Pengalaman Jadi Admin Jurnal, Ketika Mahasiswa Lebih Percaya Joki daripada Website Resmi

Beberapa perguruan tinggi di Indonesia menetapkan publikasi artikel ilmiah sebagai syarat kelulusan mahasiswa. Tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa sebab penerbitan artikel membutuhkan proses yang cukup panjang. Selain itu, ternyata tidak semua mahasiswa memahami proses menerbitkan artikel ilmiah. Kenyataan tersebut saya temui langsung selama menjadi tim pengelola jurnal.

Sudah lebih dari satu tahun saya nyemplung menjadi tim pengelola jurnal. Salah satu tugas saya menjadi perantara antara penulis dan tim jurnal.Oleh karena itu, saya mencantumkan nomor WhatsApp pribadi pada setiap pemberitahuan kepada penulis. Pekerjaan ini cukup menyenangkan karena saya menjadi paham seluk-beluk proses penerbitan manuskrip menjadi artikel jurnal.

Bulan April dan Oktober ini menjadi bulan yang sibuk karena pada bulan tersebut, jurnal kami menerbitkan artikel. Apalagi bulan Oktober ini, ada banyak manuskrip yang dikirim ke jurnal kami sehingga tim jurnal bekerja secara intens. Seperti biasa, teman saya mengirimkan respons terhadap penulis atas setiap penerimaan dan penolakan terhadap manuskrip. Tak lupa juga dia mencantumkan narahubung jurnal pada surel yang dikirim.

Awal Mula Kecurigaan

Beberapa jam setelah teman saya mengirimkan surel kepada para penulis, saya mendapatkan pesan berupa tangkapan layar berisi penolakan dari jurnal kami. Penyebabnya adalah penulis menulis artikel yang tidak sesuai dengan pedoman jurnal. Penulis yang ternyata seorang mahasiswa tersebut mempertanyakan isi surel tersebut. Awalnya, saya mengira dia tidak paham kalau artikelnya ditolak sebab penolakan tersebut ditulis dalam bahasa Inggris. Setelah saya jawab secara singkat saya pikir urusan sudah selesai.

Ternyata pesan tersebut terus berlanjut dan membuat saya semakin penasaran. Mahasiswa tersebut menjelaskan bahwa dirinya telah melakukan pembayaran, lalu bagaimana kelanjutan dari pembayaran artikel tersebut? Kasus seperti ini terasa sangat ganjil karena tim jurnal tidak pernah meminta penulis untuk membayar sebelum manuskripnya dinyatakan diterima. Oleh karena itu, saya meminta bukti pembayarannya.

Ia kemudian mengirimkan 4 bukti transaksi pembayaran, di sana tertuju kepada satu nama. Nama yang saya bahkan tidak pernah mendengarnya sehingga jelas bukan bagian dari tim jurnal. Tiga bukti pembayaran tersebut masing-masing 430 ribuan dan satu transaksi 800 ribu-an. Padahal biaya publikasi di jurnal kami hanya Rp400.000,00. Tak kalah penting, dia juga memiliki LoA yang seolah-olah berasal dari jurnal kami.

Pengakuan dan Praktik Joki Jurnal

Tentu saja hal tersebut membuat saya geram karena adanya penipuan dan pemalsuan dokumen. Hingga akhirnya mahasiswa mengaku bahwa ia menggunakan jasa joki untuk memenuhi syarat wisudanya. Ada 3 artikel yang dikirim, ketiganya sudah dibayar dan mendapatkan LoA dari tukang joki tersebut. Dokumen LoA dibuat seolah-olah itu nyata, ada tanda tangan palsu dosen saya yang dibubuhi juga dengan cap kampus.

Ketika saya tanyai lebih lanjut di mana ia menemukan jasa joki, mahasiswa tersebut mencari jasa menulis artikel di Instagram dan X. Sayangnya, sampai mahasiswa menghubungi tim jurnal tukang joki tersebut belum menampakkan diri. Ia semakin resah karena sudah membayar sedemikian banyaknya, ternyata ditipu.

