Jika menulis soal rumah, aku teringat pada novel garapan J. S. Khairen yang terbaru. Judulnya sama, yakni Rumah. Belum kubeli dan kubaca. Namun, sampul berwarna gabungan antara oranye dan cokelat, dengan penampakan isian ruangan kerap berseliweran di lini masa Instagramku.
Lalu kubaca sekilas, seperti sinopsis novel itu, ataupun review yang telah dibagikan di lini media sosial. Perlahan aku mulai tahu kulitnya. Nama tokoh utamanya Ria, umur 27 tahun. Tugasnya melayani traveling tamu VVIP dengan berbagai permintaan yang aneh-aneh. Dia sudah berkeliling ke penjuru dunia, bahkan ke luar angkasa. Saat ini dia ingin pulang, namun ia tak temukan rumah. Menampung hati yang patah, ini tentang kisah rumah yang tak ramah.
Sontak aku kaget, bagaimana bisa begitu mirip denganku. Nama, umur, dan apa yang sedang kucari saat ini juga sama. Benar-benar sama persis, tapi ada yang berbeda. Aku tidak pernah berkeliling dunia menemani tamu VVIP dengan berbagai hal yang di luar nalar, ataupun ke luar angkasa. Akan tetapi, aku telah berkeliling ke pelosok timur Indonesia, di Papua. Benar benar pelosok di kampung yang masuk kategori 3T bahkan 4T.
Di Papua, hampir empat tahun kuhabiskan waktu. Dari satu kabupaten ke kabupaten yang lain. Namun, dengan kondisi yang sama—gelap dan susah akses, baik secara transportasi, sinyal, ataupun yang lain. Agak kaget saat pertama kali datang, penyesuaian ini dan itu. Apalagi soal malarianya. Ada sebuah mop atau lelucon di Papua yang lucu, tapi miris menurutku. “Belum ke Papua kalau belum malaria.” Bisa-bisanya perihal sakit seperti mau mati ini dibuat jadi patokan.
Tapi, kutemukan rumah yang aman dan nyaman selama di sini. Meskipun jauh dengan harus menempuh berjam-jam menggunakan perahu Johnson. Dengan berbagai keterbatasan yang ada di lokasi tugas. Apakah karena sapaan hangat masyarakat Papua? Atau karena gelap malam sehingga dengan gampangnya aku melihat Milky Way? Apa karena ini tempat baru yang tak menyimpan masa lalu? Ah, aku juga kurang tahu pasti. Tapi, rasanya selama di sini membuatku merasa tenang. Rasanya seperti rumah.
Lain halnya berada di tempat yang katanya rumah, jika sesuai dengan alamat KTP. Entah kenapa rasanya begitu menyesakkan. Hubungan dengan keluarga yang dingin. Komunikasi baik ke ibu dan bapak yang kurang baik. Bapak tiri lebih tepatnya. Mungkin aku masih terngiang luka-luka pengasuhan masa kecil dulu. Rasanya masih agak menyakitkan untuk diingat.
Mungkin juga karena kondisiku sekarang yang menjadi bagian dari sandwich generation. Biaya kuliah adik menjadi tanggunganku. Pengeluaran rumah menjadi tanggunganku. Lalu muncul pertanyaan—atau lebih tepatnya tuntutan—kapan aku akan menikah? Hei, dengan beban finansial dan emosional yang masih berat ini bagaimana mungkin bisa begitu.
Lalu, tiba-tiba aku terpikirkan dengan tempat tugasku kembali, seolah di sana kutemukan ketenangan yang namanya rumah. Tenteram, otak tidak Lelah, seolah bisa menarik napas lega barang sebentar. Haruskah aku kembali ke sana? Atau haruskah mulai kubaca buku J. S. Khairen itu? Mungkin di sana ada kunci jawaban atau navigasi peta di mana rumahku.
