Jogja telah menerapkan sistem Bring Your Own Tumbler (BYOT) dengan potongan harga sebagai kompensasi tambahan. Beberapa lainnya menyajikan minuman dine-in dalam gelas kaca dan menggunakan cup plastik hanya untuk pemesanan takeaway.

Tantangan terbesarnya bukan pada niat, melainkan pada ekosistemnya. Seorang pemilik kafe tidak bisa sendirian mengubah perilaku konsumen yang terbentuk selama bertahun-tahun. Tanpa regulasi yang mendukung, tanpa insentif pajak bagi usaha yang beralih ke kemasan berkelanjutan, dan tanpa tekanan sosial yang cukup kuat dari konsumen, perubahan akan terus berjalan lambat—terlalu lambat untuk mengejar laju timbunan sampah plastik yang setiap harinya terus bertambah.

Ngopi adalah budaya yang menghidupkan Yogyakarta. Ia menghidupkan percakapan, menghidupkan usaha, dan menghidupkan semangat belajar ribuan mahasiswa yang merantau dan jauh dari rumah. Tidak ada yang perlu dimatikan dari budaya ini. Yang perlu dimatikan, atau setidaknya diminimalkan secara drastis, adalah cara kita membungkus dan membuang sisa-sisa dari budaya itu.

Setiap cup plastik yang kita hasilkan adalah keputusan. Keputusan untuk memprioritaskan kenyamanan beberapa menit di atas kesehatan tanah dan air untuk ratusan tahun ke depan. Kita bisa terus membuat keputusan itu dengan mata tertutup, atau kita bisa mulai membukanya.

Bumi tidak membutuhkan estetika foto dari cup kopi yang kita minum jika harganya adalah bencana ekologi di halaman rumah kita sendiri. Yang dibutuhkannya adalah kesadaran bahwa setiap tegukan harus dibarengi dengan tanggung jawab, dan bahwa etika ngopi yang sejati dimulai bukan dari biji kopi yang dipilih, melainkan dari cup yang kita putuskan untuk tidak kita gunakan.

Baca Juga Tulisan Serupa : Niatnya Unboxing Album, Malah Jadi Unboxing Karbon

Baca Juga

Ilustrasi Pinterest
Picture of Tazkia Widamukti

Tazkia Widamukti

Introvert Akut, Anti Basa-basi.