Mahasiswa tersebut kemudian meminta bantuan kepada saya agar manuskripnya dapat terbit. Tentu saja hal ini sulit karena ada banyak artikel yang harus mengantre untuk diseleksi. Apalagi artikel tersebut tidak memenuhi syarat. Setelah itu, kami juga mengecek ulang manuskrip yang dikirimkan.

Hal yang lebih mencengangkan, yaitu antara judul yang ada pada sistem OJS dan file yang terlampir saja sudah berbeda. Ini sebuah kengawuran yang sangat payah. Secara administrasi saja sudah tidak lolos. Semakin membuka file manuskripnya, semakin tidak karuan isi di dalamnya. Data sangat sedikit, bahkan sitasi pada pendahuluan hanya ada 2.

Padahal yang bersangkutan sudah semester akhir dan akan wisuda sebentar lagi. Mahasiswa juga berasal dari prodi yang erat kaitannya dengan keterampilan menulis artikel ilmiah. Kondisi seperti itu tentulah sangat memprihatinkan. Bidang keilmuan yang seharusnya ia kuasai malah beralih tanggung jawab kepada orang lain yang berujung pada penipuan.

Mungkin karena masih dalam trauma ditipu, ia mempertanyakan kembali kepada saya apakah benar-benar dari tim jurnal. Ia juga mempertanyakan alamat jurnal kami, padahal tukang joki itu tidak menduplikat website kami. Berarti dia belum sempat mencari website jurnal kami. Biaya publikasi juga masih dipertanyakan, padahal informasi umum itu sudah tersedia di website jurnal kami.

Hal yang Perlu Menjadi Perhatian Mahasiswa

Ada beberapa hal yang harus mahasiswa ketahui sebelum mengirimkan manuskripnya ke jurnal. Pertama, mereka harus mengetahui jurnal tujuannya, tentunya sudah paham alamat jurnalnya. Kedua, pahami informasi umum pada jurnal. Penulis sudah tidak perlu mempertanyakan biaya publikasi, tempat, dan waktu terbit karena semua itu tertulis di website.

Informasi tersebut seharusnya menjadi bahan pertimbangan bagi penulis untuk mengirimkan naskahnya. Ketiga, jika ada keraguan dalam mengirimkan artikel kirimkan ke jurnal yang sudah bereputasi (bisa mengecek melalui Sinta). Keempat, penulis perlu memahami proses penerbitan artikel jurnal yang melalui beberapa kali pengecekan secara ketat. Penulis juga harus merevisi naskahnya berdasarkan masukkan dari reviewer jurnal. Oleh sebab itu, sangat kecil kemungkinan jurnal yang bereputasi cepat dalam menerbitkan LoA kepada penulis.

Kasus tersebut menjadi pembelajaran bahwa proses menuliskan hasil penelitian tidaklah instan. Fenomena joki artikel semakin marak di media sosial, apalagi dengan iming-iming cepat terbit tentunya mencederai dunia publikasi ilmiah. Mereka bahkan memanfaatkan kebingungan mahasiswa sebagai ladang penghasil uang dan dengan tega melakukan penipuan.

Maraknya joki ini juga menjadi bukti bahwa masih banyak mahasiswa yang belum memahami proses penerbitan artikel jurnal secara komprehensif. Mahasiswa juga harus memerlukan kecakapanliterasi digital agar tidak mudah terpedaya oleh modus penipuan. Sosialisasi dan pelatihan mengenai penerbitan artikel jurnal juga semestinya menjadi penguatan utama agar mereka mampu membedakan antara layanan resmi jurnal dan modus penipuan berkedok publikasi ilmiah.

Penerbitan artikel jangan sampai dijadikan ajang kelengkapan administratif saja. Akan tetapi, dapat dijadikan sebagai proses ilmiah seorang akademisi. Dosen pembimbing di sini berperan penting untuk memberikan arahan kepada mahasiswanya agar tidak menempuh jalur instan. Tim jurnal kami juga terus berbenah agar kejadian serupa tidak terulang dengan menambahkan beberapa informasi tambahan di website.

Editor: Amanina Rasyid Wiyani

Baca Juga

Picture of Aprilia Arifah

Aprilia Arifah

Pengajar dan pengelana