Tiktok Penghancur Standar Kebahagian Anak Muda

Source: Pinterest

Aplikasi TikTok telah menjelma menjadi sebuah dunia paralel yang menawarkan ilusi kesempurnaan tanpa cela dan standar kebahagiaan semu. Aplikasi ini menyebabkan simulakra di mana hidup terlihat begitu mudah, indah, dan selalu dipenuhi dengan tawa bahagia. Semua orang seolah memiliki kekayaan tak terbatas yang bisa dihamburkan kapan saja mereka mau. 

Realita pahit kehidupan nyata seakan sama sekali tidak memiliki tempat di platform memabukkan tersebut. ​Standar kehidupan yang ditampilkan sungguh sangat tidak masuk akal bagi manusia biasa pada umumnya. Kita disuguhi pemandangan anak muda berusia awal dua puluhan yang sudah memiliki rumah mewah. 

Mereka mengendarai mobil sport keluaran terbaru sambil memamerkan tumpukan uang tunai di depan lensa kamera. Liburan ke luar negeri setiap akhir pekan seolah menjadi sebuah rutinitas wajib yang sangat wajar. Semua kemewahan ini dibingkai sempurna dalam durasi video singkat yang sengaja dirancang sangat adiktif.

Ketimpangan Antara Realita Ekonomi dan Dunia Maya

​Fenomena gemerlap ini berbanding terbalik secara drastis dengan kondisi ekonomi bangsa. Kita sedang menghadapi masa sulit di mana harga bahan pokok terus merangkak naik tanpa ampun. 

Lapangan pekerjaan semakin menyempit sementara jumlah lulusan baru terus bertambah setiap tahunnya dengan masif. Pemutusan hubungan kerja mengintai setiap saat bagaikan hantu yang siap menerkam dari dalam bayangan gelap. Kehidupan nyata sedang tidak baik-baik saja, namun layar ponsel justru menceritakan narasi kebohongan yang sebaliknya.

​Beban terberat dari distorsi realita ini jatuh tepat di pundak para pekerja muda kita. Bayangkan seorang pemuda yang harus bekerja keras menjadi staf minimarket dengan sistem kerja bergiliran. Ia berdiri berjam-jam merapikan ribuan barang di rak etalase dan menghadapi berbagai macam karakter pembeli. 

Kakinya terasa kebas dan punggungnya nyeri setelah memanggul kardus barang dari gudang penyimpanan belakang. Ia melakukan pekerjaan jujur yang sangat melelahkan ini demi mendapatkan gaji sebesar upah minimum harian.

​Saat jam istirahat tiba, ia duduk di sudut gudang yang sempit dan membuka aplikasi TikTok. Dalam hitungan detik, ia melihat seorang pemengaruh sebayanya sedang bersantai di sebuah resor mewah eksotis. 

Influencer tersebut bercerita tentang betapa mudahnya menghasilkan puluhan juta rupiah hanya dari dalam kamar tidurnya. Tiba-tiba, keringat dingin dan rasa lelah dari pekerjaan melayani pelanggan tadi terasa sangat memalukan. Rasa percaya dirinya hancur berkeping-keping dihantam oleh perbandingan sosial yang sangat tidak adil tersebut.

Tekanan Psikologis pada Pekerja Muda

​Perasaan tidak aman atau insecure perlahan merayap masuk dan meracuni pikiran sehat mereka secara perlahan. Mereka mulai merasa hidup mereka adalah sebuah kegagalan total yang sama sekali tidak patut dibanggakan. 

Depresi perlahan menyelimuti jiwa karena mereka merasa tertinggal sangat jauh dari teman-teman sebayanya di dunia maya. Mereka mengutuk nasib dan pekerjaan mereka yang dianggap terlalu rendah dan tidak bergengsi sama sekali. Padahal, pekerjaan yang mereka jalani adalah sebuah mata pencaharian halal yang seharusnya sangat mulia.

​Sebuah ironi besar terjadi jika kita mau melihat kehidupan mereka dari sudut pandang yang lebih objektif. Anak-anak muda yang merasa gagal ini sebenarnya memiliki kehidupan yang sangat layak dan sangat berkecukupan. 

​Namun, definisi tentang kehidupan yang layak kini telah dirusak dan dibajak oleh algoritma media sosial. Memiliki pekerjaan tetap dan perut yang kenyang tidak lagi dianggap sebagai sebuah pencapaian yang patut disyukuri. 

Standar baru yang ditetapkan oleh TikTok menuntut mereka untuk memiliki barang-barang bermerek dan gaya hidup estetis. Jika mereka tidak bisa memamerkan kopi mahal di akhir pekan, mereka dianggap sebagai kaum yang tertindas. Delusi massal ini telah membutakan mata hati kita dari nikmat kecil yang berserakan setiap harinya.

​Kesehatan mental generasi pekerja muda ini sedang dipertaruhkan di atas meja judi algoritma digital kapitalis. Perasaan sedih dan tidak berharga yang mereka alami bukanlah sebuah kelemahan karakter yang muncul secara tiba-tiba. Ini adalah hasil dari manipulasi psikologis terstruktur yang dirancang untuk membuat mereka terus merasa kurang. 

Semakin mereka merasa tidak aman, semakin lama mereka akan menggulir layar mencari validasi atau pelarian semu. Lingkaran setan ini mengurung mereka dalam sebuah sangkar kesedihan yang sama sekali tidak kasatmata.

Algoritma yang Memelihara Rasa Insecure

​Dampak destruktif dari aplikasi ini bukanlah sekadar isapan jempol atau ketakutan berlebihan dari generasi masyarakat tua. Sebuah laporan valid pada tahun 2022 dari Center for Countering Digital Hate (CCDH) membuktikan hal tersebut. Riset mereka menemukan bahwa algoritma TikTok merekomendasikan konten terkait depresi dan gangguan makan dalam hitungan menit. 

Pengguna baru yang rentan langsung dibombardir dengan video yang merusak citra tubuh dan kesehatan mental mereka. Bukti ilmiah ini menegaskan bahwa platform tersebut memfasilitasi krisis kepercayaan diri secara masif dan terstruktur.

​Tragedi sosial ini semakin bertambah kelam ketika perasaan insecure itu mulai menghancurkan kondisi finansial mereka sehari-hari. Demi mengejar ilusi kesuksesan yang fana, banyak pekerja muda rela berutang untuk membeli pakaian mewah. 

Layanan pinjaman daring dan fitur bayar nanti menjadi senjata makan tuan yang menjerat leher mereka erat-erat. Gaji upah minimum mereka habis tidak tersisa hanya untuk membayar cicilan demi sebuah gaya hidup palsu. Mereka rela menahan lapar di kehidupan nyata asalkan terlihat sangat kaya raya di dalam layar gawai.

​Kita perlahan kehilangan generasi pekerja keras yang tangguh dan memiliki rasa bangga terhadap profesi asli mereka. Media sosial kini mengukur martabat sebuah pekerjaan dari seberapa bagus seragamnya ketika direkam dalam sebuah video.. 

Seorang pramusaji atau staf gudang sering kali menyembunyikan identitas pekerjaannya karena takut mendapat cibiran sosial maya. Rasa malu yang tidak berdasar ini adalah racun mematikan yang membunuh semangat juang dan etos kerja. Padahal, tanpa kehadiran para pekerja kasar dan pelayan jasa, roda perputaran ekonomi kota akan langsung lumpuh.

Pada hakikatnya, manusia tidak hidup untuk terus-menerus saling membandingkan satu sama lain tanpa henti. Setiap individu memiliki garis awal, rintangan jalan, dan garis akhir yang sangat unik serta begitu personal. 

BACA JUGA : Cinta Ditolak Stand Up Comedy Bertindak 

Melawan Standar Kesuksesan Palsu di Dunia Maya

Menilai kesuksesan diri sendiri menggunakan penggaris orang lain di TikTok adalah sebuah tindakan menyakiti diri sendiri. Tidak ada piala penghargaan yang akan diberikan kepada mereka yang hidupnya terlihat paling estetis di dunia maya. Pada akhirnya, kita semua harus kembali menghadapi realita membayar tagihan listrik dan biaya kehidupan bulanan.

​Mari kita hentikan sejenak segala kegilaan ini dan mencoba melihat dunia dengan mata telanjang tanpa filter. Tidak ada yang salah dengan menjalani sebuah kehidupan yang biasa-biasa saja dan cenderung terasa repetitif membosankan.

Memiliki gaji yang hanya cukup untuk menabung sedikit setiap bulannya bukanlah sebuah dosa yang tidak terampuni. Bangun pagi, bekerja dengan jujur, lalu pulang dengan selamat adalah sebuah kemenangan besar yang sangat nyata. Kesederhanaan adalah bentuk kemewahan baru yang paling sulit dicapai di tengah era pamer kekayaan artifisial ini.

​Untuk Anda yang sedang merasa lelah karena terus berlari mengejar bayangan semu di dalam layar ponsel. Ketahuilah bahwa sebagian besar hal yang Anda lihat di sana hanyalah sebuah panggung sandiwara yang disutradarai. Banyak dari mereka yang terlihat kaya sebenarnya sedang tenggelam dalam lautan utang yang tidak bisa dibayar. Kebahagiaan tidak pernah bersembunyi di balik tombol suka, komentar pujian, atau jumlah penonton video yang viral. Ia selalu ada di dalam rasa syukur atas napas kehidupan yang masih setia berhembus hingga detik ini.

​Nilai seorang manusia tidak akan pernah merosot hanya karena ia tidak mengenakan pakaian dari desainer ternama. Kedalaman jiwa dan kualitas karakter jauh lebih berharga daripada koleksi barang pamer yang berjejer rapi. 

Merebut Kembali Kendali dari Algoritma

Pekerja yang meneteskan keringat demi menghidupi keluarganya adalah pahlawan sejati yang tidak membutuhkan panggung media sosial. Kehormatan mereka terbentuk dari ketekunan dan kesabaran dalam menghadapi kerasnya realita aspal jalanan setiap harinya.  Oleh karenanya, ​edukasi literasi digital kini menjadi sebuah kebutuhan yang sangat mendesak bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Kita harus mengajarkan generasi muda cara menyaring informasi dan membedakan antara realitas dengan konten promosi belaka.

Kesadaran kritis ini adalah perisai utama untuk melindungi akal sehat dari gempuran standar hidup yang fiktif. Tanpa adanya kewarasan berpikir, bangsa ini hanya akan menghasilkan generasi pemimpi yang rapuh dan mudah patah semangat. Masa depan kita terlalu berharga jika hanya digantungkan pada ilusi popularitas di dunia maya yang fana.

​Sudah saatnya kita merebut kembali kendali atas pikiran dan kebahagiaan kita dari tangan perusahaan teknologi pencari laba. Jangan biarkan algoritma dingin mendikte bagaimana cara kita seharusnya merasakan dan menjalani kehidupan nyata yang singkat ini.

Tutup aplikasi yang hanya menjadikan anda merasa buruk, dan mulailah tersenyum pada pantulan diri di cermin kaca. Rangkullah segala ketidaksempurnaan dan jalan berliku yang sedang Anda tempuh hari ini dengan dada yang lapang. Kehidupan yang sesungguhnya selalu terjadi di luar jangkauan sinyal internet dan terbebas dari kilauan cahaya kamera.

Penulis : Jovi Fernando Setiawan

Editor : Amanina Rasyid Wiyani

BACA JUGA : Culture Shock Orang NTT yang Kuliah di Surabaya: Dari Dicuekin Warga Hingga Perbedaan Kultur Pendidikan

 

Baca Juga

Picture of Jovi Setiawan

Jovi Setiawan

Jovi Fernando Setiawan, seorang pria kelahiran 1 April 2003 di Jepara yang di waktu luang-nya suka untuk menulis sastra dan bermusik, setelah lulus dari SMA Negeri 02 Ungaran dia bekerja di Alfamart dengan jabatan terakhir sebagai Assistance Chief Of Store selama 3 tahun, namun memutuskan resign di karenakan masalah kesehatan dan sekarang bekerja di 'SEKUKUSAN' Desa Wisata Lerep sebagai pemandu wisata sambil menempuh pendidikan Bahasa Inggris (S1) di Universitas Terbuka.